
Wulan tampak duduk di sebuah meja sambil menikmati kudapan di hadapannya.
Meski begitu, sudut matanya terus mengawasi Bianca yang tampak asyik bercakap-cakap bersama sang pemilik acara, Monica Darmawan pada jarak yang cukup jauh dari pendengaran Wulan. Meski begitu gadis itu tidak peduli dengan apapun pembicaraan mereka, pembicaraan yang mungkin tidak dia mengerti. Atau mungkin justru yang akan membuatnya terjebak dalam situasi yang rumit.
Dibanding harus terlibat dengan perbincangan kedua wanita itu Wulan lebih memilih duduk sendirian di antara tamu-tamu lainnya yang jelas berasal dari kalangan high class.
Wanita-wanita dengan gaun gaun yang indah dan tampak begitu anggun.
Para pria dengan setelan jas yang rapi dan sangat berkelas.
Hmmm, dia merasa cukup beruntung memakai dress pendek itu hari ini, tepat seperti perkiraannya.
Meski jauh lebih sederhana dibanding tamu yang lainnya tapi setidaknya itu tidak memalukan dan membuatnya terlihat konyol karen salah kostum kan?
"Tante, kak Arya nggak Dateng?" Tanya Bianca di antara percakapan mereka.
"Tante sudah minta dia untuk datang, tapi dia nggak jawab apapun. kamu tahu sendiri anak itu susah kalau Tante ajak bicara" jawab Monica menghela nafas panjang.
"Bianca udah lama banget nggak ketemu kak Arya Tante" kata gadis itu.
"Jangankan kamu bi, Tante saja susah kalau mau ketemu dia. Sejak dia bilang ingin hidup mandiri dan pindah ke kota ini, Tante nggak pernah bisa ketemu sama dia. Bahkan sampai Tante ngurus cabang baru disini, kami cuma ketemu sebentar beberapa hari yang lalu" celoteh Monica mengingat kelakuan putranya itu.
"Jadi kak Arya ada di kota ini juga Tante?? Kalau tahu gitu Bianca pasti cari, kangen banget deh sama kak Arya" ucap Bianca sambil matanya tampak berbinar.
"Iya, ahh anak itu. Semoga dia mau datang hari ini" jawab Monica menggelengkan kepalanya.
***
Seorang lelaki berpakaian sama formalnya dengan para tamu yang bertugas sebagai MC acara siang itu tampak mempersilahkan Monica Darmawan sang empunya acara untuk memberikan kata sambutan.
Wanita paruh baya dengan rambut yang mulai sedikit dihiasi uban itu tampak berjalan anggun menuju panggung acara, dengan disorot begitu banyak kamera para pewarta yang sudah siap bersedia sedari pagi untuk mengabadikan jalannya acara mewah siang itu.
Monica tampak mengedipkan matanya saat menatap Bianca yang mulai duduk di samping Wulan.
Gadis itu membalas dengan menyunggingkan senyuman, senyuman yang dalam yang hanya bisa dimengerti oleh kedua wanita itu.
__ADS_1
"Para hadirin yang terhormat, begitu banyak dukungan yang di berikan kepada saya selama ini dalam mengembangkan bisnis yang sudah sejak lama saya bangun. Hingga pada hari ini dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan telah dibuka dengan resmi cabang baru MonDa boutique" ucap Monica dengan penuh kebanggaan.
"Dan....hari ini merupakan hari keberuntungan bagi saya dan kita semua, merupakan kehormatan dapat menerima seorang tamu yang luar biasa, nona Wulandari yang merupakan tunangan dari direktur utama Hartono jaya, tuan Jason Hartono" ucap Monica dengan penuh semangat berapi-api.
Semua hadirin tampak bingung dan terkejut atas apa yang diucapkan oleh Monica.
Kecuali Bianca yang tampak tersenyum lebar sambil bertepuk tangan paling keras. Sementara wajah Wulan tampak pucat pasi, seolah aliran darahnya berhenti mengaliri wajahnya.
"Dan akan menjadi suatu kehormatan yang luar biasa jika nona Wulan bersedia berdiri disini bersama saya untuk memberikan beberapa patah kata" ucap Monica sambil menatap lurus kepada Wulan yang membeku di tempat dia berada.
Gadis itu tidak pernah membayangkan akan seperti ini, ini mengerikan.
Apa yang bisa dia lakukan, bukan seperti ini rencananya. Dia harus apa???
Pikirannya buntu, sekeras apapun dia mencoba menemukan solusi, tapi apa yang bisa dia lakukan???
Wulan menggeleng sambil menggerakkan tangannya untuk menolak.
Tapi tentu Bianca tidak tinggal diam begitu saja.
"Tapi bi, aku nggak bisa" elaknya.
"Bisa, pasti bisa. Masa cuma sambutan sedikit aja nggak bisa, bukannya udah sering kan presentasi waktu kuliah" ucap Bianca sambil tersenyum licik yang tidak Wulan sadari.
"Aku...tapi aku..." Wulan benar-benar tidak bisa.
Tapi tatapan seluruh hadirin di ruangan itu benar-benar tertuju hanya pada dirinya.
Semua orang mulai berbisik-bisik entah mengatakan apa tentang dirinya.
Lagi-lagi yang bisa dia lakukan hanya menggeleng dan menggeleng.
"Wulan, semua orang nungguin kamu. Kamu nggak mau kan reputasi Jason jadi jelek karena kamu menolak hanya untuk memberikan sedikit sambutan???" Ucap Bianca sinis.
Benar apa yang diucapkan Bianca, dia tidak mungkin mempermalukan Jason dengan menjadi sikap penolakannya saat itu, terlebih beberapa media sedang di area itu untuk meliput.
__ADS_1
Tapi apakah Wulan mampu? Jangankan untuk berbicara di depan orang-orang penting dan kalangan sosialita seperti saat ini.
Lomba pidato antar murid kala dirinya duduk di bangku sekolah dasar saja tidak berani dia ikuti.
'aduuuuhhh gimana iniiii???' bisik hatinya kacau balau.
"Wulaann, cepetan! Jangan bikin orang-orang menunggu lebih lama. Itu akan memperburuk nama Jason kalau kamu menolak" ucap Bianca lagi mendesak.
Wulan mulai bangkit dari duduknya, dengan gemetar gadis itu mengambil langkah untuk maju.
Tubuhnya menegang karena takut, gugup dan bingung bercampur menjadi satu.
Dia merasakan ratusan pasang mata menatap tajam padanya, hanya padanya.
Semua seolah mencari tahu, ingin menguliti dirinya mencari tahu segala hal yang ingin mereka ketahui.
Wulan berhenti sejenak, menghela nafasnya yang terasa berat sambil memejamkan matanya beberapa detik. Hatinya terus merapalkan doa, berharap Tuhan mau membantunya sekali lagi untuk melewati kejadian tak terduga semacam ini.
Suara tepuk tangan terdengar bergemuruh menggema di dalam ruangan itu, tepat ketika Wulan sampai di panggung dan berdiri disamping Monica.
Gadis itu benar-benar pucat, tangannya yang dingin saling bertautan di balik punggungnya.
Kakinya bergerak kecil berharap dapat mengusir kegelisahan yang kian menjadi di dalam dadanya.
Seorang lelaki pemandu acara tampak mengulurkan sebuah mikrofon lain kepada Wulan.
Gadis itu tampak ragu meraihnya. Matanya menyapu seluruh ruangan itu.
Wajah-wajah tamu undangan dengan ekspresi dan tatapan mata yang tampak berusaha menelanjanginya hingga ke tulang. Wajah-wajah yang terkejut, aneh dan tidak percaya sedang menatapnya.
Hingga matanya menangkap sebuah senyum lebar gadis cantik yang membuatnya harus berada pada situasi mengerikan ini. Bianca, gadis itu tersenyum, senyuman aneh yang belum pernah Wulan lihat.
Senyuman penuh kemenangan, tapi kemenangan atas apa??
Mau lanjut lagi nggak??? seperti biasa LIKE, KOMEN, VOTE DAN RATE dulu, beri hadiah koin juga boleh hehe..jangan lupa ya!!
__ADS_1
Semangat author karena adanya feedback dari kakak-kakak readers..jadi jangan pelit-pelit feedback komen dll ya.. 💖💖🙏🙏