
"Selamat siang semuanya, maaf saya terlambat" ucap seorang lelaki yang setengah berlari menuju ke panggung acara itu.
Semua mata menatap padanya, mata Monica tampak membulat sempurna menatap lelaki itu.
Wulan membeliakkan matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekaligus bingung, kenapa lelaki itu bisa ada disini?
"Mas Ibram!!" Lirih Wulan menatap lelaki yang berjalan cepat menuju tempatnya berdiri.
"Arya!!" Ucap Monica tampak terkejut, meskipun begitu gurat bahagia tampak di wajah paruh bayanya.
"Arya????" Gumam Wulan tidak mengerti.
"Maaf Arya terlambat ma!" Ucap lelaki yang jelas Wulan yakini adalah Ibram itu.
"Nggak papa sayang, mama bahagia sekali kamu disini, Mama nggak nyangka kamu mau datang" ucap Monica dengan mata yang berbinar.
Lelaki itu melirik sedikit kearah Wulan yang terkejut setengah mati, dari sorot matanya dengan jelas meminta gadis itu untuk mundur.
Apakah dia datang untuk menyelamatkan Wulan???
Lalu lelucon apa ini, kenapa Monica menyebut Ibram sebagai Arya??!!
"Mama nggak mau ngenalin Arya ke tamu mama?" Bisik Ibram di telinga ibunya tersebut.
Matanya masih mencuri pandang kepada Wulan yang mematung, dengan sebuah gerakan kepala lelaki itu jelas memberi kode agar Wulan segera turun dari tempat itu.
Wulan mengangguk meski masih terlihat dengan jelas kebingungan dari wajahnya.
Gadis itu perlahan mundur dan turun dari tempat itu disaat semua mata kini terarah pada lelaki berwajah oriental yang murah senyum itu.
"Tentu sayang, mama senang sekali akhirnya kamu mau terbuka dan dikenal oleh banyak teman dan relasi bisnis mama" balas Monica sambil menggenggam tangan putranya yang mendadak berubah tidak seperti biasanya.
"Para hadirin yang terhormat, perkenalkan putra kebanggaan kami, Arya Bramantyo Darmawan....."
Monica memperkenalkan anak lelaki yang selama ini tidak pernah sekalipun mau berurusan dengan bisnis ibunya apalagi ayahnya.
Lelaki itu tidak pernah sedikitpun berminat dengan gemerlap kehidupan kalangan jetset sebagaimana orang tuanya.
Sebagai seorang putra tunggal, Ibram digadang-gadang menjadi pewaris tunggal perusahaan dan semua aset keluarga Darmawan.
__ADS_1
Tapi pria itu lebih memilih mengabdikan dirinya untuk memberikan pendidikan anak-anak, ya sebagai seorang guru yang sudah lebih dari dua tahun dia geluti.
Kepergian adik perempuan satu-satunya ketika masih belia membuat lelaki bermata sipit itu menyukai anak-anak. Meski sesungguhnya ada alasan lain atas keputusannya itu.
----
Wulan melangkah turun, dari matanya dia menangkap dengan jelas Bianca tampak berdiri dari tempat duduknya melihat seluruh kejadian di stage tersebut.
Wulan mengambil langkah ke arah lain, dia tidak ingin kembali ke kursinya di samping bianca, gadis itu memilih berlari menuju arah toilet untuk menenangkan perasaannya, saat sebuah tangan tiba-tiba meraih lengannya.
"Tuan...bagaimana tuan bisa kesini" Gadis itu terpekik melihat wajah Jason.
"Aku menelepon kamu berkali-kali sejak tadi, untung aku mengaktifkan pelacak GPS di ponsel kamu" ucap Jason tampak panik.
"Maaf...maaf Wulan, kamu jadi harus seperti ini, semua gara-gara aku" lirih Jason sambil meraih tubuh gadis itu dalam pelukannya.
Wulan tak kuasa menahan lagi airmatanya yang menggenang sedari tadi.
Air matanya yang panas luruh begitu saja membasahi pipinya. Gadis itu tersedu, bahunya berguncang hebat, membuat rasa bersalah kian berlipat di hati Jason.
"Saya takut tuan.." lirihnya di sela-sela Isak tangisnya.
(Flashback) 30 menit sebelumnya...
Jason terus menekan angka-angka itu diponselnya, jelas panggilannya tersambung tapi sama sekali tidak diangkat.
Rasa takut dan panik mendadak menyerang pria itu.
Kenapa Wulannya tidak menjawab.
"Ah GPS" gumam pria itu sambil mengutak-atik sesuatu di layar ponselnya.
Mendadak dahinya mengernyit setelah tahu posisi gadis itu.
Dia yakin dan tahu dengan pasti saat ini pasti Wulan bersama Bianca. Jika tidak, bagaimana mungkin gadis polosnya itu berada di tempat seperti yang tertera di GPS nya.
Dengan secepat mungkin Jason melajukan kendaraannya menuju tempat dimana Wulan berada.
Dan saat lelaki itu melangkahkan kakinya masuk, semua sedang fokus menatap panggung.
__ADS_1
Beberapa bahkan tampak berbisik-bisik, apa sebenarnya yang terjadi di depan sana?
Lelaki itu menangkap sosok Bianca tengah duduk diantara tamu yang lainnya, bagaimana bisa gadis itu membuat Wulan berada di depan sana??
Jason yang menatap seluruh ruangan mendadak terkejut pada saat namanya di sebut melalui pengeras suara.
Ya, beberapa wartawan tampak mengajukan pertanyaan pada seseorang dengan menyebut-nyebut namanya.
Mata jason menangkap Wulan, gadis yang dia cintai itu tampak ketakutan dan kebingungan di depan sana.
Jason tidak tahan melihat pemandangan itu,dia melangkahkan kakinya untuk menuju pada Wulannya.
Tapi seseorang tampak lebih dulu menaiki panggung acara, seseorang yang sangat dia kenali.
Ibram???!!! Kenapa pria itu disana??!!
Jason tidak mengerti, kenapa lelaki itu juga ada disana? Apa hubungan Ibram dengan semua ini??
Dan, semua terjawab saat Monica Darmawan memperkenalkan lelaki itu sebagai putranya.
Jason mendadak benar-benar merasa dipecundangi, ternyata dia memperkerjakan seorang putra keluarga pengusaha kaya yang terkenal, apa motif dari lelaki itu sebenarnya??
Ahh, semua tidak lebih penting dari Wulannya saat ini. Gadis itu tampak melangkah pergi, dan Jason segera menyusul dengan cepat. Wulannya yang malang.
(Flashback off)
Haii... author senang sekali banyak yang suka cerita ini..
banyak yang support dan menanti kelanjutannya.
terimakasih juga yang sudah memberi masukan dan saran, author hargai ideΒ² nya..
Beberapa ada yang meminta untuk cepat pada poin utamanya, kesalahpahaman Wulan dan Jason untuk cepat disudahi.. author ngerti,pasti gemes ya...sama author juga.
Tapi... sebuah cerita tidak akan menarik tanpa konflik, dan pasti semua konflik akan mendapat solusinya satu persatu.
kalau konfliknya diakhiri artinya ceritanya juga berakhir dong.
hehehe, yaudah nantikan kelanjutannya ya??!! kita udah separuh jalan nih... SEMANGAT YA BIAR AUTHOR JUGA SEMANGAT!! ππππππ
__ADS_1