
Pagi itu Wulan bangun seperti biasanya, wanita itu melangkah turun ke arah dapur saat hari masih gelap.
Suara keran air terdengar jelas, bi irah tengah mencuci piring.
"Selamat pagi bi!" Sapa Wulan, membuat bi Irah menoleh.
"Selamat pagi nyonya" jawab wanita paruh baya itu dengan sopan.
Wulan mengernyit, entah mengapa tapi Wulan tidak suka dengan perubahan sikap bi Irah terhadap dirinya.
"Bi, Wulan bisa minta sesuatu sama bibi?" Tanya Wulan mendekat kearah bi Irah.
"Ya, nyonya!" Jawab bi Irah dengan raut wajah penasaran.
"Bibi nggak perlu panggil Wulan dengan sebutan nyonya. Maaf bi, tapi Wulan nggak suka bibi begitu, Wulan masih tetap sama seperti dulu nggak ada yang berubah" terang Wulan.
"Tapi, sekarang kan neng Wulan sudah jadi istri tuan" sergah bi Irah.
"Tapi Wulan nggak mau bibi berubah begini, cukup panggil Wulan saja. Nggak perlu nyonya-nyonya segala, ya bi! Wulan mohon!" Pinta Wulan pada bi Irah.
Wanita paruh baya itu tampak terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk dan tersenyum tipis.
"Terimakasih bi" kata Wulan.
"Bibi mau masak apa? Wulan bantuin ya!" Tanya Wulan lagi.
"Nggak usah neng, biar bibi saja" jawab bi Irah sungkan.
Bagaimanapun Wulan kini sudah menjadi istri dari majikannya.
Tidak elok rasanya jika dirinya berlaku terlalu santai terhadap nyonya rumah itu.
Meskipun bi Irah tahu dengan pasti, wulan bukanlah wanita seperti itu. Yang bisa berubah hanya karena status sosialnya mendadak berubah.
"Kenapa bi? Wulan kan biasa bantuin bibi sebelumnya. Dan lagi, Wulan pengen masak buat suami Wulan" jelas Wulan memohon.
__ADS_1
"Ya sudah, terserah neng aja," jawab bi irah.
--
Tak butuh berapa lama, semua masakan terhidang di meja.
Nasi goreng seafood lengkap dengan telur mata sapi dan lalapan.
Jus jeruk tertuang rapi di beberapa gelas.
Setelah semuanya beres Wulan kembali menaiki tangga, menuju kamarnya kembali hendak memanggil suaminya untuk turun dan sarapan, setelah itu akan membangunkan rayyan seperti rutinitasnya setiap pagi dulu.
"Mas, kita sarapan dulu yuk." Ucap Wulan sambil membuka daun pintu.
Wulan melongok, Jason sudah tidak ada di atas ranjang.
Terdengar suara gemericik air di kamar mandi, sepertinya suaminya itu tengah mandi.
Tak berapa lama jason muncul dari balik pintu kamar mandi, hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya.
Wulan terkesiap, dengan cepat wanita itu melempar pandangannya kearah lain.
"Mas, sarapan sudah siap setelah ini kita sarapan ya, aku mau bangunin Rayyan dulu." Kata Wulan sambil cepat-cepat berlalu. Menatap Jason dengan penampakan seperti itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya.
"Iya, sebentar lagi aku turun." Jawab Jason sambil mengambil stelan jas yang akan dia kenakan.
--
"Ray, bangun yuk kita sarapan dulu," bisik Wulan di telinga bocah kecil uang meringkuk mendekap guling itu.
Rayyan menggeliat sebentar, kemudian mengerjap dan menggosok matanya dengan punggung tangan.
"Bunda" kata Rayyan dengan suara serak, senyum di bibir kecil itu begitu menggemaskan.
Hati Wulan menghangat mendengar bocah kecil itu memanggilnya dengan sebutan bunda.
__ADS_1
Wulan telah menyayangi Rayyan sejak awal, kini rasa sayang itu kian bertambah seiring tanggung jawabnya menjadi sosok ibu bagi lelaki kecil di hadapannya itu.
"Mandi dulu yuk, setelah itu kita sarapan bareng sama ayah," bujuk Wulan dan dijawab sebuah anggukan dari Rayyan.
Bocah itu menegakan tubuhnya, rambut berantakan dan mata yang masih sesekali terpejam begitu menggemaskan.
Rayyan terduduk cukup lama sebelum akhirnya bangkit mengikuti Wulan ke kamar mandi.
Sepertinya bocah itu tengah berusaha mengumpulkan nyawanya.
Wulan tersenyum melihat tingkah 'putranya' tersebut.
Dia melambaikan tangannya, meminta si kecil Rayyan mendekat.
Dengan telaten Wulan menyiapkan air hangat dan semua alat mandi Rayyan, ya seperti biasanya.
Bedanya kali ini perannya bukan lagi seorang pengasuh, melainkan sebagai seorang ibu.
Selesai dengan acara mandi, kemudian Wulan menyiapakan pakaian untuk Rayyan.
Wulan teringat pertama kali bocah itu mengerjainya dengan baju Dino yang tidak sesuai keinginannya.
Bocah nakal itu telah berubah menjadi bocah manis, menggemaskan, dan penurut serta begitu menyayangi Wulan.
Lagi-lagi takdir Tuhan memang terlalu indah untuk bisa kita tebak.
"Nah siap, anak bunda sudah ganteng sekarang," Wulan mencubit sayang pipi gembul bocah itu.
"Kita sarapan yuk," gandeng Wulan pada bocah itu.
Rayyan mengangguk dengan tangan menggandeng mbak ulan kesayangannya, mbak ulan yang telah menjadi bunda yang tidak pernah dia miliki.
Andini memang ibunya, tapi kasih sayang dan cintanya tidak pernah bisa Rayyan rasakan.
Bocah kecil yang malang itu tidak tahu mengapa ibunya begitu membencinya, apa salahnya.
__ADS_1
Tapi kini tuhan mengirimkan ibu lain yang menyayanginya sepenuh hati, yang bersedia membalut lukanya dan menghapus air matanya.
💖💖💖