My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 76


__ADS_3

Sudah sejak pagi keluarga pak Slamet tampak sibuk.


Bu Siti dibantu oleh Wahyuni tampak sibuk menyiapkan makanan di dapur rumah mereka.


Itu terlihat dari asap yang mengepul keluar menembus bilik bambu yang mulai reyot dan bolong disana sini.


Hari ini akan menjadi hari yang penting, sekaligus hari yang mendebarkan untuk semua orang.


Wulan akan memberikan jawaban atas lamaran Jason.


Tapi, hingga saat ini hanya Wulan sendiri yang tahu apa yang akan menjadi keputusannya.


Bahkan kedua orang tuanya tidak ada satupun yang tahu, gadis itu tidak mau memberitahu mereka sebelum waktunya.


Wulan mempersiapkan dirinya di kamar, rasanya menegangkan sekali.


Jantungnya berdebar-debar sambil sesekali melirik jam di dinding kamarnya yang terbuat dari batu bata tanpa ada plaster semen.


Saat gadis itu mulai gelisah duduk dan bangun berulang kali di atas kasur kapuk miliknya yang mulai keras dan menipis, tiba-tiba suara klakson terdengar dari luar.


Kakinya melangkah dengan cepat, secepat degup jantung yang mendadak jadi tidak beraturan.


Benar, itu mobil Jason. Lelaki yang telah ditunggunya sejak tadi pagi buta.


Lelaki itu turun dari mobilnya, tampak jauh lebih baik dibanding sebelumnya.


Hanya beberapa bekas luka di beberapa bagian tubuhnya yang masih sedikit membiru. Sementara kakinya sudah lebih baik dan bisa berjalan sendiri tanpa bantuan Herman.


Dengan mengenakan pakaian yang sedikit lebih formal, dengan rambut yang disisir rapi.


Jason melangkah mendekat di dampingi Herman yang setia.


Seorang wanita ikut turun dari pintu samping pengemudi, wanita itu menggandeng bocah lelaki kecil yang membuat Wulan terbelalak tidak percaya.


"Mbak ulaaaan" bocah kecil itu berlari menghambur ke arah wulan yang tersenyum lebar.


"Den Rayyan" sambut Wulan merentangkan tangannya.


"Mbak ulan, lay kangen" ucap Rayyan sambil terus memeluk Wulan.


"Mbak ulan juga kangen banget" balas wulan mengeratkan pelukannya pada bocah berpipi gembul itu.


"Wulan, apa kabar?" Wanita yang wajahnya begitu familiar itu mendekat.


"Mbak indah" jawab Wulan menatap wanita yang selalu anggun tersebut.


Kedua wanita itu berpelukan sebentar, Wulan tidak menyangka Jason akan membawa mereka bersamanya.


Wulan terkejut sekaligus bahagia, ini adalah kejutan yang manis.


"Wulan" Jason tersenyum penuh arti menyapa kekasihnya itu.


Wulan mengangguk tersipu, pak Slamet ikut menyambut tamu yang telah mereka tunggu sedari tadi itu.

__ADS_1


Sang istri pun tergesa-gesa keluar bergabung menyambut mereka semua, kemudian mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Baik pak Slamet dan Bu Siti berkali-kali mengerutkan kening manakala mendengar Rayyan memanggil Jason sebagai ayahnya.


Itu berarti Jason adalah seorang duda beranak satu, setidaknya itulah yang mereka pikirkan.


Mengerti atas kebingungan yang terlihat di raut wajah sepuh kedua orang tua wulan, Jason memperkenalkan mereka semua.


"Kedua orang tua dan kakak saya sudah meninggal, itu sebabnya saya tidak membawa keluarga saya" terang Jason.


"Mereka berdua adalah orang kepercayaan saya sekaligus sudah saya anggap keluarga, sementara dia adalah keponakan saya, anak mendiang kakak saya pak, Bu" tambah Jason memperkenalkan indah dan Herman serta Rayyan, yang dijawab dengan anggukan kepala Bu Siti dan pak Slamet.


Rayyan tampak bersemangat asyik bercerita sendiri dengan Wulan sehingga tidak memperhatikan apapun yang Jason katakan.


Anak-anak terlalu polos untuk mengetahui rumitnya urusan orang dewasa.


Bocah itu begitu merindukan Wulan yang beberapa hari ini telah menghilang begitu saja.


"Jadi Wulan, seperti yang kita semua tahu. Kedatangan saya kesini untuk meminta jawaban atas lamaran saya kemarin" ucap Jason begitu serius menatap Wulan.


Wulan sedikit tersentak, inilah akhirnya.


Jason datang menagih janji, janji untuk memutuskan kelanjutan hubungan mereka.


Wulan tertegun sejenak, matanya melirik kesana kemari dan berhenti ketika menatap wajah polos di hadapannya yang tampak tidak mengerti apa yang tengah terjadi.


"Emmhh, jawaban saya tergantung dari Rayyan" ucap Wulan tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya pada bocah kecil lucu itu.


Membuat semua orang yang berada ditempat itu bingung.


"Nduk maksudnya apa?" Tanya Bu Siti tidak mengerti.


Dari sorot matanya, jasonpun terlihat tidak memahami maksud perkataan Wulan.


"Kalau Rayyan bisa menerima Wulan, maka jawaban Wulan iya. Tapi kalau Rayyan tidak bisa menerima Wulan, maka mungkin lebih baik tidak" jawab Wulan dengan yakin.


Karena memang itulah pertimbangan yang membuat hatinya masgul untuk menjawab sejak kemarin.


Rayyan berpikir bahwa Jason adalah ayahnya dan Andini jelas ibunya.


Maka apa mungkin tiba-tiba Wulan berada di antara kedua 'orang tua' nya? Apa itu tidak akan melukai perasaan bocah itu?


"Maksud kamu?" Jason tidak mengerti.


"Apa dia bisa menerima saya sebagai istri dari 'ayah' nya?" Jawab Wulan tersenyum.


Semua orang kini paham dan mengerti akan apa yang Wulan maksud.


Kecuali anak kecil dengan mata bulat yang jernih itu tampak kebingungan menatap semua orang.


Kenapa wajah-wajah dewasa itu terlihat serius?


Jason tampak menunduk dan berpikir sesaat, bagaimana melibatkan anak kecil itu untuk sebuah keputusan penting di hidupnya.

__ADS_1


Sebenarnya Jason bingung, bagaimana menjelaskan situasi ini? Apa mungkin Rayyan akan mengerti?


"Ray, sini..." Jason melambai, membuat si kecil Rayyan mendekat ke tempat dimana Jason duduk.


Lelaki itu meraih tubuh kecil kesayangannya itu, kemudian mendudukkannya di pangkuan.


"Ayah mau tanya sama Ray, boleh?" Tanya Jason sambil mengusap puncak kepala Rayyan dengan lembut.


"Boleh" jawab bocah itu mengangguk-angguk dengan mantap.


"Ray sayang nggak sama mbak Wulan? Emmm... Ray mau nggak kalau mbak Wulan jadi bundanya Ray?" Tanya Jason hati-hati, keringat mendadak membasahi dahinya. Ada kekhawatiran atas apa yang akan Ray ucapkan.


"Mbak ulan mau jadi bundanya lay?"


Bukannya menjawab, bocah itu malah menatap Wulan sambil bertanya.


Membuat jantung semua orang berdebar-debar, apakah bocah itu akan mengamuk?


"Emmhh,i...iya ka...kalau Rayyan mau, tapi kalau..."


"Yeeaaayyy asiiikkk, lay mau ayah. Nanti lay jadi punya dua ibu ya? Ada bunda ada mommy" sorak bocah itu membuat ucapan Wulan terpotong.


Semua orang mendadak tersenyum lega, terlebih Jason.


Rasanya paru-paru nya yang sedari tadi sesak mendadak begitu leluasa menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Kalau mbak ulan jadi bundanya lay, nanti nggak pelgi-pelgi lagi kan??" Tanya Rayyan begitu polos, membuat Wulan benar-benar merasa bersalah.


"Iya mbak ulan nggak akan ninggalin Ray, mbak ulan janji akan selalu sayang dan jagain Ray" jawab Wulan terharu.


"Lay juga sayang sama mbak ulan, nanti mbak ulan ikut pulang kan? Lalu kita main pelang-pelangan dinosaulus" kata Rayyan dengan mata yang berbinar.


Jason menatap pemandangan yang terjadi dihadapannya itu dengan bahagia.


Wulan tersenyum penuh arti dan mengangguk dalam ketika tatapan keduanya bertemu.


Seolah memastikan keputusannya, menjawab dengan yakin melalui tatapan matanya. Dia bersedia!


**


"Alhamdulillah kalau semua sudah setuju, jadi pernikahan ini akan dilaksanakan satu bulan lagi, begitu kan nak Jason?" Tanya pak Slamet setelah lamaran Jason resmi diterima.


Mereka langsung menentukan hari pernikahannya, Jason tidak ingin menunggu lebih lama.


"Benar pak, untuk semua persiapannya nanti akan dibantu dan diurus oleh sekertaris saya pak. Jadi bapak dan ibu tidak perlu terlalu repot" jawab Jason sambil melihat sekilas kearah indah.


Wanita itu mengangguk dan tersenyum, sebagai orang kepercayaan Jason selama ini, dia dan sang suami tentu tidak keberatan untuk membantu.


Dan rencananya akad nikah akan diadakan di kampung halaman Wulan, sementara untuk resepsi akan menyusul kelak di kota.


Dimana semua kolega dan klien serta kenalan Jason berada.


Pernikahan Wulan dan Jason tentu akan menjadi berita besar.

__ADS_1


Bukan hanya bagi kolega dan rekan bisnis, tapi terutama bagi orang-orang yang selama ini berada diantara mereka berdua.


__ADS_2