
"mbak, gimana malam semalam?" Goda Wahyuni pagi itu di dapur.
Gadis remaja yang masih mengenakan seragam itu tampak terkikik dan memasang wajah lucu.
"Kamu itu apa-apaan sih dek, masih kecil tanya begituan?!" Sungut Wulan dengan wajah cemberut.
"Yuni, kamu itu anak kecil tau apa?! Ndak usah gangguin mbakyumu, pikirin sekolah yang bener, sebentar lagi kamu ujian" sentak Bu Siti pada anak bungsunya.
Membuat gadis itu memajukan bibirnya kemudian ngeloyor keluar dari dapur.
Hanya menggoda begitu saja sudah diomelin.
"Gimana nduk semalem?" Tanya Bu siti membuat Wulan terlonjak terkejut.
Kenapa ibunya malah bertanya hal yang sama seperti adiknya barusan.
Ya Tuhan, kenapa orang-orang ini memalukan sekali. Memangnya Wulan harus menceritakan urusan ranjangnya.
"Gimana apanya Bu?" Tanya Wulan dengan wajah yang mendadak memerah malu.
"Apa suamimu bisa tidur nyenyak? Biasanya kan nak Jason tidur di tempat bagus. Apa bisa tidur di rumah kita yang jelek ini?" Terang Bu Siti.
"Oooohhh itu? Sepertinya bisa bu, kelihatannya ngantuk banget mungkin capek" jawab Wulan polos.
Sementara Bu Siti mengulum senyuman penuh arti. Haha, sampai kecapekan? Berarti luar biasa.
Bayangan akan segera menggendong cucu terbayang di benaknya.
Ya, itu lebih baik kalau anak dan menantunya bergerak cepat dan tokcer.
Sementara Jason tengah duduk di ruang depan dengan laptopnya.
Ya, meski baru saja menikah tapi lelaki itu tidak bisa begitu saja meninggalkan tanggung jawab pekerjaannya yang sudah sedikit terbengkalai sejak beberapa bulan terakhir, sejak kecelakaan yang menimpanya waktu itu.
Tangannya memang bekerja, meskipun otaknya tidak sepenuhnya terfokus disana.
Kantung matanya tercetak jelas, rasa lelah memang tidak seberapa dibanding rasa pusing akibat insiden atap bocor yang menghancurkan malam pertamanya.
Jangankan melanjutkan apa yang mereka mulai, tidur mendekap sang istri dengan damai saja tidak terwujudkan.
Kasur yang basah memaksa mereka tidur terpisah, Wulan tetap di tepian kasur yang masih kering.
Sementara Jason menggelar tikar di lantai yang tidak terbasahi oleh air hujan.
__ADS_1
Rasa capek akibat membenahi letak kamar yang sempit dan menyelamatkan benda-benda di kamar itu membuat akhirnya mereka menyerah dan membiarkan mimpi mendekap mereka masing-masing.
Jason menekan-nekan smartphone miliknya, kemudian mendekatkan benda pipih itu di telinganya.
"Herman, tolong cari orang untuk memperbaiki atap bocor"
(............)
"Iya, rumah Wulan lah, memangnya rumah siapa lagi disini"
(...........)
"Hmm, terimakasih"
Jason menarik nafasnya kasar, mengusap wajahnya dengan perlahan.
Pak Slamet tampak mendekat ke arahnya, kemudian duduk disamping menantunya itu.
"Jadi rencananya pulang ke kotanya nanti sore, nak Jason?" Tanya lelaki sepuh yang bersahaja itu.
"Iya pak, apa tidak sebaiknya bapak, ibu dan Yuni ikut juga sekalian nanti sore?" Kata Jason.
"Ndak usah nak, besok saja kalau sudah mendekati hari H resepsi kalian,biar kami kesana naik kereta" jawab pak Slamet sambil menghisap dalam-dalam rokok tembakaunya.
"Ya sudah, bapak manut saja" jawab lelaki tua itu tersenyum dan mengangguk-angguk.
Bu Siti dan Wulan menyiapkan sarapan di meja depan, tempat Jason dan pak Slamet tengah berbincang.
Maklum mereka tidak memiliki meja makan apalagi ruang makan.
Hanya sebuah meja kecil dengan tudung saji kecil yang biasanya menjadi tempat untuk menyimpan lauk di dapur.
Sebakul nasi yang masih hangat mengepul, semangkok besar sayur lodeh dengan tempe goreng dan ikan kembung goreng, serta sambel korek.
Hidangan yang sederhana namun sangat menggugah selera.
Membuat cacing di perut Jason berteriak-teriak.
Wulan menyiapkan piring nasi lengkap dengan lauk pauk untuk suaminya.
Mereka berempat sarapan bersama sambil sesekali berbincang.
Wahyuni sudah berangkat sedari tadi ke sekolah.
__ADS_1
Kedua mertuanya yang sudah terlihat sepuh namun tetap harmonis.
Berada di tengah-tengah keluarga yang sederhana namun begitu hangat. Suasana yang sangat Jason rindukan.
Sudah bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali dirinya dan sang kakak beserta kedua orangtuanya sarapan bersama.
Saat itu dirinya masih kecil saat mamanya masih hidup.
Bayangan-bayangan itu berkelebat di matanya, membuat tanpa sadar kedua matanya mengembun.
"Maaf ya nak Jason, tempat kami cuma begini adanya. Mungkin nak Jason Ndak bisa tidur nyenyak ya disini, hehe" ucap Bu Siti.
"Ah, nggak kok Bu, saya tidur nyenyak. Disini nyaman" jawab Jason sambil menyesap teh di cangkirnya.
"Oh iya, Bu pak, mungkin sebentar lagi akan ada orang yang akan membetulkan atap yang bocor di kamar Wulan. Tadi saya minta Herman untuk cari tukangnya" kata Jason kepada kedua mertuanya.
"Lhoh? Kamar Wulan bocor to?" Tanya Bu siti.
"Iya bu, malah banyak kok, semaleman kita geser-geser barang. Kasur Wulan aja basah tuh" sahut Wulan.
"Ohh"
Kedua orang sepuh itu tampak manggut-manggut mengerti, beberapa saat kemudian Bu Siti terkekeh sendiri.
Membuat semua orang mengernyitkan dahi tidak mengerti.
'ternyata capek karena angkut-angkut barang. Kirain capek yang lain' batin wanita paruh baya itu sambil masih tergelak dan menggelengkan kepalanya.
Author notes:
maaf lambat update ya readersku, beberapa hari terakhir tempat saya mendadak zona merah.
jangankan nulis, mikir yang lain saja jadi ngeblank.
ya, emang saya orangnya overthinking soal urusan covid ini.
maklum saya punya baby, jadi kadang suka panik gitu.
tapi demi menebus keterlambatannya author update tiga bab langsung.
oh, iya maapkeun author yang gak bisa nulis bagian 21+ dengan apik, dan membuat Kaka readers kecewa. karena jujur, author malu sendiri kalau disuruh nulis yang begituan.maafkan ya..
😜💖💖🙏
__ADS_1