My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 50


__ADS_3

Kita lanjut ya zheyeng, author ingetin jangan lupa komen dan like di setiap episodenya, jangan lupa vote juga ya..


thank you 💖


"ayah nggak Keja?" Tanya si kecil Rayyan di sela-sela makan pagi mereka.


Wulan melirik sebentar kearah Jason, itu juga menjadi pertanyaan Wulan sedari tadi.


Adalah hal yang terbilang langka mendapati tuannya itu berada di rumah di pagi hari seperti ini. Bukannya tidak pernah, tentu saja pernah hanya saja itu sangat jarang Jason lakukan.


"Enggak, hari ini ayah mau di rumah, temenin Ray belajar" jawab Jason sambil mengelus rambut keponakannya itu.


"Tapi lay belajal sama om gulu ibam sama mbak ulan" jawab Rayyan dengan polos.


"Memangnya kalau ayah ikut temenin Ray belajar kenapa? Nggak boleh ya?!" Tanya Jason pada si kecil Rayyan, tapi beberapa saat kemudian melempar pandangannya pada Wulan.


"Boleh kok ayah" jawab Rayyan mengangguk dengan mulut masih penuh dengan nasi.


Wulan menunduk, tingkah Jason pagi ini terbilang aneh tidak seperti biasanya.


Tapi Wulan tidak mau bertanya apapun meski sejujurnya rasa penasaran memenuhi hatinya, sebenarnya ada rasa senang terselip ketika tahu Jason tetap di rumah hari ini, dia akan lebih sering melihat tuannya itu hari ini.


Gadis yang aneh, mencintai dalam kebimbangan. Dengan perasaan yang labil. Sebenarnya Wulan hanya bingung harus bersikap seperti apa setelah semua yang terjadi diantara mereka.


***

__ADS_1


"Selamat pagi" sapa Ibram ketika lelaki itu mulai masuk ke kediaman Jason diiringi bi Irah yang sebelumnya membukakan pintu untuknya.


"Selamat pagi" jawab Jason dengan datar.


Air muka Jason mendadak berubah sedikit mengeras, dengan alis yang bertaut.


Siapapun tahu arti tidak senang terpancar dari ekspresi wajahnya itu. Tapi itu sama sekali tidak mempengaruhi Ibram.


Lelaki itu masih bersikap santai dan murah senyum seperti biasanya.


"Om gulu hali ini ayah mau ikut belajal boleh?" Tanya Rayyan polos dengan tatapan menggemaskan.


"Tentu, kenapa enggak" jawab Ibram sambil mengacak poni lelaki kecil itu.


Hari ini Rayyan begitu gembira, orang-orang favoritnya berkumpul bersama-sama menemaninya belajar.


Guru yang kini menjadi idolanya, membuat si kecil Rayyan bercita-cita suatu hari menjadi seseorang yang keren seperti Ibram.


Tanpa dia tahu ketiga orang dewasa di sampingnya dengan benak pikiran masing-masing yang terhubung oleh suatu hal yang tidak menyenangkan.


Sebuah hubungan dengan melibatkan perasaan yang rumit.


Tidak banyak yang dibicarakan, atau lebih tepatnya Jason lebih banyak diam dan memperhatikan keponakannya itu belajar dengan riang bersama Ibram. Jason tampak menghela nafas panjang.


Terlihat begitu mustahil untuk memberhentikan Ibram dari pekerjaan tersebut di rumah ini seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. itu pasti akan membuat Rayyan sedih.

__ADS_1


Ibram tampak benar-benar profesional dan sama sekali tidak terganggu oleh Jason yang mendadak ikut menemani Rayyan. Tapi di dalam hati rasa penasaran itu sesungguhnya tengah mengambil alih perhatiannya.


Sementara Wulan, ah gadis itu benar-benar benci terjebak dalam situasi semacam ini.


Berada di antara Jason dan Ibram sekali lagi benar-benar membuat udara di sekitarnya terasa sesak.


Apa tidak ada orang lain yang menyadari selain dirinya, bahwa kedua lelaki itu terlihat seperti dua kutub yang berbeda? Gadis itu hanya mendesah kecil dan tidak mau terlibat adu pandang dengan siapapun diantara kedua lelaki itu.


Dia lebih banyak menunduk, sesekali menatap Rayyan saja. Benar-benar situasi yang kaku dan canggung.


"Setelah ini, bisa kita bicara sebentar pak Ibram? Atau haruskah saya panggil pak Arya saja?" Tanya Jason dengan sarkastik mengejutkan Ibram maupun Wulan.


"Tentu" jawab Ibram singkat, masih dengan senyum seperti biasanya.


Ibram mengikuti langkah Jason menuju ke ruang kerjanya di atas.


"Silahkan" ucap Jason mempersilahkan Ibram untuk duduk di sofa di ruangan itu.


Ibram mengangguk, kemudian mendaratkan tubuhnya diatas sofa yang empuk itu.


Matanya menatap sekeliling, sebuah ruangan yang dengan dominasi warna monocrom. Tampak lumayan luas dan nyaman.


Dengan sebuah meja kerja lengkap dengan beberapa tumpukan berkas sedikit berantakan.


Dan satu set sofa tempat dimana dirinya duduk saat ini.

__ADS_1


"Soft drink?!" Tawar Jason sambil membuka sebuah lemari pendingin kecil yang terletak di sudut ruangan yang dijawab dengan anggukan kepala Ibram.


"Jadi apa yang sebenarnya yang mau anda bicarakan pak?" Tanya ibram dengan raut wajah yang mendadak serius.


__ADS_2