
nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi cobalah beberapa saat lagi' Tut...Tut..Tut...
"Aarrggghhh wulaaan, kamu pergi kemana?" Jason mengusap wajahnya dengan gusar.
Itu sudah ke enam kalinya dia mencoba menghubungi nomor ponsel Wulan. Tapi sama sekali tidak tersambung.
Lelaki itu bahkan sudah menelepon yayasan memastikan barangkali gadis itu kembali kesana, tapi nyatanya nihil.
Ditengah-tengah hatinya yang dilanda kegundahan kembali Jason menekan beberapa baris nomor di layar ponselnya.
"Hallo Herman, saya ada pekerjaan untuk kamu"
(...............)
"Saya mau kamu cari seseorang, foto dan identitasnya akan saya kirim ke nomor kamu setelah ini"
(...............)
Klik
Jason melempar ponselnya ke atas tempat tidur, pikirannya semrawut kali ini.
Diluar suara tangis Rayyan sesekali masih terdengar.
Bahkan bocah kecil itu sebegitu kehilangan sosok lugu yang menemani hari-harinya.
Kini Jason hanya bergantung pada pencarian Herman, salah seorang anak buahnya.
Lelaki itu punya banyak mata di setiap sudut kota.
Andai kondisinya tidak seburuk saat ini, tidak perlu berlama-lama dia pasti akan mencari sendiri gadisnya yang pergi karena kesalahpahaman konyol ini.
Bahkan jika perlu, sampai penjuru dunia akan Jason datangi untuk Wulannya.
Gadis itu membawa dampak besar bagi hidupnya dan sang keponakan.
Dan kali ini Jason tidak akan membiarkan siapapun merenggut kebahagiaannya itu. Tidak akan.
***
Hari sudah mulai senja, belum juga ada kabar dari Herman. Jason masih menunggu dalam gelisah.
Apa mungkin harus dirinya sendiri yang bertindak.
"Kalau aku jadi Wulan, kemana aku akan pergi.
Sementara tidak ada siapapun kenalan di kota ini?
__ADS_1
Pulang ke kampung???!! Ya, pasti Wulan pulang ke kampung!" Gumam Jason sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Aku harus telepon Herman"
'triiiinng..triinnggg...'
tiba-tiba handphone di tangan Jason bergetar dengan bunyi nyaring.
Menampilkan sebuah nama di layar yang baru saja ingin Jason hubungi.
"Ya, hallo herman. Baru saja saya mau menelepon kamu"
(................)
"APA?? Apa kamu yakin??"
(.................)
"saya mau lihat, bawa kemari rekaman itu sekarang juga"
Hati Jason kini semakin berantakan, rasa panas menjalari seluruh tubuhnya.
Hanya dengan mendengar kabar yang baru saja anak buahnya sampaikan rasanya membuat darahnya kembali mendidih.
Waktu terasa berjalan begitu lambat, jari-jari tangan lelaki itu tidak berhenti bergerak-gerak.
Setelah hampir 30 menit menunggu, akhirnya bell berbunyi, tanpa perlu menunggu lebih lama Jason bangkit berdiri dengan kruk menyangga tubuhnya, menahan rasa ngilu dan remuk redam di sekujur badannya.
Tapi itu tidak lebih penting dibanding dengan segera menemukan Wulan.
"Tuan, ada tamu" bi Irah menyongsong langkah Jason di depan pintu kamar.
"Iya, saya tahu bi" jawab Jason sambil terus bersusah payah melangkah, dan dengan segera bi Irah membantu memapah tubuh tuannya itu untuk mendekat ke ruang tamu.
"Herman"
"Pak" jawab seorang lelaki bertubuh tegap dengan rambut mengkilat, wajahnya ditumbuhi jambang yang terukir rapi menghiasi dagunya.
"Saya mau lihat rekaman yang kamu dapatkan" ucap Jason tanpa perlu berbasa-basi lagi.
Lelaki bernama Herman itu mengangguk, kemudian duduk disamping Jason.
Memutar sebuah hasil rekaman cctv pada laptop yang dibawanya.
Sebuah rekaman yang menampilkan latar lorong apartemen yang tidak asing dimata Jason.
Pada beberapa detik berikutnya seorang lelaki dan seorang wanita yang sangat familiar tampak berjalan kearah sebuah pintu apartemen kemudian memasukinya, waktu menunjukan hampir tengah malam tertera di layar tersebut.
__ADS_1
"Dari yang saya selidiki, gadis ini tidak punya teman lain ataupun kerabat di sekitar sini pak, tapi sepertinya memang gadis ini dekat dengan lelaki itu, yang tidak lain guru dari keponakan anda" terang Herman.
"Jadi saya mencoba mendapatkan rekaman cctv dari apartemen tempat tinggal lelaki itu, dan tepat seperti yang saya duga, dia bersama gadis yang bapak cari" lanjutnya lagi.
"IBRAM DARMAWAN!!!" gumam Jason sambil mengepalkan tangannya.
Matanya masih belum teralihkan dari layar laptop tersebut.
Layar yang menampilkan Wulan mengikuti Ibram memasuki apartemen milik Ibram, dan belum keluar lagi. membuat detak jantungnya meningkat dua kali lipat, ada kecemburuan yang terbakar di dalam sana.
"Cuma ini?? Artinya dia masih disana!" Tanya jason menatap Herman disampingnya.
"Sebentar, coba lihat ini pak, tadi pagi mereka keluar dan gadis itu membawa tas besar seperti malam sebelumnya" ucap Herman sambil mempercepat rekaman selanjutnya.
"Saya harus kesana, antar saya kesana man" ucap Jason lantang sambil berupaya berdiri.
"Baik pak" angguk lelaki yang itu kemudian membantu Jason berjalan menuju mobil.
"Tuan... Tuan mau kemana tuan? Kondisi tuan masih belum sehat!" Ujar bi Irah sambil setengah berlari menyusul Jason di halaman.
"Saya mau cari Wulan bi, saya mau bawa dia kembali" ucap Jason mantap.
"Tapi tuan..."
"Bibi nggak usah khawatir, saya baik-baik saja! Ada dia yang nemenin saya" jawab Jason sambil melempar pandangan kearah lelaki bernama Herman tersebut.
Bi Irah tidak lagi mau membantah, dari mata tuannya wanita itu sudah bisa melihat semuanya.
Melihat sebuah cinta yang tumbuh di hati dingin tuan mudanya itu, yang sedari kecil telah dirawat dengan kedua tangannya.
"Hati-hati tuan" tukasnya, dijawab sang tuan muda dengan sebuah anggukan kecil sebelum kemudian berlalu.
Langit sudah mulai gelap, lampu-lampu mulai menyala menerangi malam.
Seperti itu pula secercah harapan menerangi titik pencarian Jason malam ini.
ENJOY, JANGAN LUPA JEJAKNYA!!
👣 LIKE
👣 KOMEN
👣 VOTE
KALIAN JUGA BISA BANTU SHARE YA, KALAU BERKENAN!!
THANK YOU 💖💖💖
__ADS_1