
Jason mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan tidak sepadat pagi tadi mengingat hari mulai menjelang siang.
Dia tidak banyak bicara, namun sesekali menatap istrinya dengan hangat.
Sedangkan Wulan asik menikmati suasana jalanan ibu kota.
Jason membelokkan kemudinya ke areal yang cukup sepi.
Wulan tidak tahu dimana tepatnya.
Di kiri dan kanan jalan yang hanya terbuat dari cor-coran semen itu terdapat banyak penjual bunga.
Wulan tidak banyak mengenal daerah di kota ini.
Perempuan itu baru mengerti ketika melihat plang bertuliskan pemakaman.
Mau apa Jason membawanya kemari?
"Ayo turun," ucap Jason saat membukakan pintu untuk istrinya tersebut.
Wulan sampai tidak menyadari sejak kapan Jason turun dan berada di sampingnya membukakan pintu.
Perempuan itu mengangguk kemudian meraih tangan Jason yang membantunya turun.
Ada banyak pertanyaan di benak Wulan, hendak melayat siapa? Siapa yang meninggal?
Tapi dia memilih untuk diam dan mengikuti sang suami saja.
Jason membeli sekantong penuh bunga, sambil menggandeng tangan Wulan lelaki itu menyusuri jalan setapak kecil di tengah pekuburan itu.
Jalan yang dipenuhi rumput setinggi mata kaki.
"Aku mau kenalin kamu ke keluarga aku," ucap Jason menjawab semua tanya di benak Wulan.
Lelaki itu tersenyum ketika mengucapkan kalimat itu, tapi matanya tidak bisa berbohong. Sendu.
Matahari naik hampir mencapai diatas ubun-ubun. Teriknya lumayan menyengat kulit, namun angin berhembus perlahan menerbangkan rambut Wulan yang tergerai.
Langkah mereka terhenti di depan tiga buah nisan yang berjejer rapi.
Rumput-rumput liar mulai tumbuh di atas tanah yang mengering itu.
"Ini makam mama aku, yang ini papa aku, dan yang itu Abang aku," kata Jason sambil menunjuk beberapa gundukan makan itu.
"Mama, papa, kenalin ini Wulan, istri Jason," ucap lelaki itu sambil berjongkok dan mengelus nama yang terukir di salah satu nisan tersebut.
__ADS_1
"Wulan cantik kan ma? Kalau mama masih ada mama pasti suka sama Wulan." Lanjutnya.
Wulan menatap nisan yang tengah Jason sentuh, kemudian menatap wajah jason yang bibirnya tersenyum namun dengan mata berkaca-kaca. Perih.
Hati wulan rasanya seperti diremas begitu kuat melihat pemandangan itu, tangannya terulur menggenggam erat tangan suaminya.
Sebuah genggaman tangan yang erat seolah menyalurkan kekuatan.
Bukankah begitulah cinta? Saling menguatkan ketika rapuh.
"Yang ini Abang aku, namanya bang Raymond. Papanya Rayyan," terang Jason sambil bergeser mendekat ke samping nisan Raymond.
"Abang kenalin, ini Wulan istri Jason. Sekarang aku udah nikah bang, nggak jomblo lagi," ucap Jason dengan suara bergetar.
"Rayyan sayang banget sama Wulan lho bang, dia seneng punya bunda baru. Abang jangan khawatir, kita berdua akan terus jaga dan membesarkan Rayyan dengan sebaik mungkin, Abang yang tenang disana ya." Lanjutnya dengan airmata yang tiba-tiba lolos dari sudut matanya.
Wulan termangu, airmata yang sedari tadi dia tahan di pelupuk matanya akhirnya jatuh juga.
Inilah sisi lain Jason yang baru saja dia lihat, lelaki itu tidak selalu sekuat yang Wulan kira. Lelaki yang kini menjadi suaminya itu terlihat sangat rapuh.
Bahunya yang kokoh ternyata memikul tanggung jawab perasaan yang tidak pernah mampu dia bagi dengan orang lain.
Wulan mengelus perlahan punggung Jason yang bergetar.
Hatinya perih melihat Jason begitu sedih.
Dia tidak akan sedemikian menyedihkan ketika di hadapan makam kedua orangtuanya.
Rasa kehilangan abangnya berkali lipat jauh lebih menyakitkan dibanding saat kehilangan kedua orangtuanya.
Wulan hanya mampu menutup bibirnya rapat-rapat, banyak hal yang tidak dia ketahui, dan tentu membangkitkan rasa ingin tahu di hatinya.
Tapi, ini bukan waktu yang tepat. Setidaknya Wulan harus menunggu sebentar lagi.
Biarkan Jason melakukan apa yang membuat hatinya lega, biarkan sampai lelaki itu tenang kembali.
"Mas, lebih baik kita doakan mereka, jangan terlalu lama larut dalam kesedihan ya, kasian mereka kalau melihat kondisi kamu seperti ini." Ucap Wulan lembut sambil terus menepuk punggung suaminya.
Jason menatap istrinya, mengangguk perlahan kemudian mengusap sisa air mata yang menganak sungai di pipinya.
Dengan khusyuk Jason dan Wulan melafalkan doa dengan lirih.
Menghadiahkan lantunan ayat-ayat suci nan indah untuk ketiga orang yang terbaring damai selamanya di tempat itu.
Perasaan Jason jauh lebih tenang dan lebih baik dibanding sebelumnya.
__ADS_1
Mereka berdua mencabuti rumput liar yang tumbuh tanpa permisi di gundukan tanah yang telah mengering itu.
Kemudian menyiramkan air bunga, dan menaburkan bunga yang sempat Jason bawa.
Entah berapa lama disana, akhirnya dua pasang kaki itu melangkah menjauh dari areal pemakaman.
Jason kembali terdiam saat memainkan kemudi mobilnya.
Pikirannya melanglang entah kemana.
"Mas..." Panggil Wulan perlahan.
"Hmmm?" Jason menoleh, kemudian tangan kirinya mengelus rambut Wulan yang tergerai lembut.
"Aku mau tanya sesuatu, boleh?" Tanya Wulan hati-hati.
"Ada apa?" Dahi Jason mengernyit, apa yang hendak Wulan tanyakan.
"Apa Rayyan tahu soal papanya yang asli?" Tanya Wulan, dan Jason menggeleng.
"Kenapa?" Wulan tidak mengerti.
"Dia masih terlalu kecil, dan selama ini cuma aku yang dia punya. Aku nggak mau membuat bocah sekecil dia bingung," jelas Jason.
"Maksud mas apa? Bukannya dia punya mama? punya mbak Andini?" Wulan masih tidak mengerti alasan Jason.
'ckiiitt'
Mendadak Jason menghentikan laju kendaraannya, menepikan mobil yang mereka tumpangi.
Wajah lelaki itu mendadak suram, sepekat mendung yang menggantung dan siap luruh menjadi hujan.
"Andini nggak pantes disebut sebagai ibu, dia perempuan paling jahat yang pernah aku kenal!" Tegas jason dengan hati yang meradang.
"Kamu tahu sendiri bagaimana sikap perempuan itu ke Rayyan? Ke anak kandungnya sendiri!" Jason menghela nafas kemudian menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi mobil.
Wulan menatap lurus ke depan, menerawang saat itu, hari dimana untuk pertama kalinya dia melihat Rayyan begitu terluka oleh perlakuan Andini.
Tapi Wulan juga tidak mengerti, mengapa Andini bisa seperti itu.
"Se... sebenarnya apa yang terjadi mas? Kalau aku boleh tahu?" Tanya Wulan perlahan, dia tidak ingin membuat Jason tersinggung apalagi terluka.
Jason mengangkat wajahnya, menatap lurus pada wajah istrinya.
"Kamu mau tahu?" Tanyanya.
__ADS_1
💖💖💖