
"Hati-hati," ujar Jason sambil menggamit lengan istrinya. Wulan menolak menggunakan kursi roda. Wanita itu justru lelah karena terlalu banyak berbaring.
Jason memapah sang istri dengan hati-hati, sementara pak Amat di belakangnya membawa tas berisi baju ganti dari rumah sakit.
"Bunda?" Rayyan kecil berlari mendapati Wulan dan sang ayah pulang.
"Bunda kenapa?" Tanya bocah itu dengan wajah khawatir dan sedih. Wulan hampir-hampir menangis karena ingat bagaimana waktu-waktu belakangan ini Rayyan rasanya sedikit menjauh darinya. Tapi hari ini bocah itu menyambutnya saat dia pertama kali menginjakan kaki pulang ke rumah.
"Bunda gak papa, cuma sedikit sakit, tapi udah sembuh kok," jawabnya sambil mengelus rambut Rayyan yang mendekat padanya.
"Ray, biar bundanya istirahat dulu ya?!" Jason menyela.
"Mas." Wulan menggeleng memperingatkan.
"Ray mau tidur sama ayah sama bunda malam ini? Bunda kangen sekali sama Ray," lanjut Wulan pada Rayyan, bahkan meski wajah Jason tak setuju. Perempuan itu rindu, jadi apa salahnya. Toh bocah sekecil Rayyan tak akan membuatnya kenapa-kenapa kan?
"Bener bunda?" Mata bocah itu membulat, dendam dan amarah yang dia simpan beberapa waktu terakhir karena kecewa itu seperti diguyur dengan embun. Dia juga merindukan bundanya.
"Tapi...."
"Ayok Ray," ajak Wulan tanpa menghiraukan suaminya yang keberatan. Rayyan tersenyum dan mengangguk, yang bisa Jason lakukan hanya menggeleng.
Lelaki itu bukan keberatan soal Rayyan, tapi kesehatan istrinya sangat penting untuk dijaga saat ini.
"Eh kamu sudah pulang, Wulan? Sudah sehat?" Sarah tiba-tiba datang dan mendekat.
__ADS_1
"Tante khawatir sekali sama kamu," lanjutnya sambil mengelus bahu Wulan yang ringkih.
"Sudah Tante, Alhamdulillah," jawabnya tersenyum.
"Permisi Tante, Wulan mau istirahat dulu ke kamar, ayok Ray."
"Lhoh, Rayyan mau kemana? Bundanya kan baru pulang dari rumah sakit, biar bunda istirahat dulu, kamu sama Oma sini." Sarah meraih pergelangan tangan bocah itu.
Tapi wajah Rayyan terlihat sangat enggan, kenapa semua orang benar-benar tidak mengijinkan dirinya bersama bundanya barang sekejap saja.
"Nggak apa-apa Tante, Wulan baik-baik aja, biar Ray sama Wulan malam ini."
Sarah baru saja hendak membuka mulutnya, tapi Jason lebih dulu menatapnya dengan tatapan yang gelap.
**
"Mau bunda," jawabnya dengan mata berbinar membola.
Jason keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Rayyan masih sedikit mendiamkannya sejak tadi. Terakhir kali Jason memarahinya waktu itu masih membuatnya canggung.
Lelaki itu kemudian berbaring di sisi lain tempat tidur. Mendengarkan Wulan yang membaca buku cerita untuk Rayyan, tentang pangeran yang dikutuk dan merasa terasing meski dalam istana megah. Dan kutukan itu hanya bisa dihapuskan jika ada gadis yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
"Dan mereka akhirnya hidup bahagia selamanya." Wulan menutup buku itu dan tersenyum. Kisah dongeng selalu berakhir bahagia.
Mata Rayyan belum sepenuhnya terpejam tapi bocah kecil itu memang sudah mengantuk. Wulan mengelus kepalanya dengan sayang, memberi satu kecupan selamat malam.
__ADS_1
"Kamu baca buku cerita apa?" Tanya Jason.
"Si cantik dan si buruk rupa," jawabnya.
"Berarti aku si buruk rupa." Jason tersenyum sambil merebahkan kepalanya di atas kedua tangannya yang dilipat ke atas.
"Kenapa gitu mas?"
"Karena bertahun-tahun rasanya aku seperti dikutuk dan terasing, meski hidup dalam kemewahan," jawabnya sambil menatap Wulan.
"Kamu ada-ada aja." Wulan menggeleng sambil terus mengelus kepala Rayyan.
"Dan akhirnya si cantik ini datang, kutukannya pun hilang," lanjut Jason bangkit dan menyentuh hidung sang istri dengan ujung jarinya.
Wulan tersenyum dan menggeleng, tapi tiba-tiba senyumnya itu memudar digantikan dengan kernyitan di dahinya.
Tangannya mengelus cuping telinga Rayyan yang membiru.
"Telinga Ray kenapa ya, mas?" Wanita itu bangkit dadi duduknya perlahan, tak mau membuat Rayan yang baru saja terlelap itu terbangun.
"Kenapa apanya?" Jason ikut bangun dan menatap ke arah dimana Wulan menunjuk.
"Ah iya, agak lebam," gumamnya.
"Aku ambil gel pereda nyeri dulu, kasihan Ray, apa terantuk pintu pas lari-larian ya?" Wulan bergerak perlahan, menggeser laci dan menemukan apa yang dia cari.
__ADS_1
Jason mengernyit, menatap wajah bocah kecil yang tertidur itu. Wajahnya menjadi gelap sekali lagi, ada yang mengganjal di benaknya.
**