
"Bu, pak, Wulan pamit dulu ya?" Ucap Wulan sambil mencium punggung tangan keriput milik kedua orang tuanya.
Kemudian memeluk adiknya, sambil mengacak-acak rambut adik semata wayangnya itu.
"Mbak berangkat dulu ya, mbak tunggu besok kamu kesana" ucap Wulan pada adiknya tersebut.
"Iya mbak"
Jason melakukan hal yang sama, berpamitan kepada kedua mertua dan adik iparnya.
"Nak Jason, bapak titip Wulan ya" kata lelaki sepuh itu melepas anak sulungnya yang kini harus ikut bersama suaminya.
"Iya pak, saya pasti jaga Wulan dengan baik"
Mereka berangkat bertiga bersama Herman. Sementara yang lain sudah lebih dulu berangkat sejak tadi pagi.
Sepanjang perjalanan Jason mendekap tubuh sang istri.
Wulan menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.
Ahh lihatlah takdir tuhan yang begitu indah, lebih dari satu bulan yang lalu Wulan kembali darj kota menuju kampungnya dengan harapan melupakan Jason dan semua cintanya. Meninggalkan semua kenangan dan separuh hatinya disana.
Tapi lihatlah kini, mereka kembali ke kota dimana cinta itu tumbuh dan berkembang sebagai sepasang suami istri.
Perjalanan dari kampung Wulan ke kota tempat dimana Jason tinggal memakan waktu hampir setengah hari dengan mobil.
Hari hampir tengah malam menjelang dini hari ketika mereka sampai ke rumah.
Wulan tersenyum, akhirnya takdir membawanya kembali masuk kedalam gerbang rumah itu lagi.
Gerbang yang dia tinggalkan dengan berjuta perasaan yang tertinggal.
Kini wanita itu kembali melangkah masuk kesana.
Dia ingat pertama kali dulu, dengan seragam putih miliknya, kedua tangannya menggamit sebuah tas jinjing besar, ditemani Bu Retno.
Masuk ke rumah itu membawa asa untuk bekerja mendapatkan uang untuk kelangsungan hidup keluarganya
Tapi kali ini berbeda, Wulan masuk ke rumah itu sebagai nyonya rumah, nyonya Jason Hartono.
Hidup terkadang begitu lucu, mirip roda pedati yang berputar.
Dongeng Cinderella itu nyata, bukan sebuah omong kosong belaka.
Jika tuhan berkehendak, maka seorang pungguk benar-benar bisa memeluk rembulan.
Wulan masih terus melamun tentang hidupnya yang mendadak berubah.
Wanita itu melangkah menyusuri ruangan yang sudah sangat familiar baginya selama ini.
Menuju kamarnya dulu, kamar yang dia tinggalkan beberapa waktu lalu.
Jason yang sedari tadi berjalan di depan membawa koper miliknya dan milik Wulan tidak menyadari bahwa istrinya tersebut tidak mengikutinya.
"Sayang, aku mandi dulu ya?" Ucap Jason tanpa menengok.
Sunyi! Wulan tidak menyahut apa yang baru saj dia katakan.
"Wulan?!"
__ADS_1
Jason menatap kebelakang, mencari-cari istrinya di seluruh kamar miliknya yang luas.
Lelaki itu melongok ke kamar mandi, kosong!
Kemudian melihat ke area walk in closet miliknya, Wulan tidak ada disana.
"Wulan?!" Panggil jason.
Lelaki itu melangkah cepat menuruni tangga, berteriak dan terus memanggil hanya akan membangunkan penghuni rumah yang lain.
Jason melangkah cepat menuju dapur, mungkin istrinya haus.
Tapi tidak ada sosok yang dicarinya itu disana.
"Kemana sih?" Gumamnya kebingungan.
Jason keluar, apa mungkin istrinya itu berada di luar selarut ini? Mustahil! Untuk apa memangnya.
Jason merogoh saku celananya, mengambil ponsel kemudian menelepon nomor sang istri yang mendadak raib.
'triiiiinnngggg.... triiiiinnngggg'
"Ah, suaranya..."
Jason terus menelpon, meski begitu lelaki itu terus memasang pendengarannya mencari sumber dering ponsel.
"Kamar itu??"
Benar saja, Jason membuka pintu kamar yang biasa Wulan tempati dulu.
Istrinya tersebut meringkuk di atas ranjangnya, bahkan masih mengenakan sepatu di kakinya.
"Kenapa malah tidur disini sih?" Jason menggumam sambil tersenyum.
"Wulan, sayang, kenapa malah tidur disini? Ayo pindah ke kamar kita!" Jason menggoyang perlahan tubuh istrinya.
"Hmm? Kamar siapa?" Wulan menggeliat kemudian menggosok matanya dengan punggung tangan.
"Kamar kita, diatas! Kenapa kamu malah tidur disini?"
"Ohh iya, Maaf aku lupa mas. Aku terbiasa tidur disini, jadi nggak sadar tadi malah masuk kesini" jawab Wulan sambil bersusah payah untuk bangun.
Rasanya tubuhnya sudah menempel dengan nyaman di ranjangnya itu.
Rasa lelah sekaligus mengantuk benar-benar membuatnya malas untuk beranjak.
Lagi-lagi Wulan menguap, matanya masih setengah terpejam.
Jason menatap istrinya dengan gemas, wajah polos Wulan seperti itu benar-benar lucu.
Mengingatkan pertama kalinya Wulan dan menabraknya di pagi buta waktu itu.
"Ya sudah, aku gendong saja ya"
Tanpa menunggu jawaban, Jason meraih tubuh istrinya itu kemudian mengangkatnya dengan kedua lengannya.
Wulan yang terkejut reflek melingkarkan kedua lengannya di leher sang suami.
Apa sudah mirip film-film luar negri? Dibopong dengan gaya bridal style?
__ADS_1
"Mas, turunin. Aku bisa jalan sendiri"
Wulan memberontak, rasanya malu sekali kalau sampai dilihat orang.
"Mas, turunin. Malu kalau sampai ada yang lihat"
Wulan memukul-mukul dada Jason perlahan, tidak bermaksud menyakiti. Hanya bentuk protes atas apa yang Jason lakukan ini.
"Siapa yang mau lihat tengah malem begini" Jason santai tidak menghiraukan protes Wulan, dan segera membawa istrinya itu menaiki tangga menuju kamarnya, ya kamar mereka lebih tepatnya.
Jason menurunkan tubuh mungil Wulan di ranjang ukuran besar miliknya, milik mereka tentu saja.
Tapi Wulan buru-buru berjingkat bangun.
"Kenapa?" Jason mengernyit.
"Aku mau ke kamar mandi mas, mau bersih-bersih"
Jawab Wulan menuju kamar mandi di kamar itu. Kamar mandi yang luas, hampir empat kali lebih luas dari kamar mandinya di kampung.
Wulan membasuh tubuhnya yang terasa pegal disana-sini dengan air hangat.
Rasanya nyaman, meskipun mandi di malam yang terlampau larut.
Jason tampak duduk dengan rambut yang basah, bajunya juga sudah berganti dengan kaos dan sweatpant selutut.
Nampaknya lelaki itupun sudah mandi.
"Lhoh, kamu sudah mandi mas?" Wulan menyelidik.
"Sudah sayang, sini" Jason menepuk ranjang di sampingnya, membuat Wulan menelan ludah dengan kasar.
Lagi-lagi pikirannya berkelana, apa ini akan menjadi saatnya?
Kenapa hatinya begitu ragu dan takut akan malam pertama. Malam pertama yang sempat tertunda. Bagaimana ini, apa rasanya akan sakit?
"Ka..kamu mandi di mana mas?" Tanya wulan menghilangkan rasa gugup yang mendadak mendera.
"Di ruang kerja aku, di sana kan ada kamar mandi juga" Jawab Jason santai.
Jason menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, kemudian menarik lengan sang istri, memaksa Wulan duduk di hadapannya.
"Kamu capek?" Tanya Jason menatap wajah istrinya yang merona, tapi kantung mata itu tidak dapat berbohong. Jelas istrinya itu lelah dan mengantuk.
Wulan hanya mengangguk, dengan cepat Jason menarik Wulan untuk tidur disampingnya.
Lelaki itu mengecup perlahan kening Wulan, rasa hangat menjalari dahinya. Ah mungkin seluruh wajahnya.
"Ya sudah, sekarang istirahat dulu, Aku juga ngantuk. Selamat malam" ucap Jason sambil sekali lagi mendaratkan kecupan di kening Wulan.
Jason merebahkan tubuhnya menyamping menghadap Wulan, sementara tangannya melingkari di pinggan sang istri.
Lelaki itu mulai memejamkan matanya, tidak butuh waktu lama dengkuran halus terdengar dari bibir Jason.
Wulan menatap wajah sang suami yang terlelap dengan damai, mungkin terlalu lelah.
Entah mengapa ada sedikit rasa yang mengganjal di hatinya.
Lega, tapi juga kecewa. Entahlah.
__ADS_1
💖💖💖