My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 59


__ADS_3

Jason tersenyum-senyum sambil menyandarkan kepalanya di ranjang rumah sakit.


Sejujurnya tubuhnya masih begitu nyeri dan kaku, bahkan luka di dahinya juga terasa pedih dan membuat kepalanya pusing.


Tapi demi bisa pulang kerumah secepatnya, hal itu sama sekali tidak dirasakannya.


Wulan hanya sesekali memandanginya sambil mengemasi beberapa barang bawaannya dalam sebuah tas jinjing berukuran besar.


Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengingat kejadian pagi tadi saat akhirnya dokter memilih mengalah dalam perdebatan tanpa ujung dengan Jason.


Permohonan rawat jalan atau lebih tepatnya perintah Jason untuk mengizinkan dirinya segera pulang kerumah akhirnya terpenuhi, dengan catatan harus ada tanda tangan surat pernyataan untuk pencabutan tanggung jawab rumah sakit apabila terjadi resiko kesehatan pada Jason yang bukan lagi pasien rumah sakit tersebut.


Dan tentu saja Jason menyetujuinya dengan sangat cepat.


"Semuanya sudah beres pak, administrasi juga sudah saya selesaikan" lapor indah seraya masuk ke ruangan itu.


Wanita itu menghela nafas, lelaki yang sudah bertahun-tahun menjadi bosnya itu tampak tersenyum simpul. Seolah tidak menyadari bahwa bentuk wajah dan tubuhnya benar-benar berantakan,mirip seseorang yang habis dihajar preman pasar.


"Terimakasih ndah, ayo kita pulang sekarang" jawab Jason dengan suara yang (tentu saja) masih sangat lemah.


Tapi binar-binar di matanya memancarkan semangat yang menggebu.


Indah tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi, tapi wanita itu tahu betul hal ini tidak jauh-jauh dari urusan tentang Wulan, gadis lugu yang menjadi cinta pertama bosnya itu.


***


"Ayaaaah, ayah kenapa??" Sambut Rayyan dalam gendongan bi Irah yang berdiri di teras rumah.


Bola mata bening milik bocah itu tampak berkaca-kaca melihat kondisi lelaki yang tengah duduk di atas sebuah kursi roda dan baru saja turun dari mobil itu.


Dari wajahnya jelas terpancar kesedihan menyelimuti hati bocah itu melihat apa yang terjadi pada Jason, pria yang selalu dia panggil ayah tersebut.


"Ya Allah tuan, syukur Alhamdulillah tuan baik-baik saja" Bi Irah tak kalah histeris menyambut majikannya itu.


"Saya nggak papa kok" lirih Jason sembari membalas dengan segurat senyuman terukir di bibirnya.

__ADS_1


Rayyan melorot dari gendongan wanita paruh baya itu kemudian berlari menyambut ayahnya yang kini mendekat.


"Ayah, kenapa jadi kaya mommy? Ayah nggak bisa jalan??" Tanya Rayyan dengan mata membulat polos.


"Ayah nggak papa, sebentar lagi sembuh. Kaki ayah cuma sakit sedikit, tuh" sahut Jason sambil menunjuk kaki kirinya yang dibalut perban.


***


"Aku mau turun, aku mau ketemu Jason!! Bawa aku turun sekarang juga" teriak Andini sambil membanting piring makan malamnya yang dibawakan Bi irah.


"Tapi nyonya, kondisi tuan sedang tidak sehat, mungkin tuan sedang istirahat sekarang" sergah bi irah.


"Itu sebabnya aku mau ketemu Jason, bodoh!! aku mau tahu kondisinya" bentak Andini dengan melotot.


"Tapi nyonya--" bi Irah tampak begitu sungkan.


*


Sementara itu di bawah--


( Jason memilih sementara waktu tinggal di kamar tamu, untuk memudahkan semua orang membantunya saat dia perlu bantuan dengan kondisinya seperti saat ini)


"Aku udah kenyang Wulan" jawab lelaki itu membuang wajahnya ke arah lain.


"Satu sendok lagi tuan, setelah itu tuan minum obatnya dan istirahat" bujuk Wulan.


"Aaakkk" gadis itu membuka mulutnya, menunjukan ekspresi lucu mirip seperti menyuapi bocah kecil saja.


Membuat Jason mau tak mau terkekeh kecil, kemudian membuka mulutnya untuk menerima suapan terakhir dari Wulan.


Dengan telaten gadis itu menyuapinya sedari tadi, kemudian memberikan beberapa butir pil untuk Jason minum.


"Tunggu" ucap Jason berat sambil menahan pergelangan tangan Wulan ketika gadis itu hendak beranjak dari duduknya disamping ranjang Jason.


"Ya tuan?" Jawabnya sambil menatap kembali Jason dengan serius, mencari tahu apakah tuannya itu butuh bantuan yang lain lagi.

__ADS_1


"Aku sudah di rumah, sekarang penuhi janjimu. Jawab pertanyaanku tadi malam" ucap Jason bersungguh-sungguh.


"Aakhhpp" Wulan terksiap dan reflek menutup bibirnya dengan sebelah tangannya.


Benar, itulah janji yang telah dia buat semalam untuk mengulur waktu. Dan dengan sangat cerdik pria dihadapannya itu justru membuat semuanya lebih cepat dari perkiraannya.


"Jadi apa jawabannya?" Tanya Jason sambil menarik Wulan mendekat, memaksa gadis itu kembali duduk di tempat sebelumnya.


Harus bagaimana sekarang? Dia sudah tidak bisa lari kemana-mana lagi.


Perasaan dan hatinya sudah benar-benar terjebak dan terperangkap lebih jauh.


Haruskah dia menjawab apa yang dirasakannya, atau menepisnya lagi dan lagi?


Tidak bisa, semua sudah terlambat untuk kembali.


Hatinya meronta-ronta berharap untuk di dengarkan, mengalahkan logikanya sekali lagi.


"Apa kamu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan untukmu?" Desak Jason lagi mempererat genggaman tangannya pada jemari lembut milik Wulan.


"I..iya tuan" lanjutnya dengan suara yang terlampau pelan.


Sangat pelan bahkan hampir berbisik. Tapi Jason dapat mendengar dengan jelas suara merdu gadis itu seperti mengalun indah menjalari Indra pendengarannya. Jawaban yang dia impi-impikan menghiasi setiap malamnya dalam kegelisahan.


Kini Wulan menunduk tenggelam dalam gelisah, panas menjalari setiap sisi wajahnya.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya, memejamkan matanya antara takut bercampur malu.


Sebuah lengkungan menghiasi sudut bibir Jason, matanya yang kelabu mendadak berbinar. Bibirnya mendadak gagu tidak bisa berkata-kata.


Rasanya seperti mimpi, hatinya seperti berpesta kembang api di dalam sana.


Jika bisa ingin rasanya lelaki itu melompat dan berteriak saking bahagianya.


"Tapi---" ucap Wulan menggantung.

__ADS_1


"Tapi apa?" Tanya Jason cepat.


💖💖💖


__ADS_2