
Jason kembali meraih tangan Wulan, menggenggamnya lebih erat dari sebelumnya sambil menatap matanya dengan intens. Membuat irama jantung gadis itu siap meledak.
Kenapa situasinya mendadak begitu romantis?
Keromantisan yang tidak pada tempatnya, dirumah sakit?? Dengan pangeran yang tubuhnya penuh luka?? Yang benar saja. Ini jauh dari khayalan roman picisan yang sering dibacanya.
"Boleh aku tanya sesuatu?? Tolong kali ini kamu jawab jujur!" Ucap Jason mengagetkan Wulan.membuat jantung gadis itu berdegup keras hingga terdengar di telinganya yang memerah panas.
Gadis itu menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang mendadak tercekat.
Kemudian mengangguk perlahan, ada keraguan tergambar di matanya. Dengan sudut alis yang beradu, ada kegelisahan memastikan apakah pertanyaannya tidak akan semakin menyulitkan dirinya.
"Tolong jujur, sebenarnya apa yang kamu rasakan?" Tanya Jason dengan tatapan mata lembut sekaligus menghujam jantung Wulan.
"A...apa maksud tuan?" Gadis itu tergagap. Lagi-lagi soal ini.
Jason mendesah perlahan, memejamkan matanya untuk sesaat. Apa gadis ini benar-benar tidak tahu apa maksudnya, atau hanya berpura-pura tidak mengerti.
"Aku tidak bercanda, waktu aku bilang aku mencintai kamu" ucap Jason mantap meski dengan suara yang perlahan.
Tangannya yang terpasangi selang infus perlahan terangkat, membelai lembut pipi Wulan yang bersemu. Memaksa gadis itu mengangkat wajahnya yang tertunduk dan mempertemukan mata keduanya.
"Aku serius, dan sekarang aku ingin tahu tentang perasaan kamu terhadapku. Apa kamu tidak merasakan hal yang sama?" Tanya Jason dengan suara parau.
Wulan bisa melihat cinta itu dari wajah lelaki di hadapannya, hatinya bisa merasakan ketulusan itu.
Iris kecoklatan itu mengungkapkan segalanya, ada harapan yang besar terpancar jelas.
"Tuan..." lirih Wulan terhenti.
"Katakan dengan jujur, apa kamu merasakan hal yang sama?" Jason mulai kehilangan kesabaran.
__ADS_1
Bibir Wulan bergetar, dia tahu kebohongan tidak akan menyelamatkannya kali ini. Hatinya berkecamuk, jawaban yang dia berikan pasti akan mengubah banyak hal.
Bahkan matanya tidak mampu berbohong, semua seolah terjawab dari sorot matanya.
Jason merasakan hal itu, tapi dia harus memastikan langsung dari bibir gadis itu sendiri.
"Sa...saya ehhmmm..." Jawabnya tertahan.
"Be..beri saya waktu tuan, kita bicarakan ini setelah tuan sembuh dan boleh pulang" jawab gadis itu mengulur waktu.
"Kenapa?" Jason tidak mengerti.
"Emmhh, sebaiknya kita lebih fokus untuk pemulihan kesehatan tuan dahulu, kita bicarakan ini setelah tuan pulang dari rumah sakit" terang Wulan sambil tersenyum canggung.
"Baik, setelah aku pulang kamu harus janji untuk jawab pertanyaan ku dengan jujur" Jason tersenyum simpul.
Ada sedikit kelegaan bahwa sebentar lagi akan ada kejelasan arah hubungan mereka. Tapi sekaligus debaran kegelisahan tentang jawaban yang nantinya dia terima membuat hatinya menerka-nerka.
"I..iya, sekarang lebih baik tuan istirahat. Ini sudah larut sekali" Kata gadis itu sambil membetulkan selimut Jason yang melorot.
Wulan merebahkan tubuhnya di sofa, malam semakin larut tapi tidak membuat gadis itu dengan mudah menenggelamkan pikirannya ke dalam tidur yang nyenyak.
Entah sudah berapa kali gadis itu bergeser, merubah posisi tidurnya.
Pikirannya gelisah tentang jawaban apa yang hendak dia berikan.
'ah, setidaknya masih ada beberapa hari lagi' pupusnya dalam hati menenangkan diri.
***
"Selamat pagi, kita cek dulu ya pak, Bu" seorang dokter wanita mengenakan sneli dan berkacqmata didampingi suster masuk membawa tensimeter, dan beberapa alat suntik.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana perkembangannya" tanya Wulan mendekat ke brankar.
"Tekanan darahnya bagus, bagian dalam semuanya bagus. Hanya luka luar masih basah dan perlu perawatan ekstra untuk pemulihan" jawab sang dokter.
"Saya suntik obat pereda nyeri dulu ya pak" kata sang dokter lagi sambil menyuntikan dua ampul obat melalui selang infus.
"Dokter, saya mau pulang hari ini" ucap Jason tanpa basa basi.
"Tapi kondisi anda belum pulih sepenuhnya" jawab sang dokter.
"Saya sudah sehat dokter, saya mau pulang" ucap Jason dengan mantap sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
"Pak, kondisi anda benar-benar masih perlu perawatan dan observasi lebih lanjut untuk mengetahui luka di bagian kepala tidak mempengaruhi bagian dalam otak" jelas dokter itu seperti membujuk bocah yang merengek.
"Saya baik-baik saja dokter, saya sudah tidak pusing lagi, coba lihat" desak Jason sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang sebenarnya memang masih pusing.
Wulan hanya ternganga, tangannya berulang kali terangkat. Mencari kesempatan untuk menyela perdebatan antara dokter dan pasien itu. Tapi nihil tuannya itu mendadak berubah menjadi seperti bocah yang keras kepala.
Bahkan Wulan bisa melihat air muka sang dokter yang menjadi sedikit jengkel.
Gadis itu menghela nafas dan memilih menutup mulutnya.
"Anda berkali-kali pingsan kemarin pak, penyebabnya adalah trauma di kepala anda tersebut, jadi kita perlu observasi lebih lanjut, kita tidak bisa mengambil resiko" tukas si dokter wanita sambil menghela nafas panjang mulai gusar, pasiennya kali ini benar-benar mirip bocah yang merengek minta pulang.
"Tapi tetap hari ini saya mau pulang" sungut jason yang juga mulai hilang kesabaran.
'Hiihh dasar pasien ngeyel, untung ganteng' batin dokter.
'ni dokter kok Ngotot banget sih, nggak tahu apa udah nggak sabar pengen denger jawaban wulan' batin Jason dalam hati.
Kewibawaan dan kedewasaan lelaki itu mendadak hilang jauh dari imej yang dia bangun selama ini, hanya karena semalaman tidak bisa tidur demi menanti pagi. Demi segera bisa meminta kepulangannya segera dari rumah sakit, dan mendengar jawaban gadis disampingnya itu. Menunggu itu menyebalkan, terlebih menunggu sebuah kepastian tentang hatinya yang entah akan berakhir seperti apa.
__ADS_1
***
Lanjut??!!