
Drrrttt...drrttt..
'dua puluh menit lagi aku sampai apartemen kamu ya'
Sebuah pesan singkat dari Bianca pada aplikasi chat miliknya terpampang di layar jernih smartphone pemberian Jason itu.
Sebuah pesan yang cukup membuat jantung Wulan berdesir dan berdisco ria, rasanya darahnya tiba-tiba surut dengan cepat, menyisakan wajah pucat pasi dan tangan yang dingin.
Gadis itu sadar bahwa saat ini pasti akan terjadi cepat atau lambat, tapi tetap saja hal itu membuatnya gelisah juga.
'oke'
Hanya jawaban singkat itu yang bisa dia tuliskan, dengan cepat Wulan berlari mempersiapkan semuanya.
Seperti kata indah, tunangan Jason harus selalu cantik.
Gadis itu berdandan dengan hati-hati, persis seperti yang indah ajarkan kemarin. Dia tidak akan mengecewakan dan mempermalukan Jason, dia harus membuat semuanya sempurna.
Wulan memilih outfit yang paling bagus yang berada di dalam paperbag berlogo butik terkenal itu.
Sebuah dress simpel di bawah lutut berwarna pastel. Gadis itu ingin terlihat feminim dan anggun.
Dia tidak tahu kemana Bianca akan membawanya pergi, tapi mengenakan jeans dan kaos itu akan beresiko terlalu besar untuk salah kostum.
Setidaknya dengan dress sederhana namun tetap cantik tidak akan pernah salah untuk acara resmi ataupun sekedar hang out santai.
Ting tong
__ADS_1
Tepat ketika Wulan selesai merapikan rambutnya suara bell berbunyi.
Meski gugup Wulan berusaha melangkahkan kakinya dengan tegap.
Semua demi Jason, ahh tidak...demi dirinya sendiri juga. Bagaimanapun dia tidak akan suka jika ada gadis lain yang mendekati jasonnya.
Ohh apa yang dia pikirkan? Bukankah dengan begitu dia sendiri tidak berbeda dengan Bianca?!!
Gadis itu mengusir pikiran-pikiran aneh di kepalanya, setidaknya semakin masalah ini cepat berlalu akan semakin baik untuk semuanya.
Wulan membuka pintu dengan perlahan, memasang sebuah senyum secerah matahari di wajahnya. Ya meskipun tentu saja hatinya sepekat mendung yang siap luruh menjadi hujan.
Seorang gadis tinggi langsing dengan kaki yang jenjang berdiri disana, make up sederhana namun cerah menghiasi wajahnya yang memang cantik.
Dengan kacamata hitam berlogo kecil sebuah merk ternama terpasang di atas hidungnya yang runcing.
Sebuah dress cantik berwarna tosca yang cerah ceria membalut tubuhnya yang mirip model profesional.
"Hai, silahkan masuk" jawab Wulan sambil membukakan pintu lebih lebar.
Bianca melangkahkan kakinya dengan mantap, matanya menelusuri seisi ruangan itu.
Tempat yang bagus, tapi tidak ada kesan feminim sedikitpun yang terpancar darinya.
"Silahkan duduk, mau minum apa?" Tanya Wulan ramah, beberapa kali gadis itu berdehem mengusir kegugupan di hatinya.
"Apa aja" jawab Bianca sambil mendaratkan tubuhnya pada sofa yang empuk berwarna abu-abu, benar-benar bukan selera wanita seperti dirinya.
__ADS_1
"Oke, tunggu ya" jawab Wulan sambil berlalu.
Gadis itu melangkah cepat menuju dapur, berulang kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Berusaha sekuat tenaga menenangkan hatinya.
"Oke Wulan kamu pasti bisa, semua akan baik-baik saja huuffftt" gumamnya sambil membawa baki berisi dua cangkir teh menuju ruang tamu.
"Silahkan diminum" ucap Wulan sambil menyodorkan cangkir berisi teh hangat ke hadapan bianca.
Gadis itu mengangguk kecil, matanya menyapu seluruh ruangan itu, mengamati setiap detil dan sudut ruangan. terlalu didominasi dengan gaya interior dan desain yang maskulin, sangat aneh dan cukup mencurigakan.
"Apartemen kamu nyaman banget ya? Ini yang desain siapa, kamu sendiri?" Tanya Bianca.
"Emm enggak, desainnya memang seperti ini sejak aku beli dari pemiliknya yang lama" jawab Wulan.
"Ohh" jawab Bianca singkat, membuat Wulan menghembuskan nafas penuh kelegaan.
"Jadi kamu tinggal disini sendiri? Keluarga kamu dimana?" Tanya Bianca, sorot matanya tampak tajam menembus manik hitam wulan, meskipun begitu seulas senyum menghiasi wajahnya.
"Di luar kota, aku tinggal di kota ini sendirian" jawabnya dengan tenang, atau lebih tepatnya berusaha tenang.
"Emmmh" Bianca hanya mengangguk sambil menyeruput teh.
Wulan mendaratkan tubuhnya di sofa tepat di hadapan Bianca.
Ujung jemarinya terasa sedingin es, beberapa kali gadis itu menelan ludahnya dengan kasar, setiap detik terasa begitu lambat. Jantungnya seolah bersiaga jika tiba-tiba menerima serangan hal mengejutkan yang mungkin saja bisa terjadi.
"Emmh jadi gini, hari ini tuh aku dapet undangan di acara grand opening cabang baru butiknya temen mama aku. Karena aku nggak ada temen disini, makanya aku mau ajak kamu, bisa kan?" Ucap Bianca sambil menatap Wulan dengan wajah memohon.
__ADS_1
Wulan hanya mengangguk dan tersenyum, jika saja ada pilihan untuk menolak, tapi itu tidak mungkin.
"Yaudah, sekarang kita berangkat keburu telat soalnya" ucap Bianca sambil melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya.