
"tuan..." Mata Wulan membeliak melihat siapa yang berdiri di balik pintu.
Jason menatapnya beberapa saat, mengamati wajah wulan. Mata dan hidungnya memerah, Jason yakin ada sesuatu yang terjadi pada gadis dihadapannya itu.
Wulan mematung membeku dalam ketakutan dan rasa bersalah, membuat tangannya sedikit bergetar di balik punggungnya.
Beberapa kali dikerjapkan matanya, mengepalkan kedua tangannya sekedar mengumpulkan sedikit keberanian di dalam dirinya, bersiap menghadapi kemarahan lelaki yang berada di depan matanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Jason sembari meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu.
Raut wajahnya menunjukan kekhawatiran, matanya seolah mencari-cari sesuatu yang salah dari wajah Wulan.
Membuat Wulan sedikit terkejut mendapati perlakuan yang berbanding terbalik dengan bayangannya.
"Tuan tidak marah?" Tanyanya hati-hati.
"Marah kenapa? Ayo duduk" jawab Jason, kali ini tangannya meraih pergelangan tangan gadis itu, membuatnya mengikuti langkah kaki Jason menuju sofa ruang tamu.
"Maaf tuan, maafkan saya" cicit Wulan lirih.
"Maaf untuk apa? Bukannya kamu yang marah ya tadi di telepon?" Jawab Jason.
" Maaf soal itu tuan, saya pikir itu dari orang iseng pengganggu, maaf atas kelancangan saya tuan, tuan bisa hukum saya kalau itu perlu, tapi tolong maafkan saya tuan, tolong...." Wulan berbicara begitu banyak tidak seperti biasanya.
"Ssshhhh" Jason menempelkan jari telunjuknya di bibir gadis itu, membuat Wulan menghentikan ocehannya seketika.
"Siapa yang marah? Justru kamu yang terdengar marah saat telepon tadi, kalau kamu terganggu aku minta maaf" ucap Jason tersenyum.
__ADS_1
Ya, pria itu tersenyum. Senyum tulus dan menawan yang begitu jarang diperlihatkannya.
Senyum yang entah bagaimana tapi dapat membuat Wulan melupakan semua masalah hidupnya untuk sesaat.
"Dan aku baru tahu, ternyata kamu bisa mengoceh sebanyak tadi" Jason tertawa mengingat gadis yang biasanya pendiam itu mengoceh seperti tadi.
'ya tuhaaaan, dia tertawa' batin hati Wulan semakin tidak karuan.
Membuat degup jantungnya berdebar sampai mau meledak. Bagaimana dia tidak semakin jatuh cinta.
Pria itu jarang tersenyum apalagi tertawa, menampilkan giginya yang berderet rapi, tawanya membuat Wulan tanpa sadar ikut menyunggingkan senyuman di bibir mungilnya.
"Aku senang kamu bisa tersenyum, tadi kamu terlihat sangat murung, apa yang terjadi?" ucap Jason berubah sedikit lebih serius.
Wulan hanya menggeleng, tidak tahu harus menjawab apa. Apa dia harus mengutuki perasaannya dan pernyataan cinta Jason waktu itu sekarang ini??
Atau harus berteriak memaki kebodohan mereka berdua yang terjebak sandiwara terhadap Bianca??
Tidak bisa, dia ingin mencurahkan perasaannya yang buruk. Tapi tentu bukan pada pria ini.
"Apa kamu mencoba menutupi sesuatu? Aku buru-buru datang kemari karena khawatir dengan keadaan kamu" Jason menekankan, memaksa Wulan menatap wajahnya.
"Tidak apa-apa tuan, hanya saja tadi nona Bianca menelpon, mengatakan besok akan mampir kemari. Saya gugup tuan, itu membuat saya sedikit tertekan" jawab Wulan.
"Ahh soal itu, kamu tidak perlu khawatir, sebisa mungkin aku akan usahakan mendampingi kamu setiap kali dia berusaha mendekati kamu. Setidaknya dia sudah cukup percaya karena alamat dan kontak kamu sudah aku berikan" Jason menjelaskan rencananya.
"Dan lagi, jangan panggil dia nona. Dia tidak lebih baik dari kamu" ucapnya tegas, dia benci setiap kali mengingat bagaimana Wulan merendah, terlebih saat mendengar gadis itu menyebutnya tuan.
__ADS_1
"Saya harus bagaimana, itu kenyataannya tuan. Orang kecil seperti saya terbiasa seperti itu" jawab Wulan.
"Tapi kamu sekarang adalah tunanganku, meskipun hanya pura-pura" ucap Jason tegas.
'andai saja kamu mau menerima perasaanku, pasti itu akan menjadi kenyataan bukan sekedar kepura-puraan' batin Jason.
Wulan menunduk, mendengar kata itu diucapkan terasa menyayat perasaannya.
Jika bisa ingin rasanya dia berharap pada Tuhan untuk membuat semua itu menjadi nyata, tapi dia tahu diri dan bukankah itu seolah membuat dirinya begitu serakah.
Perasaannya meluap saat itu, ingin sekali dia mengucapkan kata-kata itu. Apakah mungkin pernyataan cinta Jason itu belum terlambat untuk dia terima saat ini?
Tapi bagaimana dengan Andini?
Tapi bagaimana pula dengan perasaannya sendiri saat ini.
Sekaliii saja, mungkinkah dia cukup berani?
Wulan mendongakkan wajahnya menghadap lelaki yang menurutnya begitu tampan itu, lelaki yang menjadi impian dari setiap gadis, lelaki yang terasa hanya menjadi penghias mimpi-mimpinya,
"Tuan, aku....."
Hehe, penasaran nggak Wulan mau ngomong apa ya??
komen ya!! ayo dong jangan cuma jadi silent readers dong!!! biar author tambah semangat gituu!!
ditunggu ya!!! thank you 🙏💖💖
__ADS_1