My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 51


__ADS_3

Jason tersenyum kecil sembari duduk dihadapan Ibram.


Tangannya memegang sekaleng soda kemudian menenggaknya sebentar, dan dengan sebuah isyarat tangan mempersilahkan Ibram untuk meminum soda di hadapannya.


"Saya cuma ingin bertanya tentang beberapa hal" Jason memulai.


Tangannya meraih sebuah map berwarna biru yang tampak familiar di mata Ibram.


Sedikit banyak lelaki berkacamata itu tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Tentu saja, silahkan" jawab Ibram dengan santai.


Tangannya meraih soda dingin dengan buliran basah mengembun di kalengnya.


"Saya cukup terkejut mengetahui bahwa anda ternyata putra dari tuan Darmawan. Kalau saja hari itu saya tidak mendengar langsung pernyataan dari ibu anda mungkin sampai detik ini saya tidak akan menyadari hal itu" kata Jason menatap lurus padanya.


"Lalu?" Tanya Ibram dengan begitu tenang.


"Kenapa anda menyembunyikan identitas anda, pak Arya?" Tanya Jason penuh penekanan pada penyebutan namanya.


"Saya tidak pernah menyembunyikan apapun dari siapapun" jawab ibram sambil menyunggingkan senyuman khasnya.


"Benarkah, lalu kenapa anda tidak mencantumkan nama belakang keluarga anda di sini?" Tanya Jason mengetuk lembaran map berwarna biru itu.


"Apa itu penting pak Jason?? Saya rasa itu tidak penting. Dengan atau tanpa nama belakang keluarga saya, tidak akan ada orang yang mengenali saya. Dan sejujurnya saya tidak peduli orang tahu saya atau tidak" Ibram menjawab dengan tatapan yang tak jauh berbeda dari Jason.


"Ya mungkin memang benar yang anda katakan, sebagai orang yang terjun di dunia bisnis sama seperti orang tua anda, saya tidak banyak mendengar tentang anda, pewaris keluarga Darmawan" terang Jason.

__ADS_1


"Tapi hal itu cukup menggelitik benak saya, kenapa anda yang jelas seorang pewaris perusahaan besar justru memilih menjadi seorang guru privat anak-anak? Itu terdengar tidak masuk akal bagi saya" lanjut Jason.


"Sepertinya sedari awal sudah pernah saya katakan, saya suka anak-anak, bersama anak-anak seperti sebuah obat bagi saya atas trauma masa kecil saya karena kehilangan seorang adik" jawab Ibram.


"Hanya itu?" Jason mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


'Alasan macam apa itu?' batin Jason dalam hati.


"Iya" jawab Ibram dengan lugas.


Ibram tidak berbohong atas apa yang dia ucapkan, tapi juga tidak sejujur yang Jason ingin tahu.


Memang dia kehilangan adik perempuan satu-satunya yang sangat dia sayangi ketika bocah itu masih sangat kecil.


Lalu apa hubungannya dengan pilihan hidupnya yang akhirnya membuatnya terdampar dengan hanya menjadi seorang guru privat dan meninggalkan fasilitas mewah seperti orang tuanya?


Adik kecilnya yang malang, memang memiliki kelainan jantung.


Kedua orangtuanya terlalu sibuk dengan urusan bisnis masing-masing.


Bahkan disaat putri bungsu mereka dalam kondisi terburuk dan sangat membutuhkan kehadiran keduanya. Ibram kecil terus menerus menangis meminta orangtuanya segera pulang kala itu.


Hingga pada akhirnya, tuhan berkehendak lain. Adiknya yang malang itu diambil kembali oleh Tuhan.


Bahkan disaat itu orangtuanya tidak berada disampingnya.


Ibram kecil meraung, kesedihan yang mendalam dan amarah yang menyatu dalam dirinya membuat anak sekecil itu membenci orang tuanya.

__ADS_1


Trauma itu begitu membekas di hati membuatnya bersumpah tidak akan menjadi seperti orangtuanya.


Hal itu yang mendasari semua keputusan Ibram selama ini.


"Kalau hanya itu, kenapa anda tidak menikah saja dan memiliki banyak anak?" Tanya Jason terkekeh sinis.


"Ya, itu ide yang bagus, segera setelah saya menyatakan perasaan pada wanita yang saya sukai. Jika dia setuju saya akan segera menikahinya" Ibram tergelak sendiri.


"Sekarang giliran saya" ucap Ibram dengan tawa yang sudah menghilang, berganti dengan raut yang serius.


"Kenapa anda mengakui Wulan sebagai tunangan anda? Apa yang sedang coba anda tunjukan pada semua orang?" Tanya Ibram tak kalah sinis.


"Apapun alasannya, itu bukan urusan anda" jawab Jason terpojok.


Benar, Ibram pasti curiga kenapa tiba-tiba jason mengakui Wulan sebagai tunangannya di hadapan umum. Apa mengakui bahwa secara tidak langsung Jason memanfaatkan Wulan untuk menyelamatkan diri dari Bianca adalah tindakan yang tepat? bukankah itu akan membuatnya tampak benar-benar seperti seorang pecundang.


"Wah wah anda benar-benar curang pak Jason, anda bertanya banyak hal terhadap urusan pribadi saya. Dan saya menjawab semuanya. Lalu kenapa sekarang giliran saya yang bertanya anda tidak mau menjawab" Ibram tersenyum dengan sinis dan menggelengkan kepalanya.


"Huufffttt"


Jason menghela nafas panjang dan berat. Benar juga posisinya dengan Ibram saat ini seri.


Masing-masing dari mereka punya hal yang memang mau tidak mau harus diperjelas.


"Baiklah, jadi begini...." Jason pada akhirnya menjelaskan semua yang terjadi tentang Bianca dan semuanya.


Tentu saja Ibram tidak terkejut, sebelumnya lelaki itu sudah tahu lebih dulu dari Wulan. Bertanya kepada Jason adalah satu-satunya cara terlihat normal sebagai seseorang yang memang mengenal siapa Jason dan Wulan dengan baik.

__ADS_1


Pada akhirnya kedua lelaki itu membuat semuanya jelas dan selesai pada saat itu juga.


Tapi aura persaingan tentang satu hal tidak pernah selesai, justru baru dimulai.


__ADS_2