
"mas, kamu gak ke kantor?" Tanya Wulan mendapati suaminya setia disisinya.
"Pertanyaan kamu aneh sayang, bagaimana mungkin aku pergi ke kantor sementara kondisi kamu seperti ini," jawabnya sambil menggeleng.
"Aku nggak apa-apa mas, cuma perlu istirahat. Lagipula disini banyak perawat yang bisa bantu aku," ucap Wulan.
"Aku nggak mau urusan kamu terbengkalai karena aku," imbuhnya.
Lagi-lagi Jason menggeleng, tidak mengerti jalan pikiran sang istri.
"Tidak ada yang lebih penting dari kesehatan kamu dan calon bayi kita, termasuk urusan kantor. Kalau cuma aku nggak ke kantor beberapa hari itu tidak akan membuat perusahaan bangkrut, toh itu perusahaan keluarga aku, jadi aku bebas untuk datang atau tidak," jelasnya.
"Iya aku tahu mas, tapi aku takut karyawan kamu menganggap bos mereka nggak profesional," terang Wulan lagi.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu sih? Sekarang coba aku tanya, kalau aku yang sedang sakit dan kamu di posisi aku, apa kamu akan tetep pergi kerja?" Jason balik bertanya.
Wulan terdiam, kemudian mengulas senyuman di wajahnya yang pucat.
Apa yang diucapkan Jason memang benar adanya, tentu dirinya tidak akan meninggalkan Jason barang sekejap saja.
"Kalau kamu yang sakit aku nggak akan ninggalin kamu mas," jawabnya tersenyum.
Jason mengangguk, "nah itu kamu ngerti."
"Aku nggak akan ninggalin kamu soalnya aku kan nggak kerja mas," Wulan menambah sambil terkikik.
Jason menggeleng, kemudian mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Udah pokoknya kamu nggak perlu mikirin apa-apa, yang terpenting sekarang adalah kesehatan dan kandungan kamu, aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan calon bayi kita," Jason mengelus puncak kepala Wulan, menatap istrinya penuh kasih.
Wulan mengangguk, hatinya membenarkan apa yang Jason ucapkan.
Sama halnya dengan Jason, Wulan juga menginginkan agar janinnya sehat dan baik-baik saja, hanya itu.
"Mas, Rayyan nggak cari kita?" Tanya Wulan tiba-tiba teringat sang putra.
"Kamu nggak perlu khawatir, ada bi Irah di rumah. Lagipula dulu sebelumnya juga Rayyan terbiasa dengan Bi Irah kan, dia pasti baik-baik saja," jawab jason.
Tentu yang sebenarnya adalah Rayyan merengek ingin bertemu dengan bundanya.
Jason tahu akan hal itu, baik bi Irah maupun pak Amat melaporkan segala sesuatu yang terjadi di rumah.
Bi Irah juga melaporkan bahwa Rayyan sudah sedikit melunak dan mau bersama Sarah.
__ADS_1
Entah hanya perasaanya saja atau apa, tapi Jason merasa was-was jika keponakannya itu dekat dengan Sarah, meskipun Sarah adalah nenek kandungnya.
Jason belum percaya sepenuhnya dengan wanita tua itu.
"Iya mas, aku cuma kepikiran aja sama Rayyan," suara Wulan lirih.
Jauh di lubuk hati Wulan, perasaannya mengatakan Rayyan pasti mencarinya.
Mungkin Jason tidak akan pernah tahu karena lelaki itu selalu disibukkan urusan kantor.
Tapi hampir setiap hari, sebagian besar waktu Rayyan adalah bersama Wulan, bunda barunya.
Bahkan Jason mungkin tidak akan pernah tahu, Rayyan semakin manja dan bersikap posesif terhadap dirinya.
Hanya mau makan jika Wulan yang menyiapkan dan menyuapinya.
Hanya mau tidur siang jika Wulan berada di dekatnya.
Wulan sama sekali tidak pernah keberatan akan hal-hal itu.
Wulan menyayangi Rayyan tulus sejak awal, dan tidak pernah berubah sedikitpun, bahkan kian bertambah.
Dan kini, ini pertama kalinya dia jauh dari Rayyan untuk waktu yang lama setelah dirinya resmi menyandang status sebagai bundanya.
'ray, sedang apa sekarang?' batinnya.
"Ray mau ketemu bundaaa, hwaaa..."
Rayyan menangis entah untuk yang keberapa kali, merajuk ingin menemui bundanya.
"Oma bohong, katanya mau Anter tempat bunda, hwaa.." teriakannya semakin kencang sambil menghentakkan kaki.
Sarah menghela nafas panjang, kesabarannya habis.
Sejak tadi segala macam upaya dia lakukan untuk membuat Rayyan berhenti menangis.
Tapi usahanya terasa sia-sia, Rayyan tak bergeming.
Ingin rasanya Sarah berteriak pada bocah lelaki yang merupakan cucunya itu.
'dia bukan ibu kamu, ibu kamu Andini bukan wanita kampung macam Wulan!'
Rasanya Sarah ingin berteriak dan memaki, tapi semua hanya bisa tertahan di dadanya.
__ADS_1
Sabar, dia harus bersabar jika ingin semuanya berjalan sesuai apa yang telah dia rencanakan.
"Ray, kita ke toko ujung sana yuk. Kita beli eskrim, sambil nungguin bunda sama ayah, siapa tahu kalau kita tunggu disana mereka cepat pulang," bujuk Sarah berjongkok di hadapan Rayyan.
Sepertinya bujukannya berhasil, terbukti Rayyan mulai mau menatapnya sambil berusaha menghentikan tangisannya.
Bocah itu kemudian mengangguk, tangisnya mereda menyisakan isakan-isakan kecil.
Sarah menggandeng bocah itu, menyusuri jalan perumahan yang masih sepi.
Warga perumahan elit biasanya masih berkutat dengan kesibukan masing-masing di siang hari bolong seperti saat ini.
Sarah membelikan sebuah eskrim coklat dengan taburan kacang kesukaan Rayyan, dan satu kantong besar keripik kentang.
Kemudian mereka mulai duduk di bangku taman, Rayyan mulai menikmati eskrim dingin di cuaca yang terik.
"Oma, kalau kita tunggu disini ayah sama bunda nanti cepat pulang ya?" Tanya bocah lugu itu sambil menjilati eskrim favoritnya.
"Iya, kalau mereka sayang sama rayyan mereka pasti cepat pulang. Kasian cucu Oma gak diajak ya?" Ucap Sarah memancing emosi si kecil Rayyan.
"Ayah sama bunda sebenarnya pergi kemana sih Oma?" Tanya bocah kecil itu menghentikan aktivitasnya menjilati eskrim.
"Oma juga nggak tahu, mungkin lagi pengen jalan-jalan bertiga," jawab Sarah.
"Kok bertiga, ayah bunda sama siapa? Jalan-jalannya kok aku nggak diajak," Rayyan mulai berkaca-kaca.
"Ya bertiga sama dedek bayinya dong Ray, Oma kan sudah pernah bilang, ayah sama bunda pasti lebih sayang sama dedek bayinya, makanya perginya cuma bertiga," terangn Sarah lagi semakin menyulut api cemburu di dada kecil Rayyan.
"Nggak! Oma bohong, ayah sama bund sayang Ray juga! Oma jahat, huuu..huuu..." Rayyan kembali menngis histeris.
Sarah mendekat, mengelus kepala bocah itu dan berkata dengan lirih.
"Dengerin Oma, Oma nggak jahat, Oma sayang sama kamu, cuma Oma satu-satunya di dunia ini yang sayang sama kamu dan tidak akan pergi meninggalkan kamu, jadi Oma minta mulai sekarang kalau ada apa-apa Rayyan bilang sama Oma," bujuk rayu Sarah pada Rayyan yang masih tersedu.
Perasaan bocah kecil yang belum mengerti apapun itu terasa hancur akibat ucapan Sarah.
Dia tidak suka jika ayah dan bundanya melupakan dirinya dan memilih menyayangi adiknya yang masih di perut Wulan.
Rayyan tidak suka, Rayyan benci pada dedek bayi yang jahat itu
Dedek bayi jahat karena merebut ayah dan bunda miliknya.
Kata-kata Sarah mulai merasuki pikiran kecil Rayyan, mengisi pikirannya dengan bisa yang mematikan.
__ADS_1
Meracuni hatinya yang masih suci dan polos dengn kebencian yang dirangkai olehnya.
💖💖💖