
"tuan aku..." Ucap Wulan terhenti.
"Hmmm?" Jason menatap gadis di hadapannya itu penuh tanya.
Wulan ragu-ragu untuk mengatakan, akal sehatnya mulai mendominasi.
Dia sadar sebelum terlambat, mengatakan perasaannya pada Jason saat ini hanya akan memperburuk keadaan.
Ya, mungkin itu akan menjadi hal yang paling indah bagi keduanya.
Tapi jika itu berarti menyakiti hati banyak orang, maka sampai kapanpun tidak akan pernah Wulan lakukan.
Dia tidak bisa menutup mata begitu saja tentang perasaan Andini, terlebih sampai menyakiti Rayyan dengan menghancurkan keluarga orangtuanya.
Wulan menyayangi Rayyan tanpa syarat selama ini, maka begitu pula seharusnya cintanya untuk Jason.
"Ada yang mau kamu sampaikan?" Jason menatap lekat pada bola mata jernih milik Wulan.
"Aahh, tidak ada tuan..emm saya hanya takut kalau sampai merusak semua rencana ini tuan" jawab Wulan beralasan.
"Aku sudah bilang, kamu tidak perlu khawatir" kata Jason dengan lembut.
Menatap pria itu berlama-lama, mendengarkan suaranya, berada di sampingnya sedekat ini membuat lagi-lagi Wulan goyah dan lupa diri.
Sekuat yang dia bisa, berusaha melawan perasaannya.
"Aku tidak akan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, karena seperti yang sudah aku katakan, aku mencintai kamu" ucap Jason dengan yakin, tidak perduli gadis itu menerima atau menolaknya lagi, tapi yang jelas dia ingin Wulan tahu bahwa perasaannya sungguh-sungguh.
Gadis itu hanya terpaku, matanya tidak bisa beralih dari mata coklat teduh yang penuh cinta di depannya.
Kepalanya pusing, ada sensasi ringan di kepalanya, mungkin saking ringannya tubuhnya terasa melayang terbang, menjauh dari tanah yang dipijaknya.
Dan selalu perutnya terasa aneh, degup jantungnya terasa begitu cepat sampai rasanya dapat didengar oleh telinganya sendiri.
Hatinya memberontak minta didengarkan, dan mulai memasung akal sehat yang sedari tadi menguasai pikirannya.
Jason menatap wajah lugu di hadapannya, wajah yang selalu menghantui siang dan malamnya.
Pipi yang memerah, bibirnya melengkungkan senyuman tipis di kedua sudutnya.
Matanya jernih dan hangat penuh harap, tidak tampak kebencian dan penolakan apapun
Gadis itu tidak marah atas ungkapan cintanya, dia tidak marah.
Jason merindu, tidak bisa menahan untuk memeluk gadis lugu yang membuatnya mabuk kepayang.
Direngkuhnya tubuh mungil itu, dengan resiko mendapat tamparan pun akan dia terima.
__ADS_1
Meraih Wulan masuk kedalam dekapannya, berharap gadis itu mendengar hatinya yang selalu menyebut namanya.
Tubuh mungil itu diam tanpa melawan untuk sesaat, Jason tersentak ketika merasakan kedua lengan gadis itu melingkar ditubuhnya, membalas pelukannya.
Jika bisa dia ingin menghentikan waktu, merasakan kebahagiaan seperti ini sedikit lebih lama.
Entah berapa lama hal itu terjadi, keduanya enggan melepaskan satu dengan yang lain.
Bagi Wulan, jika mimpi maka biarkanlah mimpi ini menjadi nyata meskipun hanya sekejap.
Jason melonggarkan pelukannya, ingin kembali menatap wajah gadis lugu yang dicintainya.
Gadis itu tersenyum?? Ya, dia tersenyum. Apakah itu artinya cintanya terbalas walau sedikit saja???
Meski dengan ragu, tapi dia sendiri tidak bisa menghentikan tindakannya,
Dikecupnya dengan lembut bibir gadis itu, meski terkejut namun lagi-lagi Wulan tidak menolak.
Kali ini Jason tidak berhenti, dia tidak ingin berhenti merasakan lembutnya bibir manis gadis yang mengacak-acak perasaannya beberapa waktu terakhir ini.
Wulan tidak menolak, hatinya tidak ingin menolak.
Biarlah dia bersalah kali ini saja, dia ingin cintanya didengar.
Mereka berbagi rasa, ciuman hangat yang begitu lama. Seolah mengatakan semuanya, mencurahkan apa yang coba disembunyikan dalam hati mereka, apa yang tidak bisa disampaikan secara nyata.
Ada rasa bahagia, malu dan sedikit kecanggungan.
Kebingungan yang lucu yang melanda keduanya membuat mereka membisu karena tidak tahu harus berkata apa.
Wulan hanya menunduk malu, sementara Jason menatap ke segala arah menghilangkan kegugupan yang mendadak muncul.
Matanya menatap jam dinding, sudah hampir setengah tujuh malam.
Bukankah tadi rasanya masih siang?? Otaknya berputar cepat, secepat waktu yang berlalu.
"Emmhh, Wulan kamu sudah lapar?" Tanya Jason menghilangkan kecanggungan yang terjadi.
"Ahh iya, lapar" gadis itu menjawab cepat, lebih cepat dari pikirannya.
"Kita makan dulu ya" kata Jason.
"I..iya,emmhh sebentar saya ke kamar mandi dulu" ucap gadis itu sambil beranjak cepat masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu jawaban apapun dari Jason.
Wulan menutup pintu kamarnya, menepuk-nepuk pipinya sendiri, menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Mengutuki dirinya sendiri, yang kehilangan akal sehat. Otaknya entah tercecer kemana.
__ADS_1
Tapi ini bukan saat yang tepat untuk menyesali semuanya, segera dibukanya tas yang dibawakan oleh indah. Diambilnya satu buah dress cantik berwarna peach selutut dengan bagian atas yang tertutup namun terlihat anggun.
Wulan berlari cepat menuju kamar mandi, melakukan mandi kilat karena tidak ingin Jason menunggunya terlalu lama.
Sesaat kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi lengkap dengan dress cantik melekat ditubuhnya.
Kini Wulan tengah mematut wajahnya didepan cermin, memoleskan sedikit lipstik dan menyapukan bedak diwajahnya, ditambah sedikit blush-on berwarna peach, seperti yang indah ajarkan.
Gadis itu melangkahkan kakinya menuju dimana sang pangeran menunggu.
Dan pangerannya terkejut dengan kecantikan Cinderella yang menjelma menjadi tuan putri cantik di hadapannya.
Gadis itu tersenyum malu, sementara pria pujaanya terpana.
Dikala adegan alay itu terjadi,
Ting tong...
Bell berbunyi, mengacaukan adegan romansa dua insan di mabuk asmara.
Jason mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Begitu pula Wulan yang nampak penasaran siapa tamu yang datang.
Wulan melangkahkan kakinya cepat, ingin tahu siapa di balik sana.
Saat gadis itu membuka pintu, matanya terbelalak.
Pangeran lain menunggunya di luar sana.
"Hey, kita jadi makan malam kan di cafe bawah?? Wah kamu sudah persiapan secantik itu segala" ucap pria berwajah oriental itu.
"M...mm...mas Ibram?" Suara Wulan tercekat di tenggorokan.
Demi tuhan dia lupa sedah berjanji lebih dulu pada Ibram untuk makan malam.
Sementara di belakangnya Jason menatap tajam kearah kedua orang yang saling berhadapan di depan pintu itu.
Rasanya darahnya mendidih, kemarahannya memuncak sampai ubun-ubun.
'Gadis itu memberitahukan tempat ini pada guru sialan itu???? Dan mereka bahkan sudah punya janji makan malam???' hati jason berteriak tidak terima.
Hihi, author gemes sendiri lho nulis ini ... kakak-kakak readers gemes nggak?
jangan lupa jejaknya seperti biasanya ya..
thank you!! 💖💖🙏🙏😁
__ADS_1