My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
part 02


__ADS_3

Pagi ini Wulan bangun dengan perut yang bergejolak.


Ya, menjadi rutinitas sehari-hari baginya selama hampir dua bulan ini.


Tapi pagi ini ada yang berbeda, rasanya bagian bawah perutnya terasa nyeri dan mulas.


Sedangkan Jason sudah rapi dengan stelan jasnya, akan ada meeting dengan klien sepagi ini.


Lelaki itu tengah sibuk memeriksa beberapa berkas di ruang kerjanya.


Rasa nyeri di perutnya semakin bertambah, saat Wulan mulai bangkit dari ranjangnya.


Tangannya yang mulai terlihat kurus berpegang erat pada tepian ranjang.


Sementara sesuatu terasa bergejolak meminta dimutahkan dari lambungnya.


Entah mengapa keringat sebesar biji jagung mulai keluar dari pori-pori.


Rasa sakit sekaligus tidak nyaman sangat menyiksanya.


Dengan langkah gontai, wanita itu melangkah ke kamar mandi.


Mengeluarkan semua isi lambungnya, meski hanya cairan yang keluar.


Setelah semuanya keluar membuatnya merasa sedikit lega, lagi-lagi rasa nyeri terus mendera perut bawahnya.


Rasanya berdenyut mulas sekali.


Wulan menarik pakaian bawahnya, dengan bergetar sekaligus lemas bermaksud hendak buang air kecil.


Saat tiba-tiba matanya menangkap sesuatu menempel di pakaian dalamnya.


Warna merah sedikit pekat, menodai pakaian dalamnya yang berwarna putih.


Begitu mencolok, membuat wanita itu memucat dan ketakutan seketika.


"Darah..." Gumamnya tercekat.


"Darah..., Mas...Mas...!!" Wulan mulai berteriak ketakutan.


Kenapa ada darah di sana? Apa terjadi sesuatu dengan kandungannya.


Tidak, tidak! Wulan mencoba menepis semua pikiran menakutkan itu, namun darah itu menjadi bukti bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada kandungannya.


"Mas...!" Jeritnya mulai frustasi.


Jason yang mendengar teriakan istrinya bergegas meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya.


Segera berlari menuju ke tempat dimana istrinya berada.


Mata Jason menyapu seluruh kamar tidurnya, mencari keberadaan sang istri dengan jantung berdegup cepat, khawatir.


"Wulan?" Panggilnya.


"Mas..." Suara Wulan lirih terdengar dari balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Diiringi suara Isak tangis, membuat Jason ketakutan.


Apa istrinya jatuh di kamar mandi atau bagaimana?


Jason membuka pintu dan dilihatnya istri kesayangannya itu tengah setengah berjongkok, tangannya berpegangan erat pada tembok kamar mandi.


"Ada apa sayang? Kamu kenapa?" Jason begitu khawatir mendekat ke arah sang istri.


"Darah mas...perut aku sakit," jawabnya terbata diiringi isakan.


Jason menatap apa yang Wulan tunjukan, rasanya darahnya berdesir membuat wajahnya memucat.


Untuk sesaat Jason mematung kebingungan.


"Ka...kamu kenapa, itu...kita ke rumah sakit sekarang ya," ucap Jason segera membantu membenahi kondisi istrinya.


Dengan cepat mengangkat tubuh kurus Wulan dan menggendongnya cepat untuk turun ke bawah.


"Bi...bi irah!" Teriak Jason sambil mempercepat langkah kakinya.


Bi Irah datang dengan tergesa menghampiri tuannya dengan wajah yang terkejut sekaligus khawatir.


"Ya tuan, ada apa? Neng Wulan kenapa tuan?" Tanya wanita paruh baya bertubuh berisi tersebut.


"Tolong panggil pak Amat, siapkan mobil kami mau ke rumah sakit!" Jawab Jason cepat tanpa menghentikan langkahnya.


Bi Irah bergegas mencari keberadaan sang sopir tua, yang ternyata tengah mengelap mobil di depan garasi.


Sementara Sarah mengintip dari balik pintu kamarnya yang terbuka sedikit.


"Pak Amat, siap-siap antar tuan sama neng Wulan ke rumah sakit," ujar bi Irah setengah berteriak.


Pak Amat yang terkejut hendak bertanya, tapi segera diurungkan saat melihat Jason menggendong Wulan berjalan cepat ke arahnya.


Dengan sigap pak Amat segera membukakan pintu mobil dan membantu tuannya tersebut.


Wulan yang masih mengenakan piyama hanya pasrah didudukkan dalam mobil sambil beberapa kali meringis seperti menahan kesakitan.


Jason segera memutari mobil dan duduk disamping sang istri.


Memegangi tubuh Wulan yang lemas dan shock.


Istrinya tampak begitu ringkih, namun terus menangis.


Entah, yang jelas ketakutan menghinggapi pasangan yang tengah berharap menjadi orang tua itu.


Saat Jason dan Wulan telah pergi, Sarah mendekat ke arah Bi Irah yang masih mematung di depan pintu mengawasi mobil sang tuan hingga hilang di balik pagar.


"Ada apa sih bi? kenapa Jason teriak-teriak?" tanyanya sambil bersedekap, sementara matanya melongok keluar memastikan mobil Jason telah menjauh.


"saya juga gak tahu, Bu Sarah. tapi sepertinya neng Wulan sakit. tadi saya lihat sekilas ada noda darah di celana yang dipakai neng wulan. ya Allah, semoga neng Wulan sama bayinya nggak kenapa-napa ya Bu," jelas bi irah panjang lebar.


Sarah tidak menjawab, namun senyuman samar menghiasi bibirnya.


Menarik lengkungan diantara pipi yang mulai dipenuhi kerutan tanda penuaan.

__ADS_1


'Bahkan aku belum melakukan apa-apa, tapi sepertinya takdir memang memihak pada kita ndin. calon anak Jason akan pergi bahkan sebelum sempat melihat dunia. kamu yang tenang di sana ya ndin,' bisiknya dalam hati sambil tersenyum getir.


mengingat Andini sang putri satu-satunya yang kini telah tiada selalu sukses membuat buliran buliran bening lolos dari kedua sudut netranya.


🍂🍂🍂


Pak amat melajukan mobil berwarna hitam itu secepat mungkin menembus jalanan yang mulai dipadati kendaraan lain.


Tidak heran, jam-jam pagi seperti saat ini kendaraan sudah banyak berlalu lalang.


Jam anak-anak mulai berangkat sekolah, para pencari nafkah memulai hari-hari sibuknya.


"Pak Amat, tolong cepat!" Ucap Jason gusar.


Tangannya masih terus mengelus perut sang istri yang tubuhnya tengah dia dekap.


Seolah menguatkan calon bayi di perut sang istri dengan elusan lembut tangannya.


Berharap janin kecil itu tetap kuat dan baik-baik saja.


'tinn..tiinn'


Sesekali pak amat membunyikan klakson, mencari celah diantara pengguna jalan lain.


Yang mungkin saja, sama tergesanya dengan mereka saat ini. Tapi pak amat tidak peduli, yang terpenting nyonya mudanya bisa lekas mendapatkan pertolongan dokter.


Mata lelaki paruh baya dengan peci hitam yang tak pernah terlepas menutup kepalanya yang telah banyak ditumbuhi uban itu menatap lurus dan fokus.


Meski dalam hatinya tidak berhenti merapalkan doa untuk keselamatan nyonya majikan beserta calon anaknya.


Lebih dari tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


"Tolong istri saya sus,"


Jason merasa hampir frustasi, berteriak meminta seorang suster yang kebetulan berada di UGD.


Kemudian meletakkan sang istri pada sebuah kursi roda yang dibawakan oleh perawat yang tadi dipanggilnya.


Berapa lama Wulan di bawa di ruang tindakan, diperiksa oleh dokter kandungan yang menjadi langganannya.


Jason setia menunggu disampingnya dengan harap-harap cemas.


Bahkan tangannya mendadak sedingin es. Bibirnya terus komat Kamit melafalkan doa agar semuanya baik-baik saja.


Dokter memeriksa kondisi janin Wulan menggunakan alat USG, kemudian menggeleng.


Wajah Jason mendadak pias saat memperhatikan mimik yang ditampilkan oleh sang dokter.


Sang dokter sesekali menggeleng dengan kedua alis yang bertaut.


Jason membuka mulutnya ingin bertanya, namun diurungkan. Sebab sepertinya dokter masih terus memeriksa beberapa hal.


Hanya hatinya terus berharap dan berharap. Meski detak jantungnya mungkin melebihi seorang pelari maraton saat ini.


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2