My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 56


__ADS_3

Wulan POV


Aku berbaring dengan gelisah, entah apa sebabnya rasanya hatiku tidak tenang.


Tik tok tik tok


Suara detik jam kecil di dinding kamarku terasa menggema.


Biasanya rasa kantuk sudah merayapi tubuhku yang lelah seharian karena terkadang aku berlari mengejar Rayyan untuk membuat anak itu menghabiskan makan siangnya.


Atau melompat-lompat seperti kelinci setiap bocah kecil itu bermain-main dinosaurus dan aku harus memainkan peranku sebagai mangsanya.


Melelahkan, tapi juga menyenangkan setiap kali mendengar tawa renyah bocah itu.


Tapi kali ini bahkan rasa lelah dan pegal tidak mampu membuatku terlelap.


Tuan belum juga pulang, aku belum mendengar suara mobilnya.


Aku bangkit dari tidur dan duduk di tepian tempat tidur, memainkan smartphone pemberian tuan.


Membaca kembali deretan pesan yang terkadang membuatku tersenyum tanpa sadar.


Beberapa saat aku mendengar suara mesin mobil menderu di luar sana,


"Astagfirullah"


Tiba-tiba aku mendengar suara bi irah beristighfar, suara riuh beberapa orang terdengar dari luar.


Ada apa ya?


Tak perlu waktu lama, aku keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Lampu ruang tamu menyala, Bu Irah tampak menangis sesenggukan, pak Amat dan pak satpam juga tampak khawatir dan gelisah.


Beberapa lelaki yang tidak aku kenali tampak berbicara sesuatu pada mereka.


Siapa mereka? Tamu? Ada apa sebenarnya?


"Bi...?" Ucapku


"Neng, tuan neng. Huuu uuuu" bi Irah memotong sambil terus menangis.


"Tuan kenapa?" Tanyaku dengan kebingungan bercampur kekhawatiran.


Bagaimanapun juga tangis Bi Irah jelas menandakan sesuatu yang buruk terjadi pada tuan.


Aku khawatir, bingung, sekaligus takut bercampur penasaran.


"Tuan kecelakaan neng, ini pak polisi bilang sekarang tuan di rumah sakit, huuuhhuuuu" bi Irah terus terisak.


Lututku mendadak terasa lemas, kerongkonganku mendadak pahit.


Perasaanku yang sedari tadi tidak enak apa berhubungan dengan ini? Sebuah firasat?!


"Udah Bi, sekarang kita siap-siap ke rumah sakit aja, kita lihat kondisi tuan" kata pak Amat.


"Neng Wulan jaga rumah, biar bibi sama pak Amat yang kesana" ucap pria paruh baya itu lagi.

__ADS_1


Aku yang sejak beberapa menit lalu serasa membeku tersentak karena ucapan pak Amat.


Rasanya aku ingin menangis, mendengar lelaki yang mengisi relung hatiku sedang terluka sendirian di sana. Bagaimana kondisinya?


"Enggak pak, biar Wulan yang berangkat kesana sama pak Amat. Bi Irah dirumah aja, gimana kalau nyonya sewaktu-waktu butuh bi Irah" kataku dengan cepat dan berusaha terlihat kuat.


Bi Irah yang masih terisak mengangguk, setuju atas apa yang aku katakan.


Bukan tanpa alasan, nyonya Andini hanya mau tenang jika bi Irah yang mengurusi semua kebutuhannya.


Terakhir kali aku masuk ke kamarnya, aku mendapat bekas luka ini di dahiku.


"Iya deh neng, semoga tuan nggak kenapa-kenapa ya?!" Kata bi Irah sambil meremas kedua ujung jarinya dengan kekhawatiran yang tampak jelas di wajahnya yang mulai keriput.


"Ya udah ayo deh neng" jawab pak Amat ke arahku.


"Sebentar, Wulan ganti baju dulu" ucapku sambil bergegas kembali masuk kekamar untuk mengganti piyama tidurku dengan sepasang celana jeans dan kaos lengan panjang dan sebuah jaket.


Pikiranku terus berlarian, membayangkan hal-hal mengerikan terjadi pada tuan yang membuat airmataku tak terbendung lagi.


Pikiran bodoh dan konyol, tuan pasti baik-baik saja! Aku terus mengumpat, memaki diriku sendiri yang membayangkan hal-hal buruk terjadi pada tuan.


Itu tidak akan terjadi, aku tidak mau itu terjadi.


Tuaann bertahanlah, kumohon !


***


"Tuan pasti baik-baik saja ya neng" ujar pak Amat sambil terus mengemudikan mobil.


Kenapa rasanya begitu lama hanya untuk sampai ke rumah sakit.


Aku ingin segera melihatnya, apa dia baik-baik saja?


Aku cemas sekali, sampai-sampai kaki dan tanganku tidak berhenti bergerak selama perjalanan.


Tap..tap..tap..tap..


Aku dan pak Amat berlari, bergegas menuju ruang rawat inap VIP mengikuti suster jaga yang bertugas malam ini.


"Silahkan" ucap wanita berseragam putih itu sambil mendorong pintu ruangan yang terang dengan cat putih bersih.


Aku segera menerjang masuk, air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata perlahan meleleh dan mengaliri pipiku.


Aku hanya terdiam, menatap lelaki itu. Lelaki gagah yang sangat menyanyangi putranya.


Lelaki yang bisa membuatku merasa begitu nyaman di dekatnya, meskipun aku tahu itu salah.


Kini dia hanya terbaring lemah tak berdaya, dengan selang infus di tangannya.


Kepalanya tampak dibalut perban dengan bercak noda darah masih sedikit terlihat.


Kaki kirinya juga tampak dibalut perban.


"Apa dia tidur?" Tanyaku pada suster yang sedang memeriksa kondisinya.


"Beliau berkali-kali pingsan nona, menurut dokter itu disebabkan oleh trauma di kepalanya. Tapi saat ini kondisi pasien sudah cukup membaik" jawab suster itu sebelum berlalu keluar.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah ya neng kalau tuan baik-baik saja, bapak lega dengernya" kata pak Amat yang ternyata sedari tadi berdiri di belakangku.


Aku hanya mengangguk tanpa mengalihkan sedikitpun tatapan mataku dari tuan.


Jika saja aku bisa,rasanya ingin sekali aku menggenggam jemarinya untuk memberikan sedikit kekuatan padanya.


Bahkan dadaku bergemuruh hebat, aku ingin memeluknya, menemaninya melalui masa-masa sulitnya saat ini.


Hampir satu jam, dan aku tidak bosan terus duduk disamping brankarnya.


Pak amat tampak duduk di sofa, sesekali tertunduk dan hampir terjerembab karena mengantuk.


"Pak, pak amat" aku menggoyangkan bahu lelaki tua itu untuk membangunkannya yang sudah setengah tertidur.


"Iya neng" jawabnya sambil mendongak menatapku.


"Bapak pulang aja, biar wulan yang jaga tuan disini. Siapa tahu bi Irah butuh bantuan pak amat selama Wulan disini" ucapku padanya, kasihan jika lelaki setua dirinya harus menunggui di rumah sakit.


"Tapi neng Wulan nanti sendirian?" Jawabnya.


"Enggak pak, disini kan ada perawat, ada dokter" kataku, yang dijawab dengan anggukan kepala. Kemudian berpamitan untuk kembali kerumah.


Aku tahu, lelaki paruh baya itu terlalu lelah jika semalam ini harus begadang.


Di usianya yang tidak lagi muda, menjaga seseorang di rumah sakit itu bukan menjadi perkara yang mudah.


Sepeninggalan pak amat, aku kembali duduk disamping ranjang, disamping tuan yang terlelap.


Matanya terpejam dengan wajah yang memucat.


Aku memberanikan diri untuk menggenggam jemarinya.


Apakah aku terlalu kurang ajar?? Biarlah, aku hanya ingin menyalurkan cintaku padanya tanpa perlu dia tahu.


Entah berapa lama aku terus memandangi wajahnya yang terlelap damai, hingga rasa kantuk pada akhirnya mengalahkan pertahanan ku.


"Aaaaakkkkkhhh....bang Raaayyyy !! Huhu..hhuu"


Aku terlonjak mendengar suara tangisan dan teriakan yang tertahan.


Dengan cepat aku membuka mataku, menatap tuan yang ternyata telah sadar dan membuka sedikit matanya.


Peluh bercucuran di wajahnya, dengan nafas tersengal-sengal dan kebingungan. Apa dia baru saja mengingau?


Ahh itu tidak penting, yang jelas tuan jasonku telah sadar.


"Tuan, tuan sudah sadar??!! Syukurlah!!" Ucapku, tapi dia masih bergeming dan bingung.


"Tuan kenapa menangis??" Aku melihat cairan bening yang luruh dari kedua matanya, dan tuan mengusapnya sesaat.


"Wulan" ucapnya, sambil menarik tubuhku perlahan dengan tangannya yang masih lemah.


Tubuhku tidak menolak, dengan perlahan aku telah berada di dalam pelukannya. Aku membiarkannya mendekapku, aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, dan sebuah Isak tangis keluar dari mulutnya.


Dia menangis?? Kenapa? Apa yang terjadi??


***

__ADS_1


__ADS_2