
"Wulan...boleh Tante masuk?" Suara ketukan pintu diiringi suara Sarah dari balik pintu kamar Wulan.
Wulan yang baru saja selesai menyapukan minyak kayu putih di lehernya seketika menoleh pada pintu yang masih tertutup.
Ya, perempuan itu masih mengalami mual di pagi-pagi yang menyiksa. Setidaknya bau minyak kayu putih adalah salah satu yang cukup bisa diterima indera penciumannya.
"Iya Tante Sarah, silahkan." Wulan melangkah perlahan menuju pintu, dia tidak mau terus menerus menggunakan kursi roda.
Pintu kamar terbuka, menampakkan Sarah dengan senyum manis, di tangannya membawa nampan berisi semangkuk sup dan segelas jus jeruk yang tampak menyegarkan.
"Tante bawain kamu sarapan," ucapnya sambil sedikit meninggikan nampan di tangan.
"Wah, makasih Tante. Gak perlu repot-repot, Wulan bisa turun ke bawah. Atau kalau nggak biar bi Irah yang bawa makanan Wulan kesini." Wulan tersenyum sungkan, merasa tidak enak hati atas perlakuan dan perhatian Sarah padanya.
"Nggak apa-apa, enggak repot kok. Lagian ini tadi juga yang masak kan bi Irah, Tante cuma siapin terus Anter kesini buat kamu, karena Bi Irah lagi pergi ke pasar sekalian Anter Rayyan."
Wulan tersenyum hangat, tangannya masih mengelus perut yang sedari tadi rasanya tidak nyaman. Sarah melirik minyak kayu putih yang berada di tangan Wulan, "kamu masih mual?" Tanyanya.
"Iya, Tante," jawabnya singkat.
"Kalau gitu, lebih baik kamu makan dulu, habis itu minum obat pengurang mual-nya." Sarah menyodorkan nampan berisi sarapan ynag tadi di bawanya.
Wulan menatap mangkuk berisi sup tersebut, tapi sama sekali tidak berselera untuk mencicipi makanan itu. Namun matanya beralih pada sebuah gelas berisi cairan pekat berwarna oranye yang menggoda. Tampak begitu segar, mungkin lidah dan perutnya tidak akan menolak jika hanya mencicipi seteguk saja bukan?
Tangan Wulan terulur untuk meraih gelas tersebut, sementara Sarah terus memperhatikan dengan tatapan yang aneh dan tak berkedip. Seolah menghitung mundur bom yang siap meledak.
'ayo ... Minum Wulan,' bisik batinnya sendiri sambil terus mengawasi wanita ringkih yang tampak sayu itu mulai mengangkat gelas jus yang sangat segar menggoda.
Seringai tipis terbit di sudut bibir wanita tua licik yang bernama Sarah itu, ketika bibir Wulan menempel pada ujung gelas. Siap mengalirkan cairan pekat itu ke dalam kerongkongannya. Satu sesapan kecil membuat wajah Wulan mengernyit, sedikit asam membuat Wulan berhenti sejenak tak ingin melanjutkan minumnya.
"Ayo habiskan wulan, setidaknya perut kamu harus diisi sesuatu." Sarah membujuk, Wulan mengangguk kecil kemudian menempelkan kembali gelas itu pada bibirnya.
__ADS_1
**
'Praanngg'
"Aww, panas... panas...," Jason mengibas-ngibaskan tangan yang terkena kopi panas.
Cangkir yang tengah berada di genggamannya tadi terasa licin yang kemudian tumpah mengenai tangannya sebelum akhirnya terjun bebas ke lantai dan pecah begitu saja.
Jason sedang menikmati sarapan seorang diri di kamar hotel. Meminum kopi hitam yang masih panas mengepul ditemani dengan croissant.
Namun entah mengapa cangkir kopi itu terasa licin dan tumpah. Bersamaan dengan perasaannya yang mendadak tidak nyaman.
Jason tidak tahu apa, tapi rasanya hatinya begitu gelisah dan aneh.
**
Wulan meneguk habis jus yang dibawa Sarah, membuat wanita dengan rambut penuh uban itu tersenyum lebar. Setelah Wulan mengucapkan terimakasih lantas Sarah keluar dari kamar, meninggalkan Wulan sendirian.
Wulan menyeka bibirnya, mendadak rasa mual lagi-lagi mendera, membuat wanita itu mendesah sendiri. Bagaimana lagi, bahkan perutnya menolak apapun yang diisi meski hanya segelas jus buah.
Dengan berjalan perlahan Wulan masuk ke dalam kamar mandi, berjongkok dan mengeluarkan isi perut yang memang bergejolak minta di keluarkan.
Segelas jus buah yang baru beberapa menit lalu masuk pun kini keluar seluruhnya.
Wulan mengusap keningnya yang berkeringat, terengah-engah kemudian menyeka bibir dan wajahnya dengan handuk.
"Baru aja diisi, eh udah keluar lagi," gumamnya sendiri.
Saat Wulan kembali untuk merebahkan diri di ranjang, handphonenya yang terletak di atas nakas berdering.
Wajahnya berbinar dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Ya, hallo mas," sapanya.
"Wulan, kamu sedang apa? gimana keadaan kamu?" Tanya Jason dari seberang sana.
"Baik mas, cuma ya...seperti biasa, mual dan muntah."
"Kamu udah sarapan?"
"Tadi cuma minum jus, mas. Tapi malah keluar lagi."
"Hahh, ya udah. Kamu banyak istirahat ya, kalau perlu apa-apa langsung minta sama bi Irah. Jangan melakukan apapun yang berat-berat."
"Iya, iya, mas."
"Ya udah, aku meeting dulu ya, nanti aku telepon lagi."
"Oke mas."
Sambungan telepon pun terputus, di sini Wulan membaringkan tubuhnya. Sementara jauh di sana, Jason bernafas lega mengetahui istrinya baik-baik saja. Kekhawatiran yang datang tanpa alasan itupun sirna setelah mendengar bahwa Wulannya dalam kondisi baik.
Sepuluh menit berlalu, Wulan gelisah dengan peluh bercucuran di atas ranjang. Keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari setiap pori tubuhnya. Badannya merasa lemas, tapi perutnya mendadak keram dan nyeri yang tak tertahankan.
Tubuhnya yang memang lemah semakin lemas, sekuat tenaga Wulan bangkit dari tidurnya, hendak keluar mencari bantuan. Tangannya gemetaran memegang tepian ranjang. Perutnya semakin terasa di aduk dan panas nyeri sekali disertai keram.
"Aarrghh..." Rintihnya perlahan.
*****
💖💖💖
gimana nih Genk? Tante Sarah enaknya diapain? nakal banget soalnya 🤔😑
__ADS_1