My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
part 3


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan istri saya, dok?" Tanya Jason.


"Kandungan saya baik-baik saja kan, dok?" Wulan ikut menimpali dengan suara lemah.


Dokter wanita yang bernama dokter Anggun tersebut tampak membetulkan letak kacamatanya.


Kemudian menarik nafas panjang sebelum membuka suara.


Sementara wajah-wajah di hadapannya tampak pucat menunggu dengan kekhawatiran.


"Begini Pak, Bu, sebetulnya kandungan Bu Wulan merupakan kasus kandungan lemah. Dimana memang bisa ditandai dengan pendarahan seperti saat ini. Biasanya hal ini terjadi dan diperburuk akibat aktivitas fisik yang tergolong berat, apa Bu Wulan melakukan aktivitas yang berat akhir-akhir ini?


Sebetulnya untuk ukuran kasus lemah rahim semacam ini masih terlalu dini, menimbang usia kandungan Bu Wulan baru menginjak trimester pertama. Namun kita tidak bisa ambil resiko, jadi saya sarankan istri anda untuk bedrest di rumah sakit agar dapat mendapatkan perawatan yang optimal," jelas dokter anggun.


Baik Wulan maupun Jason sama-sama terkejut mendengar penjelasan dokter.


Ketakutan jelas membayang di wajah-wajah mereka berdua.


"La-lalu anak kami, dok?" Tanya Wulan sambil memegang perutnya.


"Beruntung kondisi janin baik-baik saja saat ini, meskipun sempat terjadi pendarahan. Dan saya sarankan untuk bedrest total Bu, jadi ibu tidak diperkenankan bangun dari tempat tidur, dan jangan melakukan aktivitas apapun karena itu sangat beresiko untuk keselamatan janin anda," ucap dokter anggun lagi.


"Baik dokter, apapun itu demi keselamatan bayi kami," jawab Jason menganggukkan cepat.


Tidak ada yang lebih penting saat ini dibandingkan dengan keselamatan istri dan calon anaknya.


"Baik kalau begitu silahkan bisa bertemu bagian administrasi untuk pengisian prosedur rawat inap," dokter anggun kemudian mengisi laporan rekam medis di hadapannya, sementara Jason mengikuti seorang perawat.


Beberapa saat kemudian Wulan telah dipindahkan keruang rawat inap VIP, wanita itu tampak tidur terlentang dan mengelus-elus perlahan perutnya.


Sambil berbisik pada janin yang berada di rahimnya.


"Kamu yang kuat ya sayang, kita berjuang bersama. Bunda pasti akan terus jaga kamu sampai kita bisa ketemu," bisiknya lirih.


Jason datang mendekat, mengelus perlahan rambut sang istri.


Lelaki itu menggenggam erat jemari Wulan, menautkan perasaan dan kasih sayang lewat genggamannya.


"Kamu harus kuat sayang, demi anak kita," ucap Jason seraya mencium punggung tangan istrinya.


"Iya mas, pasti," jawabnya sambil tersenyum dipaksakan.

__ADS_1


"Kamu kenapa sampai kecapekan, bukannya dokter pernah bilang untuk jangan aktivitas terlalu berat?" Tanya Jason menyelidik.


"Aku gak ngapa-ngapain kok mas, beneran. Mungkin karena memang kondisi rahim aku lemah, seperti yang dokter bilang tadi," Wulan berkilah.


Matanya kemudian menerawang, mengingat kejadian kemarin.


Saat Rayyan terus membuatnya mengejar bocah itu untuk makan siang.


Wulan terlalu menyayangi putra sambungnya itu, hingga terkadang abai dengan kondisinya sendiri.


Dan disinilah dirinya sekarang, Wulan tidak mungkin bisa jujur pada Jason.


Jason tidak tahu akan hal itu, ya di pagi hari saat morning sickness itu melanda, Wulan akan terkapar dan terus memuntahkan isi dalam perutnya.


Namun hal itu berangsur baik saat hari mulai siang.


Dan sudah menjadi rutinitas baginya untuk menyiapkan makan siang putra kesayangannya itu sepulang sekolah taman kanak-kanak, meskipun kondisi Wulan terbilang lemah.


Rayyan begitu dekat dengan Wulan selama ini, dan Wulan tidak akan melewatkan hari-harinya tanpa menemani Rayyan.


Meskipun kini telah ada Sarah di rumah itu.


Jujur Wulan akui, Rayyan memang tidak mudah untuk dekat pada neneknya itu, meskipun selama sebulan terakhir ini Sarah selalu berusaha mendekati dan mengambil hati cucunya, anak dari Andini.


Apakah Rayyan akan mengerti bahwa Wulan harus terbaring di rumah sakit dan tidak bisa menemaninya?


***


"Bundaa...," Teriak Rayyan ketika memasuki rumah.


Bocah itu tampak baru saja pulang, dengan seragam berwarna cerah dan sebuah tas punggung mungil menempel punggungnya.


Tangannya menenteng sebuh botol minum karakter Ironman.


"Bunda...!" Teriaknya sekali lagi, namun tak ada jawaban.


Di belakangnya tampak bi Irah tengah menutup pintu, ya bocah itu pulang di jemput oleh sang asisten rumah tangga, bersama pak amat tentu saja.


Karena sebelumnya Jason pulang bersama pak amat dan mengambil baju serta perlengkapan untuk dibawa kerumah sakit.


Kemudian lelaki itu memilih mengendarai mobil sendiri untuk mempermudahnya dalam bermobilitas.

__ADS_1


Sementara pak amat ditugaskan untuk menjemput Rayyan.


"Den, bundanya lagi pergi, jangan teriak-teriak ya! Sekarang kita ganti baju terus maem ya," bujuk bi Irah.


"Nggak mau, aku mau sama bunda! Bunda kemana Bi, kenapa Ray gak diajak?" Bocah kecil itu mulai merajuk.


Bi Irah cukup bingung harus bagaimana, wanita paruh baya itu tidak dapat menjelaskan bahwa sang bunda yang tengah dicarinya berada di rumah sakit dan terbaring tak berdaya, semua itu atas perintah Jason.


Jason tidak ingin Rayyan sedih kemudian mendesak untuk ikut ke rumah sakit.


"Bibi nggak tahu den, tapi nanti bunda pasti pulang. Sekarang kita maem dulu yuk, bibi udah masak ayam goreng tepung," bujuknya lagi.


"Bunda mana? Hwaaaa...kenapa Ray gak diajak?" Tangis Rayyan tiba-tiba pecah.


Sarah tampak keluar dari kamarnya saat melihat sang cucu menangis merajuk.


"Ray, sayang, jangan nangis! Ray ganti baju dulu yuk sama Oma, nanti Oma anterin ketemu bunda," ucap Sarah membujuk.


"Beneran Oma?" Tangis Rayyan mendadak berhenti.


Bi Irah menatap Sarah dengan tatapan tidak mengerti, sementara Sarah mengedipkan matanya seolah memberi kode pada pembantu itu.


Bu Irah kemudian mengangguk dan berlalu meninggalkan Rayyan dengan Sarah.


"Iya, yuk sekarang kita ke kamar dulu, ganti baju!" Sarah menggandeng tangan mungil Rayyan.


Sementara bocah itu menuruti apa yang Sarah bilang, biasanya anak itu tidak mau jika Sarah mulai menyentuhnya.


"Ray sayang sama bunda ya? bukannya bunda Wulan itu bukan mamanya Rayyan?" Sarah mulai berbicara sambil membuka baju anak itu.


"iya, aku sayang sama bunda soalnya bunda baiiikk banget," jawabnya polos.


"oh gitu...Ray tahu nggak kalau sebentar lagi bunda sama ayah bakal punya anak sendiri?"


"iya tahu, Oma. kan kata ayah dedek bayinya nanti panggil aku Abang, soalnya aku abangnya," lagi-lagi Rayyan bersemangat menjelaskan.


"oh gitu? tapi...nanti kalau dedek bayinya sudah lahir, bunda sama ayah Jason pasti lebih sayang sama dedek bayinya. soalnya kan dedek bayinya anak bunda sama ayah, kalau Rayyan kan bukan anaknya bunda Wulan sama ayah. Rayyan itu anak mama Andini sama papa Raymond," ucap Sarah.


"nggak! bunda sama ayah sayang Ray juga!" Rayyan mulai berteriak lagi.


"iya..iya, bunda sama ayah juga sayang Rayyan. Oma juga sayang sama Rayyan, karena Oma nenek kandung kamu sayang," ucap Sarah sambil mengelus rambut Rayyan, sementara itu sang bocah kecil masih berkaca-kaca.

__ADS_1


💖💖


__ADS_2