My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 89


__ADS_3

Sejak pagi seluruh penghuni rumah Jason disibukkan dengan persiapan resepsi pernikahan malam ini.


Semuanya bersiap untuk segera berangkat ke hotel di mana resepsi itu akan diadakan.


Indah sudah mengurus semuanya, sekertaris jason itu memang selalu bisa diandalkan dalam kondisi apapun.


Loyalitasnya pada mendiang Raymond dan juga pada Jason tidak diragukan lagi.


Itu sebabnya indah dan sang suami menjadi orang terdekat sekaligus kepercayaan kakak beradik Hartono itu.


Persiapan dengan menghubungi semua vendor, WO, undangan, persiapan baju dan MUA untuk Wulan dan keluarganya, reservasi area, kamar hotel ahh pokoknya komplit. Betapa luar biasanya indah, sang sekertaris sekaligus tangan kanan Jason.


---


"Mbak Wulan cantik banget, nanti aku juga dirias begitu ya mbak, eh mas," ucap Wahyuni sambil menemani sang kakak yang tengah di poles oleh seorang MUA profesional. Lelaki bertulang lunak, begitu orang kota biasa menyebut orang sejenis dirinya.


Tubuhnya jelas-jelas potongan lelaki, tinggi berperawakan sedikit lebih berisi, mengenakan baju asimetris berwarna ngejreng.


Dengan rambut berpotongan mirip pria pada umumnya, dengan di hi-light warna merah.


Tapi wajahnya full make up, kulit halus mulus disapu dengan make up dewy. Bahkan Wahyuni terkagum pada alisnya yang melengkung sempurna, ditambah bulu mata palsu yang Anti badai.


Sang perias yang dipanggil melirik ke arah Wahyuni, sejurus kemudian melengos tanpa menjawab perkataan Wahyuni yang membuatnya dongkol.


Bagaimana tidak dongkol, dia disebut mas-mas. Apa gadis abege itu buta, sudah dandan secantik syahrina penyanyi terkenal ibukota masih juga di panggil mas-mas.


Tapi tentu itu bukan mutlak kesalahan Wahyuni, siapapun akan bingung menyebut manusia macam si lelaki lentik itu.


Yang tangannya dengan begitu luwes menyulap wajah-wajah wanita biasa menjadi luar biasa.


Meski begitu, kedua asistennya adalah perempuan tulen.


Salah satunya tengah membantu dirinya, dan seorang yang lain sedang merias Bu Siti.


Kali ini penampilan Wulan benar-benar mengagumkan, dengan riasan dan gaun pengantin modern.


Rambutnya yang panjang dibuat ikal bagian ujungnya, ditata rapi dengan hiasan headband bunga yang cantik.


Sementara Jason menunggu di ruangan yang lain, lelaki itu sudah siap dengan stelan jas berwarna senada dengan gaun Wulan yang tempo hari sudah mereka coba.


Lelaki itu terlihat gagah dan tampan, dengan rambut klimis disisr rapi ke belakang.

__ADS_1


Sebuah bunga tersemat di saku jasnya.


Acara segera di mulai, tampak tamu-tamu undangan sudah mulai hadir.


Sepasang MC siang itu sudah mulai bersiap, disudut tampak sekelompok band dan penyanyi live music untuk menyemarakkan resepsi pernikahan ini.


Tamu undangan kali ini benar-benar berasal dari kalangan atas, hampir semua orang-orang penting.


Petinggi perusahaan, investor baik lokal maupun asing, pejabat pemerintah.


Teman-teman semasa kuliah Jason dulu, yang tentu hampir semuanya sudah bermetamorfosis menjadi orang-orang hebat dan sukses.


Wulan gugup sekaligus bahagia, hari ini semua orang akan mengenalnya sebagai Wulandari Hartono.


Semua orang akan melihatnya sebagai istri Jason.


Mimpi yang bahkan tidak pernah sekalipun dia bayangkan.


Semua orang tampak bahagia, meski beberapa orang tamu masih bergunjing di belakang.


Menelisik latar belakang Wulan yang hanya orang biasa.


Matanya terus mencari seseorang, namun sosok itu tak kunjung dia temukan.


Apakah semarah dan sebenci itu Ibram kepadanya, hingga tidak sedikitpun Sudi untuk hadir di hari bahagianya?


Sementara itu,


Ibram membanting kedua tangannya pada stir kemudi.


Lelaki bermata sipit itu terus memukuli kemudi mobilnya, berharap sesuatu yang menghimpit dadanya sedikit berkurang, tapi itu semua sama sekali tidak membantu.


Matanya nanar, wajahnya menunduk dalam, sesaat matanya terpejam.


Memutar kembali pada apa yang baru saja dia lihat di dalam sana.


Melihat Wulannya tengah berdiri dengan gaun pengantin yang cantik, secantik dirinya. Bersanding dengan lelaki itu, Jason Hartono.


Dengan sejuta kebahagiaan menyelimuti keduanya, berbanding terbalik dengan keadaannya kini.


Awalnya Ibram menguatkan dirinya untuk hadir di acara resepsi pernikahan Wulan.

__ADS_1


Meski rasa di dadanya memberontak tidak karuan, tapi Ibram berpikir mungkin ini adalah cara membahagiakan Wulan terakhir kali dengan memberinya ucapan selamat langsung. Menghilangkan benteng yang terbangun dengan sendirinya di antara mereka, benteng yang disebut penolakan.


Langkah kakinya mendadak gontai, menyadari bahwa dia tidak sanggup dan tidak akan pernah sanggup untuk bersikap seolah dirinya baik-baik saja di hadapan Wulan.


Tidak akan, cinta yang dicabut dengan paksa itu masih meninggalkan tunas di hatinya yang tumbuh kian subur seperti cendawan di musim hujan.


Sekuat apapun dia berusaha melupakan justru sekuat itu pula cintanya kian membesar.


Dan disinilah dirinya kini, kembali ke dalam mobilnya.


Yang masih terparkir rapi di parkiran yang temaram.


Dengan pikiran yang kian kalut dan kehilangan arah.


Sejenak Ibram masih terus menyesali kedatangannya di tempat itu.


Ya, sebuah keputusan yang salah. Yang justru kian menyakiti dirinya sendiri.


Kalau saja Wulan memilihnya, maka kebahagiaan Wulan adalah bersamanya.


Dia akan duduk di sana bersanding dengan Wulan, menggenggam erat tangan Wulan yang tersenyum cantik berbalut gaun pernikahan.


Tapi kenapa takdir tuhan sekejam ini padanya.


Ibram tidak kuasa berada di tempat itu lebih lama, dia harus segera pergi.


Entah kemana, yang jelas pergi sejauh mungkin dari tempat itu.


Membuang jauh angan dan impiannya tentang Wulan, bahkan meski mustahil Ibram ingin membuang cintanya pada perempuan itu.


Pikirannya kian kalut, Ibram memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Otaknya tidak mampu lagi berpikir jernih, jalanan ibukota masih tersendat di waktu yang belum begitu malam.


Ibram membunyikan klakson berkali-kali seperti orang gila.


Mendebat semua orang yang menghalangi jalannya, membuat pengguna jalan lain dibuat jengkel oleh tingkah lelaki itu, lelaki yang biasanya murah senyum dan sangat bersahaja.


Entah hilang kemana sosok penyayang dan baik hati itu malam ini.


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2