
Jason menjelaskan dengan gamblang siapa Andini dan Rayyan sebenarnya.
Tidak ada satupun yang dia tutupi, termasuk kenyataan bahwa Andini memang mencintainya.
Tentang bagaimana sang kakak akhirnya menikahi Andini.
Tapi...
Ada satu hal yang belum bisa Jason ungkapkan, tentang bagaimana kematian abangnya.
Bukan karena dia tidak ingin membaginya dengan Wulan, hanya hatinya belum mau mengungkit luka masa lalu yang menyakitkan itu untuk saat ini.
Terlebih, tujuannya saat ini adalah untuk menjelaskan tentang statusnya yang sebenarnya.
Meluruskan kesalah pahaman yang membuat semuanya menjadi sekacau ini.
"Kalau kamu nggak percaya, coba lihat ini" Jason merogoh saku celananya, mengeluarkan smartphone miliknya.
Lelaki itu menekan beberapa kali kemudian menyodorkan layar yang menyala itu ke hadapan Wulan.
"Itu abangku, bang Raymond" tunjuk Jason pada sebuah gambar yang terpampang di layar ponselnya.
Layar yang menampilkan sebuah potret bahagia sepasang pengantin.
Seorang lelaki yang yang pernah Wulan lihat fotonya di apartemen jason.
Lelaki yang mirip dengan tuannya itu tersenyum bahagia mengenakan setelan jas berwarna broken white bersanding dengan wanita yang jelas-jelas tidak asing di mata Wulan.
Andini dengan gaun pengantin indah senada dengan jas Raymond.
Sebuah tiara dengan veil menjuntai di kepalanya.
Cantik, sungguh cantik sekali. Sangat jauh berbeda dengan Andini yang Wulan kenal kini. Dalam foto itu Andini tersenyum tipis, kontras dengan mempelai pria yang memancarkan rona kebahagiaan.
Wulan menatap semua itu bahkan tanpa berkedip, sebuah kenyataan yang entah memberikan rasa lega di dalam hatinya, rasanya ribuan batu yang menghimpit menyesakkan dadanya mendadak hilang begitu saja, menyisakan ruang kosong melegakan.
"Jadi Rayyan...?" Tanya Wulan sambil menatap Jason disampingnya.
"Rayyan anak mereka, itu sebabnya namanya Rayyan, Raymond Andini" ucap Jason tersenyum getir.
__ADS_1
"Tapi, kenapa Rayyan memanggil tuan dengan sebutan ayah?" Rasa penasaran lagi-lagi menggelitik hati Wulan.
"Karena secara hukum, aku memang wali sah untuk rayyan, setidaknya sampai usianya cukup dewasa untuk mengerti dan bertanggung jawab atas semua peninggalan bang Ray yang memang menjadi haknya kelak. Dan kenapa dia manggil aku dengan sebutan ayah, karena aku tidak mau dia kehilngan sosok ayah" jelas Jason, kini lelaki itu menunduk.
"Rayyan masih terlalu kecil untuk mengerti, terlebih lagi dengan sikap Andini yang seperti itu" tambahnya lagi.
Bocah yang malang, Wulan tahu pasti akan hal itu.
Bagaimana perlakuan Andini terhadap Rayyan sering kali membuat hati Wulan ikut teriris.
Bahkan menurutnya, Andini tidak pantas disebut sebagai seorang ibu.
Wulan mengangguk perlahan, terlalu banyak yang tidak dia ketahui tentang kehidupan Jason.
Gadis itu merasa terlalu mudah menyimpulkan semua nya sendiri, tapi bukan sepenuhnya kesalahan ada pada dirinya.
Andini punya andil besar atas semua ini. Jelas berulang kali wanita itu menyebut Jason adalah suaminya.
Sebagai perempuan yang memiliki nurani, tentu Wulan tidak akan mau menjadi penyebab hancurnya sebuah hubungan suami istri bukan?
Siapa yang akan menduga? Ayah dan anak itu bukanlah ayah dan anak sesungguhnya.
"Maafkan saya tuan, saya sudah salah mengira dan menuduh tuan yang tidak baik" ujar Wulan menatap Jason yang termenung.
Jason menggeleng, tersenyum kemudian menatap Wulan dengan tatapan yang mendadak lebih serius dari sebelumnya.
Matanya membulat dan berbinar, seolah rasa sedih yang sesaat tadi menghampirinya telah menghilang.
Digantikan oleh sebuah harapan, asa dan cinta yang meluap.
"Jadi, apa kamu mau menerima cintaku sekarang?" Tanya Jason penuh harap dan kesungguhan.
Kedua tangannya menggenggam sepasang tangan lembut milik Wulan.
Mendadak wajah Wulan memerah, semburat merah jambu muncul di pipinya yang terasa terbakar.
Jason dengan segamblang itu menyatakan isi hatinya sekali lagi.
Hati gadis itu mendadak dipenuhi bunga-bunga mekar seperti musim semi.
__ADS_1
Ada segaris senyum menghiasi bibirnya yang memerah alami tanpa polesan make up apapun.
Mata Jason kian membulat dengan alis mata yang meninggi, menajamkan pendengarannya yang tentu masih sangat berfungsi.
Hatinya menunggu, menunggu kepastian yang menganggu tidurnya sejak beberapa hari lalu, sejak gadis itu memutuskan pergi menjauh darinya karena kesalahpahaman konyol dan kebohongan menjijikkan yang Andini buat.
Bibir Wulan terus menerus menyunggingkan senyum tanpa permisi.
Senyum yang datang tulus dari hatinya, tanpa Jason harus meminta dua kali Wulan pasti akan menjawabnya saat itu juga.
Bahkan sebelum bibirnya berucap, ekspresi wajahnya telah menyatakan semuanya bukan? Apakah Jason tidak bisa melihat itu?
Sementara itu di balik pintu, Wahyuni adik Wulan yang baru beranjak remaja tampak menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Gadis yang mulai penasaran akan hal-hal orang dewasa itu sengaja menguping pembicaraan sang kakak dengan majikannya yang menurutnya begitu tampan.
Matanya melotot seperti mau loncat dari tempatnya, tidak percaya mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Jason pada Wulan.
Kenyataan bahwa majikan kakaknya yang baginya mirip bintang sinetron itu mencintai kakaknya, yang hanya seorang gadis kampung biasa. Wah mimpi apa dirinya akan punya kakak ipar yang kaya raya dan tampan seperti itu.
Bahkan ini mirip dengan cerita Cinderella yang pernah dia baca di buku yang dia pinjam dari perpustakaan.
"Plaakkk!!"
"Aaww!!" Sebuah tangan menepuk dengan keras pundak Wahyuni.
Membuat gadis yang tengah asyik menguping itu terkejut dan memekik tertahan karena kesakitan.
Sontak Wahyuni menoleh dengan cepat, mendapati wajah ibunya yang melotot sambil berkacak pinggang.
"Ngapain kamu?? Nguping ya!! Dasar Ndak sopan, ayo minggir, bocah ora genah!!" Umpat ibunya lirih namun penuh penekanan, sambil menarik tubuh putri bungsunya itu menjauh dari balik pintu.
---
Wulan hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Jason saat seorang laki-laki tiba-tiba saja datang dari luar.
"Assalamualaikum"
Sapa lelaki itu, membuat Wulan dan Jason menoleh serempak menatap siapa gerangan seseorang yang datang tidak tepat waktu.
Bahkan Herman yang sedari tadi sibuk berkutat pada layar ponselnya lantas mendongak sedikit terkejut.
__ADS_1
💖💖💖 GendAyu 💖💖💖