
"aduuhh.. bi...bibi...," Rintih Wulan sambil tertatih keluar dari kamar.
Kepalanya terasa berputar, tubuh basah kuyup dengan keringat dingin. Menahan keram disertai nyeri di perut. Wanita itu terhuyung keluar dari kamar untuk mencari bantuan.
Sedikit racun yang tertelan telah masuk melalui saluran pencernaannya. Memberikan reaksi walau tidak separah yang seharusnya.
Sesekali limbung namun Wulan mati-matian menjaga agar kesadarannya tetap utuh. Dia tidak mau pingsan disini sekarang. Menahan sakit yang luar biasa demi menyelamatkan bayi diperutnya yang entah baik-baik saja atau tidak.
"Bi... Bi iraaah...," Suaranya mengeras, berharap bi Irah datang.
"Tantee... Tante saraahh...," Lagi-lagi berteriak dengan sisa tenaga yang ada.
"Auucchhh...tolong." tenggorokannya tercekat.
Beruntung sebelum keluar kamar, Wulan sempat meraih handphone miliknya. Berusaha menghubungi Jason meski lelaki itu di luar kota. Berharap siapapun bisa membantunya saat ini.
Dua kali Wulan melakukan panggilan namun tidak diangkat. Mungkin suaminya masih sangat sibuk sekarang.
Rasanya ingin menyerah dan lungli ambruk saja. Tapi Wulan berusaha tetap terjaga demi buah hatinya.
Perempuan itu membuka aplikasi taksi online, memencet dengan jemari yang gemetar namun tetap dipaksakan.
"Tante...tolong..ttolooonng...," Rintih Wulan serak.
Sarah yang tengah duduk di depan meja rias di kamarnya, memandang selembar foto kusam Andini yang senantiasa disimpannya sejak di dalam penjara. Berkali-kali mengecup gambar sang anak yang telah meninggalkan dunia fana itu.
"Tante...tolong...," Suara Wulan membuyarkan angannya tentang Andin.
Bukankah seharusnya Wulan sudah pingsan setelah meminum jus yang telah diberinya racun. Tapi kenapa dia masih bisa berteriak. Seharusnya perempuan itu pingsan di kamar saat ini, sampai nanti seseorang yang akan menemukannya saat kondisi janinnya tidak akan lagi bisa diselamatkan.
Sarah bangkit dari duduknya, bergegas keluar dari balik pintu kamarnya. Terkejut dan kecewa saat mendapati Wulan masih mampu berdiri meski gemetar di ujung anak tangga paling atas.
"Kamu kenapa Wulan?" Sandiwara dimulai kembali.
"Tolong...Wulan...Tante...," Rintihnya. "Ru...mah sakit...tantee...," Ucap Wulan terbata.
Sarah mengernyit bingung, kenapa Wulan masih hidup sekarang ini. 'sialan, Farhan bilang racun tadi ampuh. Sekali minum minimal pasti bisa pingsan dan bayinya gak akan tertolong. Tapi ini apa, perempuan brengsek ini masih bisa berdiri?'
"Tan...te...," Lirih Wulan gelisah, sesekali terpejam menahan rasa yang luar biasa.
"Eh, i...iya...," Jawab Sarah tergagap.
Kondisi Wulan begitu lemah berada di ujung tangga paling atas, pikiran Sarah berputar, rasanya ingin sekali mendorong Wulan yang terlihat payah seperti saat ini. Mungkin bukan hanya bayinya yang akan mati, tapi sekaligus perempuan itu jika mereka jatuh dan terguling dari lantai atas.
__ADS_1
Tapi...Sarah kembali menghela nafas, memikirkan langkah yang lebih tepat dibanding kekonyolan yang bisa membawanya ke penjara seperti sebelumnya. Semua harus dipikir baik-baik dan dimainkan lebih rapi.
"Ayo Wulan, Tante bantu turun...kita ke rumah sakit," ucap Sarah dengan penuh perhatian.
"Sebenernya kamu kenapa sih, Wulan? Kenapa bisa begini?" Lanjut Sarah sambil memapah tubuh Wulan.
Wulan hanya menggeleng lemas, tidak mampu menjawab apapun lagi.
"Kamu duduk disini sebentar, biar Tante ambil handphone untuk pesen taksi."
"Udah Tante, Wulan udah...pesen," ucap Wulan menghentikan langkah kaki Sarah.
'sialan, bahkan dia masih bisa pesan taksi? Kurang ajar Farhan, kamu nipu aku!' geramnya dalam batin.
"Ya sudah, Tante ambil tas dulu." Kemudian Sarah berlari ke kamar sambil merutuki kegagalannya kali ini. Mengumpat dalam hati, bersumpah akan membuat perhitungan pada anak buahnya bernama Farhan yang tidak becus memberikan racun payah yang tidak seampuh yang dikatakan.
Tepat saat Sarah turun lagi ke bawah, di luar taksi yang Wulan pesan telah datang.
Bergegas Sarah dibantu sang supir taksi memapah Wulan naik ke dalam mobil dan kemudian melaju menuju rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan pertama.
Sarah mengisi semua data administrasi saat Wulan dilarikan ke UGD, tidak terlalu perduli dengan kondisi wanita hamil itu. Semua yang dia lakukan semata-mata hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan menjalankan rencana cadangannya tadi.
Sementara Wulan merasa dirinya berada dalam hidup dan mati. Petugas medis memasang infus dan selang oksigen. Seorang dokter obgyn memeriksa kandungan Wulan menggunakan alat USG. Memeriksa denyut jantung bayi yang terdengar lebih cepat.
**
"Jadi bagaimana menurut pak Jason?" Direktur Johan tampak menyilangkan tangannya di depan dada.
Jason yang berdiri di sampingnya tersenyum dan mengangguk. "Seperti rancangan awal, saya rasa semua berjalan baik, saya setuju dengan konsep yang sudah dijalankan."
"Setelah ini, saya ingin mengundang pak Jason untuk makan siang privat. Maksud saya, hanya saya dan anda, tidak perlu membawa staff dan yang lainnya."
Jason menoleh, menatap wajah lelaki paruh baya itu. "Tentu pak," jawabnya setuju.
Lantas setelah peninjauan itu, semua staff kembali pada pekerjaannya. Sementara Jason dan direktur Johan menuju sebuah restoran mewah.
Setelah berbasa basi sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, Jason memasang wajah serius.
"Sebetulnya apa ada yang ingin bapak sampaikan secara pribadi pada saya?"
"Tidak ada, saya hanya ingin mengundang pak Jason untuk makan bersama sebagai seorang rekan baik. Sekaligus memberikan sesuatu," jawabnya.
"Apa itu pak?" Tanya Jason penasaran.
__ADS_1
Direktur Johan merogoh saku dalam jas yang tengah dia kenakan. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu.
"Silahkan, saya merasa harus khusus memberikan ini secara langsung." Direktur Johan mendorong sebuah amplop berwarna merah keemasan dihiasi pita berkilau.
"Apa ini pak?" Tanya Jason, meski begitu lelaki tampan itu tetap meraihnya.
"Undangan pernikahan," jawab direktur Johan.
Jason mengerjapkan matanya bingung, antusias dan bingung dalam waktu yang bersamaan. Siapa yang menikah?
Lelaki itu bergegas membuka amplop nan indah itu, membaca satu demi satu nama calon mempelai yang terukir dengan tinta emas di sana.
Mata Jason membulat sempurna, menatap bergantian wajah direktur Johan dan juga amplop dengan nama-nama yang sangat dia kenal itu.
"Nona Bianca dan.... Ibram?"gumamnya sambil mengernyit dan mencari jawaban dari wajah direktur Johan.
Lelaki paruh baya itu mengangguk. "Benar," jawabnya singkat.
***
Jason berlari menuju taksi yang telah dia pesan dan menjemputnya di bandara. Dia pulang tergesa dengan penerbangan paling cepat hari itu juga setelah Bi irah berusaha meneleponnya berkali-kali dan mengabari bahwa istrinya masuk rumah sakit lagi.
Sial memang, selama meeting dan makan siang, handphonenya dia senyapkan. Dia terus merutuki dirinya sendiri karena kecerobohannya itu.
"Tolong cepat sedikit ya pak," ucapnya pada sang sopir yang mengangguk sebagai jawabannya.
Berulang kali dia mengecek arloji di tangannya. Waktu rasanya berjalan lebih lambat dari biasanya. Detak jantungnya tak beraturan sebab didera kegelisahan dan ketakutan, takut membayangkan apa yang mungkin menimpa istri dan janin dalam kandungannya.
Sementara bi irah terus mondar mandir di depan ruang VIP tempat dimana Wulan sedang mendapatkan perawatan intensif.
"Bi, apa yang sebenarnya terjadi?" Jason berlari menuju ke arah bi irah yang kebingungan dan takut.
"Tuan," sambutnya dengan mata memerah hampir menangis.
"Wulan gimana, bi?" Tanyanya dengan bingung.
"Nyonya masih ditangani tuan, dan belum boleh diganggu." Jawabnya dengan tangan merapat di depan dada.
"Sebenarnya apa yang terjadi bi? Ceritakan semuanya." Jason mendesak asisten rumah tangga yang sangat dia percayai itu.
Bi irah menceritakan apa saja yang terjadi yang dia tahu. Bahwa pagi ini dia pergi mengantar Rayyan sekolah dan pergi ke pasar. Lantas yang dia tahu berikutnya dari Sarah adalah nyonyanya itu masuk rumah sakit. Dan apa yang sebenarnya menimpa nyonya mudanya yang tengah hamil itu, dia tak mengetahuinya.
Perasaan Jason benar-benar tidak tenang. Baru saja lelaki itu ingin mencoba menerobos masuk, dokter SpOG dan beberapa perawat tampak keluar dari ruangan dimana istrinya itu tengah berbaring.
__ADS_1
***