My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 67


__ADS_3

"cepat sedikit man." Desak Jason pada Herman yang tengah menyetir menembus jalanan yang mulai gemerlap oleh nyala tiang lampu jalanan dan kendaraan lainnya.


"Baik pak." Jawab lelaki itu sambil menginjak gas lebih dalam, memacu mobil dengan kecepatan tinggi.


Beberapa kali Herman melirik bos yang duduk disampingnya itu.


Jelas raut wajah lelaki itu begitu khawatir dan tidak sabar.


Matanya manatap nyalang jalanan yang sedikit padat, tapi Herman tau dengan pasti pikiran Jason tidak sedang berada di tempatnya.


Apa spesialnya gadis desa itu sehingga membuat bosnya yang berhati dingin mendadak begitu gelisah?


Mobil memasuki area basemen apartemen, dengan tidak sabar Jason membuka pintu mobil untuk segera keluar dan mencari Wulannya disana secepat yang dia bisa.


Ada atau tidak Wulan di tempat ini, satu yang jelas Jason pahami. Ibram tau dimana Wulan berada kini.


"Hati-hati pak." Ujar Herman sambil segera keluar dan setengah berlari memutari mobil untuk membantu Jason.


"Saya tidak apa-apa man, saya bisa sendiri saya tidak selemah itu" ucap Jason menghalau Herman.


Memang benar, dadanya yang meluap oleh semua emosi seolah menciptakan energi yang besar mengalahkan rasa sakit di tubuhnya.


Setidaknya kini Jason tahu cintanya tidak pernah bertepuk sebelah tangan, hanya saja kesalah pahaman yang membuat Wulan menjauh darinya.


Kesalahpahaman yang harus dia luruskan segera untuk mendapatkan Wulannya kembali dan tidak akan dia lepaskan lagi sampai kapanpun.


Herman memundurkan tubuhnya, memberi ruang Jason untuk bergerak turun meski jelas-jelas masih tertatih dengan penyangganya.


"Pak, biarkan saya membantu anda" ucap Herman yang mengekori jason yang berjalan lambat, meski bagi Jason itu sudah kecepatan langkah maksimal untuk saat ini.


"Hemm" Jason menganggukkan kepalanya menerima bantuan Herman.


Dengan hati-hati Herman memapah Jason untuk menaiki lift menuju apartemen Ibram.

__ADS_1


Kondisinya yang seperti itu menarik perhatian dan pandangan mata beberapa penghuni apartemen lainnya yang kebetulan berpapasan.


Ting...tong...


Hening


Ting...tong...


Masih hening


'Brakk...braakk...braakk...'


"Pak Ibram buka pintunya!! Ibram!!!" Seru Jason dengan kesabaran yang sudah menipis.


"Pak, tenang! Jangan membuat keributan, atau nanti akan ada satpam yang mengusir kita" Herman mencoba menenangkan bosnya yang mulai hilang kesabaran.


"Ibraamm, buka pintunya!!" Teriak Jason sekali lagi.


Tampak Ibram membuka pintu dengan masih membawa handuk ditangannya.


Rambutnya tampak basah terlihat dari air yang menetes membasahi polo shirt yang dikenakannya.


"Pak Jason? Kenapa berteriak-teriak" tanya Ibram sambil tangannya mempersilahkan Jason untuk masuk.


"Dimana Wulan?!" Tanya Jason hampir hilang kendali.


Ibram bersedekap, memandang lelaki yang tampak terbalut perban disana sini itu mendadak bertingkah serampangan.


Ya, meskipun Ibram tahu pasti ini berkaitan dengan permasalahan menghilangnya Wulan.


"Silahkan duduk dulu" jawab Ibram dengan tenang pada rival nya itu, rival memperebutkan hati Wulan.


"Tidak perlu pak Ibram, saya tidak punya waktu untuk beramah tamah. Yang terpenting dimana Wulan?" Jawab Jason.

__ADS_1


"Wulaann...wulaan..." Teriak Jason berkali-kali.


"Pak, tenang dulu pak! Saya mohon jangan membuat keributan" Herman menarik bahu Jason untuk tenang.


"Pak Jason, anda datang ke rumah saya kemudian berteriak-teriak seperti orang yang tidak punya sopan santun" Ibram sedikit mulai kehilangan kesabaran juga.


"Saya bilang tidak perlu basa-basi pak Ibram, jawab dimana Wulan sekarang? Saya tahu Wulan bersama anda tadi malam" tuding jason dengan suara mengeras.


"Ya, dia memang bersama saya! Dia tidur disini bersama saya" jawab Ibram enteng menyulut emosi Jason.


"APA?? DASAR BRENGSEK!!!" umpat jason tanpa bisa ditahan lagi, tangannya terkepal kuat api cemburu membakar hatinya.


'BUUUKK'


Sebuah bogem mentah dari tangannya yang jelas masih terluka mendarat di pipi Ibram.


Menyisakan setitik darah menetes dari sudut bibirnya.


"Pak, saya mohon pak" ucap Herman sambil lagi-lagi menahan tubuh Jason.


Meski terluka tenaga Jason tidak bisa dianggap enteng, api kecemburuan membakar seluruh jiwanya membuat tenaganya berlipat ganda.


Meski kini luka ditangannya lagi-lagi menganga dengan darah yang kembali merembes itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding hatinya yang sakit saat ini.


"Apa anda bilang??? Saya brengsek?? Saya tidak lebih brengsek dan bejat dari anda yang memanipulasi perempuan selugu dan sebaik Wulan untuk kepentingan anda! Seorang lelaki bejat yang tega mengkhianati anak dan istrinya sendiri!!" Maki Ibram dengan amarah yang tersulut.


"Membayangkannya saja saya jijik, beruntung Wulan memilih pilihan yang tepat untuk pergi dan menjauhi anda!!" Ucap Ibram sinis.


"Jaga mulutmu itu" gertak Jason sambil menarik kerah baju lelaki oriental itu.


"Hahhh, lihat kondisi anda pak Jason. Saya tidak akan memukul seseorang yang sedang lemah seperti anda" cibir Ibram sambil mengusap ujung bibirnya dengan ibu jari membuat Jason semakin murka.


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2