
Malam merangkak naik, bulan dan bintang menghiasi langit yang menggelap.
Suara binatang malam bersahutan seperti melodi diantara kesunyian.
Bianca, gadis itu menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Pakaiannya begitu lusuh, dengan langkah perlahan dan sedikit menyeret kedua kakinya yang telanjang tanpa alas gadis itu menuju mobilnya.
Meninggalkan Ibram yang bahkan tidak sadarkan diri setelah semua kejadian ini.
Bianca begitu muak dan jijik pada lelaki itu, lelaki yang sudah menghancurkan harga diri dan masa depannya.
'blamm' suara pintu mobil yang dia tutup dengan kasar.
Sekali lagi gadis itu menangis pedih, menundukkan wajahnya bertumpu pada kedua tangannya diatas kemudi.
Kedua tangannya terkepal, memukul kemudi dan dashboard mobilnya, sembarang arah.
Hatinya dipenuhi rasa sakit, kecewa dan amarah akibat perbuatan bejat yang baru saja dia terima dari Ibram.
Apa kesalahannya pada lelaki itu, hingga dia harus menerima semua ini?
Tangannya terus memukul hingga meninggalkan sebuah luka di beberapa ruas jarinya.
Tapi Bianca tidak peduli, rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan penderitaannya saat ini.
Dengan sisa kekuatan yang ada, gadis itu menghapus sisa-sisa airmatanya.
Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi untuk pulang ke apartemennya.
Ingin segera menjauh sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu.
Bahkan untuk menengok saja Bianca benar-benar tidak Sudi.
Gadis itu bersumpah, ini terakhir kalinya dia melihat Ibram.
Lelaki bejat menjijikkan yang tidak akan pernah sudi dia temui lagi.
Meski roda takdir akan memaksanya untuk kembali bertemu, tapi selama itu pula dia akan berusaha untuk menghindar.
Tekad dan dendam itu yang menjadi satu-satunya kekuatan terakhir yang Bianca bawa di dalam hatinya.
__ADS_1
***
Jason mengecup kening sang istri yang masih lembab oleh keringat.
Wanita itu mengeratkan tubuhnya pada tubuh sang suami.
Tubuh mereka yang polos hanya terbungkus selimut berwarna putih.
Ranjang hotel yang awalnya dihiasi jutaan kelopak bunga mawar itu telah menjadi saksi pergumulan dan pertautan dua anak manusia yang saling menginginkan satu sama lain.
Yang selama lebih dari satu Minggu lamanya menahan hasrat yang rasanya sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.
Bahkan ketika tubuh mereka jelas-jelas letih karena lamanya acara resepsi megah yang baru saja dilangsungkan beberapa jam sebelumnya.
Tapi semua keletihan itu sirna digantikan oleh sesuatu yang berdesir kala mereka akhirnya hanya berdua ditemani gelora yang menggelegak di dada. Tanpa kebocoran, tanpa seorang anak yang memeluk Wulan setiap malam, dan tanpa hal-hal konyol lainnya.
"Kamu capek?" Tanya Jason sambil menempelkan dagunya pada kepala Wulan yang berada di pelukannya.
"Hmm" wulan mengangguk.
"Ya sudah, sekarang kita tidur dulu ya," Jason menarik selimut menutupi tubuh istrinya.
Merasakan detak jantung yang menentramkan, detak jantung yang mulai beraturan setelah sebelumnya berpacu dan memburu bersahutan dengan nafas mereka yang menderu dan tersengal.
Wulan tersenyum malu sendiri mengingat semua yang baru saja dia alami.
Tidak dipungkirinya, rasa perih masih sangat terasa di bagian bawahnya. Tapi rasa ajaib yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya, rasa melayang, kepalanya terasa ringan dan aneh, perutnya selalu berdesir lucu, dan rasa geli entah apa namanya membuatnya ingin merasakannya lagi.
Lagi-lagi Wulan tersenyum sambil berusaha memejamkan matanya, kali ini tubuhnya benar-benar letih dan pegal, pegal yang berbeda tentu saja.
Sekali lagi Jason mendaratkan sebuah kecupan di ubun-ubun kepala istrinya sebelum akhirnya memejamkan matanya dengan rasa dahaga yang telah terpuaskan.
Sementara itu...
Semua orang telah kembali ke rumah setelah acara resepsi itu selesai.
Hanya Jason dan Wulan yang tinggal di hotel, beruntung Rayyan tidak bersikukuh untuk tetap tinggal bersama 'ayah dan bundanya'.
Bi Irah menjanjikan banyak hal agar anak itu menurut untuk ikut pulang, eskrim coklat satu kotak besar penuh, robot rangers keluaran terbaru dan baju dinosaurus dengan T-rex yang tersenyum (yaelah, susahnya. Ngadi-adi emang si Rayyan).
Rasa lelah benar-benar mendera seluruh penghuni rumah itu.
__ADS_1
Tapi itu semua sepadan dengan kebahagian atas resepsi pernikahan sang tuan rumah yang begitu meriah dan berjalan lancar.
Semua orang bahagia, mereka terlelap dengan senyum yang mengembang mengantarkan pada mimpi yang indah malam itu.
Kecuali satu orang...
Yang tubuhnya telah kaku, dengan mata melotot menatap ke arah atas.
Busa yang keluar dari mulutnya yang membiru.
Bahkan sisa-sisa genangan airmata masih membekas di kedua pipinya yang cekung.
Andini telah memilih untuk pergi dengan caranya, membawa semua luka, penderitaan, cinta dan bahkan keputusan asaan yang menggunung menyesakkan rongga dadanya.
Rongga dada yang kini bahkan tidak lagi terisi udara, dada yang tidak lagi berdetak karena jantung yang terhenti dengan paksa oleh obat-obatan yang di jejalkan melebihi dosis yang seharusnya.
Wanita itu memilih mengubur cintanya yang tidak pernah terbalas, mengubur cinta itu bersama dirinya.
Meninggalkan anak yang lahir dari rahimnya, anak yang dengan setia tetap mencintainya, meski berulang kali Andini terus mengusir dan menyakitinya dengan kata-kata kasar.
Jika waktu bisa berputar, ingin rasanya bisa mengabaikan rasa cintanya pada Jason sebentar saja.
Ingin rasanya mengelus rambut Rayyan dengan lembut dan membawanya jalan-jalan ke taman bermain ayunan dan memakan sekotak eskrim berdua.
Tertawa dengan anak semata wayangnya itu. Membuat bocah itu bahagia dan merasa dicintai. Membuat bocah itu merasakan masih meiliki seorang ibu.
Tapi Andini terlalu egois dan buta karena cinta bodohnya pada Jason.
Ah, kini semua sudah tidak berarti. Wanita itu telah memilih meninggalkan Rayyan.
Apakah bocah itu akan sedih tanpa dirinya?
Bukankah selama ini dia memang selalu membuat bocah itu sedih?
Penyesalan tidak akan berarti apapun kini.
Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Rayyan, Andini tidak akan berani.
Dia terlalu menghinakan dirinya sendiri dihadapan jiwa polos anak lelakinya yang tidak berdosa, yang tidak tahu apa-apa tapi harus menanggung akibat dari keegoisannya sebagai seorang ibu.
*Selamat jalan Andini*
__ADS_1