
"Abang ngapain pagi-pagi kesini? Gangguin orang tidur aja" ucapku dengan malas yang melanda karena gangguan di pagi buta.
"Ini udah siang, kamu nggak ada kuliah?" Tanya bang Raymond sambil merangsek masuk melewati ku yang masih mengantuk di depan pintu.
"Ada ntar siangan dikit" jawabku sambil menyusul Abangku yang sudah lebih dulu duduk di sofa.
"Abang sendiri nggak ke kantor? Kenapa malah kesini?" Tanyaku setelah sadar melihat Abang justru mengendurkan dasi yang melingkari lehernya.
"Abang lagi pengen mampir aja ke apartemen kamu" jawab bang Ray, tapi entah mengapa dari sorot matanya aku menangkap sesuatu yang janggal.
"Oohh, Abang mau minum?" Tanyaku beranjak menuju dapur, mengambil dua kaleng soda di kulkas.
"Pagi-pagi jangan minum soda jas, kamu dibilangin ngeyel" sungut bang Ray sambil menatap soda-soda ditanganku.
"Ohh kalau Abang nggak mau ya udah" jawabku enteng sambil meneguk soda milikku.
Abangku yang paling baik itu cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tahu dia sebal melihatku yang tidak pernah mendengarkan perkataannya tentang satu hal ini.
Bagaimana lagi, aku suka.
"Kabar Rayyan gimana bang?" Tanyaku mengingat keponakanku yang masih lucu-lucunya.
"Dia sehat, tambah nggemesin dan lucu" jawab bang Ray sambil tersenyum dalam.
"Jas, sini sebentar ada yang mau Abang omongin" ucap bang Ray sambil menggerakkan tangannya memintaku mendekat.
Aku duduk tepat disampingnya ketika tangan bang Ray mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat dari dalam tas kerjanya.
"Apaan tu bang?" Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Buka" ucapnya sambil menyodorkan amplop itu kepadaku.
Aku membukanya dengan cepat, mengeluarkan beberapa lembar putih dari dalamnya.
Dengan hati-hati mataku mencerna setiap barisan kalimat yang tertulis di dalamnya.
Sebuah surat kuasa?? Tapi kenapa ada nama kami disana? Ada nama Rayyan juga.
"Ini apaan sih bang?' tanyaku sama sekali tidak mengerti.
Ya, tentunya aku tahu itu sebuah surat kuasa.
Tapi jujur aku benar-benar tidak mengerti maksudnya dan jelas perlu penjelasan tentang hal ini.
Memangnya Abangku satu ini mau kemana sampai menunjukku sebagai wali dari Rayyan? Melimpahkan wewenangnya atas perusahaan kepadaku jika terjadi sesuatu atas dirinya.
"Nggak apa-apa, Abang cuma minta ke kamu selalu jaga Rayyan. Anggap dia sebagai anak kamu sendiri" jawabnya sambil menepuk bahuku.
"Emang Abang mau kemana sih? Kenapa musti ada pengalihan kuasa beginian segala? Abang mau liburan keluar negri setahun?" Tanyaku memberondong padanya.
"Enggak, Abang nggak akan kemana-mana, Abang akan selalu disini, disamping kamu" ucapnya sambil tersenyum begitu tulus.
----
----
----
Tiba-tiba bayangan wajah bang Raymond yang tersenyum mendadak pudar memutih, berubah menjadi cahaya yang menyilaukan.
__ADS_1
Dadaku sesak, sangat sesak. Entah mengapa rasanya paru-paruku seperti kekurangan pasokan oksigen.
Kepalaku berdenyut nyeri, pedih dan berkunang-kunang.
Aku ada dimana?
Langit-langit putih tampak kabur diatas sana, ada lampu yang menyilaukan.
Awww, kepalaku pusing sekali. Tapi kenapa tangan ini begitu berat ketika aku hendak mengangkatnya sedikit saja.
"Dokter pasien sudah sadar"
Entah suara siapa itu??
Mataku masih terasa begitu berat untuk terbuka dengan sempurna. Beberapa pasang tangan terasa meraba beberapa bagian tubuhku yang tidak mampu aku gerakkan.
Cahaya putih yang sangat terang masuk menusuk langsung pada mataku yang dibuka dengan paksa.
Cahaya putih kecil itu mirip cahaya senter.
Aku ingin bangun, tapi kenapa rasanya begitu berat.
Aku ingin bicara, aku ingin bertanya, tapi kenapa suaraku tercekat di tenggorokan tanpa bisa aku keluarkan.
Tapi aku harus mencoba sekali lagi, ahh....kenapa justru kepalaku semakin berdenyut dan berputar. Selemah inikah aku???
Sekali lagi gelap.
Komennya mana nih?!? author seneng lho bacain komen kakak-kakak readers semuanya.. ya meskipun belum bisa bales satu-satu. ✌️😁
__ADS_1
Like nya jangan lupa ya?? kok like nya menurun sih?? sedih deh... 🥺 hikss...