
Bismillahirrahmanirrahim...setelah hampir satu purnama Hiatus tanpa pemberitahuan akhirnya lanjut juga..hihihi... 4 BAB langsung ya 💖💖
"ehhemm" Jason sengaja berdehem, membuat Ibram mencondongkan tubuhnya mencari tahu pemilik suara tersebut.
Untuk sesaat pria bermata sipit itu tersentak, tapi segera mungkin berusaha kembali tersadar akan situasi yang sama sekali tidak dia duga.
Apakah keberadaannya saat ini akan menempatkan posisi Wulan pada situasi yang sulit?
Ahh.. tangannya meraba ujung kacamata, membetulkan letak kacamata yang dia kenakan sambil otaknya terus berputar.
"Selamat malam pak" sapa Ibram pada akhirnya.
Suasana hening, Wulan bisa merasakan aura di tempat itu mendadak mencekam dan dingin.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Pikiran gadis itu beterbangan membayangkan adegan-adegan mengerikan yang bisa saja terjadi, kemungkinan terburuk adalah tuannya itu mengamuk.
Mungkinkah?
"Ya, selamat malam pak Ibram!" Ucap Jason dengan tersenyum, tapi sungguh sorot matanya tampak menakutkan.
'kalau aku mau, aku bisa menghajar mukamu yang sok imut itu sekarang juga, tapi itu hanya akan mengotori tanganku dan yang pasti itu bukan tindakan yang berkelas' batin jason menatap Ibram.
"Sepertinya kalian sudah membuat janji?" Ucap Jason sambil melangkahkan kakinya mendekat kearah mereka berdiri.
Wulan membeku di tempatnya, tidak tahu harus berbuat apa dan menjawab apa?
__ADS_1
Sepertinya tuhan benar-benar sedang bermain-main dengan hidupnya yang mirip benang kusut.
"Ah, sebenarnya tadi saya tidak sengaja bertemu Wulan di sini, tadi kami belum sempat bicara banyak. karena saya buru-buru, makanya saya mengajak Wulan untuk makan malam, saya penasaran kenapa dia ada di apartemen ini!" Bohong Ibram menjawab pertanyaan Jason.
"Benar begitu?" Tanya Jason beralih menatap Wulan.
"I...iya" jawab Wulan mengangguk.
"Dia disini karena ada suatu urusan, urusan pribadi yang tidak perlu untuk dijelaskan kepada siapapun" tegas Jason menatap tajam pada Ibram.
"Oh, hahaha ya saya mengerti" jawab Ibram sembari tertawa.
"Baiklah, mungkin lain kali saja kita makan malam bersama" ucap Ibram pada Wulan. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti, bersyukur karena diam-diam Ibram sudah membantunya.
'Diatas??? Jadi lelaki ini tinggal di sini juga?' batin jason.
Meski berusaha setenang mungkin, tapi tampak jelas wajah Jason menegang.
Ternyata banyak yang tidak diketahuinya dari guru keponakannya itu.
Apa membiarkan Wulan berada ditempat itu berdekatan dengan Ibram adalah pilihan yang tepat?!
"Apa tidak sebaiknya kita makan malam bersama saja?" Tawar Jason kepada Ibram.
Bukankah itu menunjukan etika yang baik dengan berbasa basi menawarkan seseorang yang jelas memiliki tujuan yang sama ?
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang tidak merepotkan" ucap Ibram ringan dengan senyum khas menghiasi wajahnya.
'cih' Jason berdecih didalam hati.
Wulan memandang bergantian dua orang pria di hadapannya itu.
Adegan cakar-cakaran atau amukan Jason bahkan tidak terjadi, bukankah itu patut dia syukuri?
Kekhawatiran yang berlebihan membuat jantungnya berdebar kencang kini perlahan mulai tenang.
Mereka turun bersama-sama menuju cafe di lantai bawah.
Keadaan yang canggung kembali terjadi manakala kedua lelaki itu menarik kursi yang sama.
Ingin duduk tepat di samping Wulan.
Sampai gadis itu bangkit berdiri dan memilih kursi lain, membuat dua pria dewasa yang mendadak menjadi kekanakan itu duduk berdampingan.
Bukankah itu adil?? Ya walaupun bisa dipastikan hati mereka dipenuhi dengan umpatan dan saling memaki satu dengan lainnya.
Tapi hal itu cukup membuat Jason puas, setidaknya Ibram tidak bisa duduk disamping gadis pujaannya.
Tapi siapa sangka, Ibram pun memikirkan hal yang sama.
Setidaknya Wulan tidak terus menerus ditempeli oleh pria genit yang lupa pada istrinya itu.
__ADS_1