
Sore itu acara yang melelahkan namun membahagiakan akhirnya berakhir.
Bi Irah dan yang lainnya kembali ke hotel tempat mereka menginap sebelumnya.
Sementara Jason tinggal di rumah keluarga istrinya.
Rona bahagia masih membias di wajah kedua anak manusia yang kini telah resmi mengucap janji suci atas nama Tuhan itu.
Wulan duduk di depan cermin meja rias sederhana miliknya.
Wanita itu mulai melepaskan hiasan di kepalanya membersihkan sisa-sisa make up yang menempel di wajahnya, saat Jason ikut memasuki kamar Wulan yang kini berubah menjadi kamar pengantin.
Ya, meskipun tidak mewah dan justru bisa dikatakan sempit.
Tapi kamar Wulan cukup bersih dan tertata. Dengan perabotan yang seadanya.
Hanya sebuah ranjang berukuran kecil dengan kain kelambu yang menutupinya dari serangan nyamuk.
Sebuah meja rias usang dengan tidak banyak alat make up seperti gadis pada umumnya.
Lemari pakaian yang tidak besar, bahkan pintunya sudah tidak bisa terkunci lagi karena kuncinya rusak.
Jason duduk di tepian ranjang hingga membuat bunyi berderit saat lelaki itu mendaratkan pantatnya.
Lelaki itu melepas jas yang dia kenakan sambil mengamati sang istri yang tengah membersihkan wajahnya.
Kemudian matanya menyapu seluruh ruangan itu. Kamar yang sederhana tapi terasa begitu nyaman.
Wulan melihat lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya itu tengah melihat kondisi kamarnya.
"Maaf ya mas, kalau kamarnya sempit dan kurang nyaman" wulan membuka suara, tanpa berhenti dari aktifitasnya.
"Siapa bilang? Justru aku heran, kenapa kamar kamu terasa lebih nyaman dan hangat dibanding kamarku di rumah" jawab Jason.
"Itu karena kamar kamu di rumah ada AC nya," jawab Wulan terkikik.
Kemudian lelaki itu merebahkan tubuhnya yang lagi-lagi menimbulkan suara berdecit.
"Hmmm, nyamannya" kata Jason lagi.
Wulan hanya menggeleng, apa benar senyaman itu? Atau hanya menyenangkan hatinya saja.
Bagaimana mungkin kasur kapuk yang mulai tipis dan mengeras terasa nyaman di tubuh seseorang yang sedari kecil terbiasa tidur di atas spring bed yang empuk.
"Lebih baik mas mandi dulu" ucap wulan menatap lelaki yang terbaring memejamkan matanya itu.
"Ahh, oke. Dimana kamar mandinya?" Jason menggeliatkan tubuhnya yang kaku dan pegal sambil mengerjapkan matanya.
__ADS_1
***
Malam semakin naik ke peraduan, saat sepasang pengantin baru itu mulai masuk kedalam kamarnya yang sempit.
Rintik air hujan mulai membasahi bumi.
Ah, gerimis di malam pertama! Bahkan langit pun merestui malam yang berubah menjadi syahdu.
Entah mengapa hati Wulan mendadak gugup. Bagaimanapun ini adalah malam pertamanya. Pikiran gadis polos itu mendadak terisi hal-hal aneh.
Membuat perutnya sedari tadi mulas tanpa sebab.
"Sayang, terimakasih ya kamu sudah bersedia jadi istriku, aku bahagia sekali" Jason menggenggam erat kedua tangan Wulan kemudian mencium tangan istrinya tersebut dengan hangat, membuat lagi-lagi perut Wulan berdesir lucu.
"Iya mas, aku juga bahagia sekali. Sangat-sangat bahagia" balas Wulan dengan senyuman yang sangat cantik.
Jason menatap wajah istrinya dengan dalam, tangannya mengelus perlahan pipi Wulan, kemudian menyusuri rahang dan leher, menyibakkan rambut hitam yang tergerai itu.
Sekali lagi Jason mengecup punggung tangan istrinya, memperlakukan Wulan dengan begitu lembut.
Kemudian mendaratkan ciumannya di kening istrinya begitu lama.
Membuat Wulan semakin gelagapan oleh perasaan aneh yang mendadak muncul.
Jason menyusupkan jemarinya di belakang leher Wulan, menarik wajah istrinya yang Semerah tomat itu semakin mendekat. Kemudian merapatkan bibirnya pada bibir lembut Wulan yang semanis candu untuknya.
Bahkan Wulan merasa sangat aneh, lebih aneh dari ciuman pertamanya dengan Jason dulu.
Ada hawa panas yang aneh menjalari seluruh tubuhnya.
Begitupun nafas suaminya yang memburu, menciumnya lebih dalam dan sedikit kasar dan menuntut.
Dengan sebelah tangan Jason merebahkan tubuh Wulan di ranjang sempit yang berderit.
Andai diluar tidak gerimis dan tersamar oleh suara petir, niscaya suara deritan ranjang itu akan terdengar hingga keluar kamar.
Membuat siapapun yang mendengarnya akan begitu malu.
Jason melepas pagutannya, dengan setengah berdiri lelaki itu membuka kemeja yang membungkus tubuhnya.
Tatapan matanya sayu dan berkabut, membuat Wulan kebingungan dan semakin berdebar tidak karuan.
Bahkan rasanya jantungnya berloncatan melihat tubuh sixpack suaminya itu untuk pertama kali.
Membayangkan hal yang mungkin saja akan segera terjadi selanjutnya.
Jangankan bersentuhan dengan lelaki sebelumnya, bahkan Wulan sama sekali belum pernah berpacaran.
__ADS_1
Ini pertama kali baginya, mencintai seorang lelaki dan kini menjadi suaminya. Seperti mimpi yang jadi nyata.
Entah, sepertinya alam benar-benar sedang bersahabat dengan mereka.
Petir menggelegar semakin keras, Jason kembali menyusuri setiap jengkal wajah dan leher istrinya dengan bibirnya.
Membuat Wulan melenguh, mengeluarkan suara aneh yang tidak bisa dia tahan meskipun ingin.
Tangan Jason mulai menuruni leher istrinya, mencari kancing baju sang istri dan mulai membukanya satu persatu.
Diluar hujan turun begitu deras, sederas perasaan yang tercurah diantara sepasang anak manusia yang mendamba.
Wulan memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya saat sang suami menciumi leher jenjangnya.
Saat tiba-tiba rasa dingin membasahi dahinya berkali-kali.
Air?? Semakin lama semakin deras menetes membasahi dahinya.
Wulan terkejut, begitu pula Jason.
Lelaki itu meraba punggungnya yang mendadak dingin oleh tetesan air yang berubah lebih deras.
Keduanya bangkit kemudian mendongak menatap langit-langit kamar Wulan.
"Bocor mas!" Kata Wulan sambil menunjuk tetesan air di beberapa titik atapnya.
Bukan hanya satu titik. Hampir lima titik kebocoran.
Salah satunya bahkan tepat diatas ranjangnya.
Semakin lama air semakin banyak membasahi kasur kapuk tempat dimana seharusnya sepasang suami istri itu memadu kasih.
"Wah, iya!"
Jason menyambar kemejanya yang tergeletak di sembarang tempat.
Begitupun Wulan, membenahi bajunya yang hampir terbuka seluruhnya dan kemudian mengikat rambutnya.
Wulan berlari keluar menuju dapur, mencari ember dan beberapa baskom.
Sementara Jason tampak menggeser ranjang dan menggulung kasur.
Meskipun dalam hatinya mengumpat berkali-kali, bukan karena pekerjaan ini.
Tapi karena sesuatu yang baru saja ingin dia mulai tidak bisa dituntaskan malam ini.
Menyisakan sakit kepala yang mendadak mendera.
__ADS_1
"Sialan!"