My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps.36


__ADS_3

"Kamu lagi apa disini?" Tanya Ibram dengan wajah penuh tanya.


Wulan terkejut setengah mati, tidak menyangka akan bertemu Ibram disini, di tempat dan waktu yang tidak tepat.


"Ma...mas Ibram juga kenapa di sini?" Wulan tergagap melontarkan tanya.


"Aku memang tinggal di sini" jawab Ibram.


"Kalau kamu sedang apa di sini?" Ibram mengulang pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban.


'aduuuuhhh, aku harus jawab apaaa??? Berfikir Wulan berfikir!!!' batin Wulan panik.


"Wulan?" Ibram masih menunggu jawaban dengan wajah bertanya-tanya.


"Ahh itu..aku...itu...emm" Wulan tergagap kebingungan.


Kepalanya kosong tidak bisa memikirkan jawaban apapun. Wulan sebenarnya tidak punya keberanian untuk mengutarakan hal yang sebenarnya karena menyangkut tuannya. Dia takut dianggap lancang membocorkan urusan pribadi Jason.


Tapi bagaimana lagi, gadis itu terlalu lugu untuk membuat sandiwaranya sendiri.


Ting...


"Sa...saya keluar duluan mas"


Pintu lift terbuka di lantai 9, Wulan ingin segera keluar.


Tapi tentu saja Ibram mengikutinya, rasa penasaran pria itu belum terjawab sama sekali.


"Tunggu, kamu belum jawab pertanyaanku" kata Ibram sambil terus mengikutinya.


***


"Pura-pura tunangan??" Tanya Ibram dengan terkejut tak percaya.


Wulan hanya mengangguk, pada akhirnya dia mempersilakan Ibram masuk ke apartemennya, ya lebih tepatnya apartemen Jason, dan menjelaskan semuanya kepada Ibram.


Dia tidak punya cukup akal untuk menutupi hal yang sebenarnya kenapa dia bisa berada di tempat itu.


"Jadi pak Jason itu tidak mengakui istrinya?" Tanya Ibram tidak mengerti.


Lagi-lagi Wulan hanya mengangguk membenarkan.


Ibram memang bekerja pada Jason, tapi tidak menilik lebih dalam tentang urusan pribadi orang yang memperkerjakan dirinya.

__ADS_1


Terlebih lagi, dari awal indah yang mengurusi urusan pekerjaannya dengan "ayah" dari Rayyan, muridnya itu.


Dua tahun pria itu bekerja di ibukota, sebelumnya dia berasal dari kota X.


Itulah sebabnya dia tinggal sendirian di apartemen tersebut.


Apartemen miliknya berada di lantai 11, yang dibelinya satu setengah tahun yang lalu setelah beberapa bulan sebelumnya tinggal di tempat kost.


"Aku nggak menyangka" ucap Ibram lagi sambil menggelengkan kepalanya.


Bagaimanapun kelihatannya Jason Hartono tidak tampak seburuk itu, tapi hati orang siapa yang tahu.


Seperti itulah yang terlintas di pikiran Ibram.


Mereka tenggelam dalam diam beberapa saat, larut dalam pikiran-pikiran masing-masing.


Ibram masih tidak menyangka bahwa Jason adalah suami yang tidak mau mengakui istrinya, hanya karena istrinya itu cacat.


Bukankah sepasang suami istri yang menikah sama saja telah mengikat janji dan berkomitmen untuk saling menjaga dan berada di sisi masing-masing dikala susah maupun senang?


Sementara Wulan masih berada dalam dilema apakah yang telah dia lakukan ini benar atau salah.


Bukankah dengan memberitahu Ibram tentang semua sandiwara ini sama saja dia menjadi orang yang mengkhianati kepercayaan.


"Sampai hari Senin" jawab Wulan.


"Bagaimana dengan Rayyan?" Tanya pria berkacamata itu lagi.


"Kata tuan, den Ray sama bi Irah untuk sementara waktu" jawab Wulan.


"Ya sudah wulan, aku mau pulang dulu. Nanti malam kita ketemu lagi bisa kan, kita makan di kafe bawah" kata Ibram.


"Iya mas" wulan mengangguk sambil mengiringi langkah Ibram keluar dari apartemen itu.


Kini Wulan sendiri, merebahkan tubuhnya lagi di sofa yang empuk.


Tempat itu terasa sangat sunyi, hanya dirinya seorang yang menghuni.


Biasanya hari-harinya dipenuhi dengan tawa Rayyan, tangis bocah itu, terkadang juga kerewelannya ketika merajuk.


Wulan sudah terbiasa dengan itu semua, kini ketika dia jauh dari bocah itu satu hari saja terselip perasaan rindu.


Gadis itu menyalakan televisi untuk mengusir sepi, sekedar melihat-lihat sinetron di layar kaca.

__ADS_1


Yang menampilkan drama tentang perebut suami orang yang tertimpa azab.


Wulan bergidik ngeri membayangkan jika dirinyalah si wanita perebut suami orang itu. Meskipun istri sah dalam drama tersebut seorang wanita lemah lembut, berbanding terbalik dengan Andini yang mengerikan.


Apapun alasannya merebut hak orang lain yang bukan miliknya adalah sebuah kesalahan besar.


Dan hal itu tidak pernah terbayangkan di benaknya sebelumnya.


Lama kelamaan mata gadis itu terasa berat, Wulan terlelap di atas sofa dengan televisi yang masih menyala.


Tring...tring...


Suara nyaring terdengar tidak jauh dari tempat Wulan terlelap.


Tring...tring....


Berkali-kali suara itu terdengar, suara handphone yang entah berada di mana.


Wulan bangkit terduduk, diusapnya wajahnya sambil menguap beberapa kali.


Matanya mencari-cari sumber suara, seperti berasal dari kamarnya.


Benar saja, handphone keluaran terbaru pemberian Jason yang tergeletak di meja dalam kamarnya itu terlihat menyala dan berbunyi begitu nyaring.


Wulan segera meraihnya, tampak barisan nomor yang tidak dikenalnya muncul dari layar panggilan yang masih tampak jernih itu.


"Siapa ya" gumamnya.


"Ya, hallo" sapa Wulan sembari mengangkat panggilan itu.


"Hallo, wulan ya? Ini bianca..."


DEG


"Bi...Bianca?"


**Hallo, akhirnya author memutuskan untuk tetap lanjut disini lho. demi pembaca setia yang suka sama kisah cinta Wulan yang masih salah paham.


Mohon dukungannya ya, jangan lupa tinggalkan LIKEnya, KOMENTARNYA, VOTEnya supaya author tambah semangat.


kalau perlu SHARE juga boleh biar tambah banyak yang baca. hehe.. 🤭🤭


Thank you 🙏💖💖💖**

__ADS_1


__ADS_2