My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 96


__ADS_3

"Mommy... Mommy kenapa mi?" Rayyan memeluk tubuh Andini yang terbujur kaku.


Bocah itu tampak begitu takut dan bingung melihat kondisi ibunya.


Kain kafan telah melilit seluruh tubuhnya yang pucat, mata cekungnya kini terpejam selama-lamanya.


Andini tidak lagi membuka matanya, tidak lagi bersuara kasar untuk mengusir bocah yang terduduk dan menangis pilu dihadapannya, mengiringi takdir perpisahan oleh sang maut.


Bi Irah meraih tubuh Rayyan, namun bocah itu tak bergeming.


Masih setia terduduk di samping tubuh Andini.


Meski banyak pelayat sudah mulai berdatangan, tak membuat bocah itu beranjak dari tempatnya.


Hati kecilnya tahu, sesuatu yang buruk telah terjadi pada ibunya.


Bahkan kali ini si bocah berdoa dan berharap memilih untuk mendengar makian dari mulut Andini seperti biasanya, dibanding melihat wanita itu terdiam tak bergeming seperti saat ini.


Rayyan terisak dan terus menyebut nama ibunya. Membuat setiap orang yang melihatnya ikut merasakan kepiluan yang menyesakkan.


Terutama Bi Irah, wanita itu berkali-kali mengusap airmata yang membanjiri wajahnya tanpa henti.


"Den, sudah jangan nangis, den Rayyan yang sabar, mommy den Rayyan sekarang sudah nggak sakit lagi," bisik bi Irah sambil terus mengusap kepala Rayyan.


"Tapi kenapa mommy gak gelak-gelak Bi?" Bocah itu terus menangis dan mengguncang tubuh Andini.


Bi Irah hanya mampu memalingkan wajahnya, tidak ada yang bisa dia ucapkan.


'apa yang harus aku katakan ya Allah? Bagaimana caranya aku menjelaskan pada bocah sekecil ini?' batin Bi Irah.


Bu Siti dan wahyuni mendekat mencoba menghibur Rayyan, tapi tidak ada yang mampu menjelaskan tentang hal ini pada bocah kecil itu.


Saat tamu-tamu pelayat semakin banyak berdatangan, dan indah berkali-kali melirik jam tangan yang melingkar di lengannya.


Jason dan Wulan bersama dua orang anak buah Herman datang dengan sebuah mobil hitam.


Mereka bergegas masuk, dan pemandangan yang pertama kali tertangkap oleh netra mereka adalah si kecil Rayyan yang terus menangis.


Itu membuat dada Jason begitu pedih, airmata tak kuasa terbendung lebih lama lagi.


Begitupun dengan Wulan, kedua orang tersebut mendekat dan memeluk tubuh kecil Rayyan.

__ADS_1


"Ayah... Mommy ayah..."


Jason hanya mampu mengangguk, apa yang bisa dia katakan?


Melihat Rayyan mengingatkan pada dirinya sendiri saat satu persatu orang terdekatnya pergi meninggalkan dirinya selama-lamanya.


"Mommy kenapa ayah? Kenapa mommy diem aja?" Rayyan terus merengek dipelukan jason, sambil matanya menatap ibunya yang terlelap tak bergerak.


Rasanya Wulan tak sanggup lagi melihat semua adegan itu. Dadanya begitu nyeri.


Wanita itu menutupi wajahnya dengan tangan, menghapus airmata yang mengalir.


Wulan menatap Andini yang sudah kaku tak bergeming.


'kenapa mbak Andin melakukan ini mbak? Lihat Rayyan mbak, dia bahkan masih tetap mencintai kamu meski sikapmu selama ini menyakitinya' bisik hati Wulan.


"Mommy kenapa ayah? Lay janji gak nakal ayah, tapi mommy halus bangun," pinta bocah itu di dada Jason.


'bahkan anak yang selalu kamu sia-siakan masih selalu menyayangimu ndin, seandainya hati terbuka sedikit saja untuk rayyan'


"Ray, dengerin ayah..."


"Mommy sudah pergi ke tempat Tuhan, Ray harus ikhlas, coba Ray lihat sekarang... Mommy sudah tidak sakit lagi kan? Jadi biarkan mommy pergi dengan tenang," terang Jason dengan lembut kepada keponakannya.


"Ray, mommy sudah meninggal, Ray harus ikhlasin ya, biar mommy tenang disana," ucap Jason sambil mengeratkan pelukannya pada Rayyan.


Rayyan kini mengerti, tangisnya kian pecah. Memang Andini selalu bersikap kasar terhadapnya. Tapi ibu tetaplah ibu, darahnya akan selalu mengalir di dalam tubuh sang anak.


Ada sebuah tali penghubung yang tidak akan pernah bisa diputus oleh apapun.


"Ray jangan sedih, masih ada ayah, ada bunda dan semua orang disini yang akan selalu jaga Ray," ucap Jason dengan suara kian bergetar.


---


Tangan kecil Rayyan menggenggam bunga dan menaburkannya tepat di atas gundukan tanah yang masih merah.


Beberapa pelayat sudah berangsur pergi dan membuat makam itu kembali sepi.


Yang tersisa hanyalah Jason, Wulan dan Rayyan. Sementara yang lain telah kembali ke rumah.


Rayyan mengusap perlahan papan kayu yang tertancap dengan nama Andini tertera disana.

__ADS_1


"Ray...," Sebut Jason.


Rayyan membalikkan wajahnya menatap sang 'ayah'.


Jason berdiri kemudian menggandeng tangan bocah kecil itu untuk sedikit bergeser. Kini mereka bertiga telah menghadap sebuah nisan tepat disamping gundukan makam Andini.


"Ray, itu makam opa dan Oma," tunjuk Jason pada malam yang sedikit berjarak dari tempatnya berdiri.


"Opa? Oma?" Tanya Rayyan. Selama ini bocah itu tidak pernah mengenal kakek nenek dari ayah maupun ibunya.


"Iya, Oma dan opa orangtuanya ayah dan papa Rayyan," jawab Jason sedikit terbata.


Wulan menatap sang suami dalam diam, tapi sorot matanya mempertanyakan apa yang hendak Jason perbuat saat ini? Apakah ini akan menjadi saat yang Jason katakan untuk memberitahukan semuanya pada Rayyan? Bukankah bocah itu masih berduka.


Jason mengangguk mantap, seolah menjawab semua tanya istrinya.


"Papa Layyan?" Bocah itu tidak mengerti.


"Iya, sudah saatnya Ray tahu, ayah ini bukan ayah kandung Rayyan. Ayah Jason ini adalah om kamu, adiknya papa kamu yang sebenarnya," jelas Jason dengan hati-hati.


Bocah itu masih terdiam tidak mengerti. Otaknya sedang berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya.


"Jadi papa Lay dimana?" Tanyanya membuat Jason dan Wulan lagi-lagi terasa getir.


"Papa Ray dulu juga sakit lalu meninggal, ini kuburan papa Rayyan. Sekarang mommy dan papa Rayyan sudah tenang di samping tuhan, Ray harus jadi anak yang kuat agar bisa membuat orang tua Ray bangga disana," ucap Jason.


"Jadi ayah....ehhmm..." Rayyan menghentikan ucapannya.


"Kenapa Ray?" Tanya Jason.


"Jadi lay gak punya papa mama?" Tanyanya lagi membuat Wulan tidak sanggup mendengar nya.


"Rayyan dengar, Rayyan punya ayah dan bunda. Ayah dan bunda adalah orangtua rayyan. Sampai kapanpun akan seperti itu, kami akan selalu menyayangi Rayyan selamanya, jadi Rayyan jangan sedih, Ray harus jadi anak yang kuat, doakan mommy dan papa Ray disana," jelas Jason sambil kembali mengelus dengan sayang kepala Rayyan.


Sepahit apapun, kenyataan harus diungkapkan. Untuk saat ini Rayyan tampaknya bisa menerima hal itu.


Atau mungkin pikirannya belum dapat mencerna seutuhnya.


Tapi perlahan namun pasti, semua beban di pundak Jason terasa lebih ringan setelah kejadian ini.


Kepergian Andini tidak Jason sesali, bahkan hati kecilnya terasa lebih lega.

__ADS_1


Beban yang menghimpit tubuhnya terasa menghilang seiring waktu.


💖💖💖


__ADS_2