My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 90


__ADS_3

Andini tampak begitu murung dan kita semua tahu apa sebabnya.


Pernikahan Jason dengan Wulan sudah menjadi malapetaka paling mengerikan di dalam hidup Andini.


Dan kali ini mereka bahkan mengadakan resepsi megah di sebuah hotel ternama.


Secara resmi Jason mengenalkan Wulan si gadis kampung itu sebagai istrinya pada semua orang.


Andini tidak mengamuk, tapi airmata terus mengalir dari matanya yang cekung.


Bibirnya merapalkan sesuatu tanpa suara, menyebut nama Jason.


Hatinya terlalu sakit membayangkan kebahagiaan Wulan yang seharusnya menjadi miliknya.


Kebahagiaan yang dia idam-idamkan selama ini. Yang selamanya hanya menjadi bias mimpi.


Wanita itu terlalu putus asa untuk berteriak dan melampiaskan amarahnya seperti sebelumnya.


Keputus asaan menguasai relung hati dan pikiran Andini.


Tidak ada gunanya, semua tidak ada gunanya. Bahkan hidupnya pun kini tidak ada gunanya.


Memisahkan Wulan dari Jason adalah sesuatu yang mustahil.


Mengubah kebencian Jason padanya juga hal yang teramat mustahil.


Jangankan membuat Jason mencintainya, membuat Jason sedikit saja melupakan kebenciannya pada Andini adalah hal yang mustahil.


Semuanya sia-sia, pengorbanan, penantian, semuanya tidak berarti.


Tiba-tiba sebuah penyesalan terbersit di pikiran Andini.


Seandainya dia mencintai Raymond seperti Raymond mencintainya, pasti dia tidak akan seperti ini.


Seandainya dia sedikit saja melihat Raymond waktu itu, dia tidak akan menderita seperti ini.


Dirinya terlalu egois, menyia-nyiakan seseorang yang mencintainya tanpa syarat. Dan menghancurkan semuanya dengan kedua tangannya sendiri.


Andini menggigit bibir bawahnya, airmata pilu bergulir di pipinya.


Wanita itu menangis tanpa suara, hidupnya hampa.


Tidak ada tujuan, dia kehilangan arah.


Tidak ada yang ingin dia pertahankan lagi di dunia ini.

__ADS_1


Hidupnya berantakan, semuanya hancur tanpa sisa.


Tuhan tidak adil padanya, kenapa tuhan menempatkan cintanya pada Jason sedalam ini.


Keputus asaan dan rasa bersalah atas masa lalu mendorongnya untuk mengakhiri semua ini.


Suara-suara di kepalanya mulai berteriak, memaksanya untuk mengakhiri semua rasa sakit yang kian mengoyak hati dan jiwanya.


Kamar itu begitu sunyi, dua suster penjaganya sudah keluar.


Andini sebelumnya mengatakan ingin istirahat dan tidak ingin diganggu.


Dengan senang hati kedua wanita perawat itu keluar, tentu mereka senang akhirnya Andini bisa bersikap tenang seperti ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bukan.


Andini meraih laci di meja samping ranjang miliknya, tangannya yang kurus meraih sebuah botol kaca berisi obat penenang miliknya.


Deraian airmata kian membanjiri wajah sayu itu, dengan tangan yang sedikit gemetar Andini membuka tutup botol yang masih melekat.


Kemudian mengeluarkan sebagian isinya, mungkin lebih dari tiga puluh butir obat.


Sebelah tangannya meraih gelas berisi air putih yang memang tersedia di sana untuknya.


Ini sudah menjadi keputusannya, memiliki Jason atau tidak sama sekali. Hidupnya kini sudah tidak ada artinya. Hanya kehampaan, hitam dan gelap. Cahaya terang seolah sudah meninggalkannya sejak hari dimana dia memutuskan untuk melakukan segala cara demi cintanya untuk Jason.


Andini menjejalkan butiran-butiran ditangannya itu kedalam mulutnya, mendorong semua obat itu dengan air putih. Menelannya dengan susah payah, dibarengi dengan daraian air mata yang terus bergulir.


Untuk sesaat semua masih baik-baik saja, tapi tidak butuh waktu lama ketika tubuh Andini mulai bereaksi.


Sekujur badannya gemetaran hebat, rasa pusing mendera seperti dunia berputar lebih cepat.


Keringat dingin mengucur deras seiring tubuh Andini yang mulai mengejang.


Kesadarannya mulai hilang, matanya terbalik menampilkan bagian putihnya saja.


Tubuh Andini ambruk dan kian mengejang hebat disertai busa yang akhirnya keluar dari mulutnya.


Sampai akhirnya tubuh wanita itu berhenti bergerak, hanya busa yang masih keluar dari tubuhnya yang kian kaku.


***


Bianca tersenyum masam, langkah kakinya gontai menuju pelaminan tempat dimana Wulan dan Jason berdiri menyalami tamu undangan yang hadir.


Acara megah ini sama sekali tidak menghiburnya.


Ini adalah kekalahan mutlak baginya, dia tidak menyangka wulan benar-benar kekasih jason, bahkan kini telah resmi menjadi istrinya.

__ADS_1


Awalnya dia mengira semua hanyalah sebuah tipuan Jason belaka.


Tapi lihatlah kini, si Upik abu benar-benar menjadi Cinderella.


Sementara dirinya??


Ada rasa iri dan sakit di sudut hatinya, entah apa namanya tapi Bianca tidak bisa terima melihat Wulan disamping Jason.


Demi apapun Wulan tidak pantas untuk Jason. Status sosial mereka bagai bumi dan langit.


Apa yang kurang dari dirinya? Cantik, berkelas, berpendidikan tinggi, tapi di kalahkan perempuan kampung macam Wulan.


"Selamat ya Wulan, selamat ya pak Jason," ucap Bianca datar sambil menyalami kedua mempelai itu dengan setengah hati.


"Terimakasih nona Bianca," balas Jason formal.


Dengan cepat Bianca melangkahkan kakinya menjauh, semakin dia menahan semakin dia tidak bisa menerima kekalahan ini.


Pikirannya gusar, marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu.


Dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, di tempat yang sama dengan Wulan yang bahagia.


Bianca langsung menuju parkiran, mengendarai mobilnya menembus kepadatan jalanan ibukota.


Pikirannya kalut dan gusar, gadis itu membelokkan kemudinya menuju ke sebuah bar terkenal.


Mungkin minum adalah jalan yang tepat untuk menghilangkan kekesalan di hatinya.


Perempuan itu melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke dalam bar yang tampak ramai, benar saja ini weekend.


Dengan balutan gaun berwana hitam dipadukan dengan Stiletto berwarna senada, membuat derap langkah kakinya kian menghentak percaya diri.


Dengan riasan bold yang berani dan sensual membuat beberapa pasang mata pengunjung lainnya yang didominasi kaum Adam itu tertuju padanya.


Siapa yang bisa menolak pesona Bianca? Yah, kecuali satu orang Jason Hartono. Yang seolah menginjak harga dirinya menjadi remahan.


Sesaat sebelum menemukan tempat duduk, Bianca menyapukan pandangannya.


Sesaat matanya berhenti pada satu sosok lelaki yang sepertinya dia kenali.


Lelaki yang tidak pernah dia bayangkan akan ada di tempat seperti ini!


Kakinya bergerak lebih cepat, mendekat dan men bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sebuah kekeliruan.


"Kak Arya?" Ucapnya sambil menepuk bahu lelaki yang terlihat kacau itu.

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2