
"selamat pagi ayah," teriak Rayyan setengah berlari menuju Jason yang tengah sibuk dengan handphonenya di meja makan.
Lelaki itu telah rapi dengan jas dan dasi melingkar di lehernya.
Jason mendongak menatap bocah yang menghambur ke arahnya.
Kedua tangannya menangkap tubuh mungil itu dan menghujaninya dengan kecupan di puncak kepalanya.
"Selamat pagi jagoan." Balas Jason.
"Lho mas, mau ke kantor? Kok nggak bilang, tahu gitu aku siapin semua keperluan mas tadi," tanya Wulan, ada sedikit penyesalan dari gurat wajahnya.
"Iya, ada pekerjaan pentung," Jelas Jason.
"Bukannya mas cuti," Wulan sedikit kecewa.
"Iya, tapi ini penting. Sebelum ambil cuti honeymoon aku harus selesaikan pekerjaan ini dulu," jawab Jason mengedipkan matanya.
Wulan hanya mengangguk, ya tentu saja Jason lebih tahu apa yang harus dia kerjakan dan Wulan harus mengerti tentang itu.
"Iya sudah mas, kalau begitu" jawab Wulan.
Wulan menyiapkan piring untuk Jason dan juga Rayyan.
Berlaku sebaik mungkin sebagai seorang istri sekaligus ibu.
"Ray, makan yang banyak ya. Hari ini belajar sama pak guru kan?" Tanya Wulan sambil mengelus rambut Rayyan yang lembut.
"Kata ayah, om gulu nggak kesini lagi. Lay besok sekolah di sekolah yang bagus sama temen-temen yang banyak." Jawab bocah itu polos sambil merentangkan tangannya saat menyebut kata banyak.
Wulan terkejut dan tidak mengerti, kemudian menatap sang suami seolah bertanya apa maksud ucapan Rayyan barusan.
Jason hanya mengangguk, mengisyaratkan dengan matanya akan membahas ini nanti.
Selesai sarapan, Wulan mengantarkan suaminya sampai ke pintu depan.
"Mas, maksud Ray tadi apa?" Tanya Wulan tidak bisa menunggu lebih lama.
"Ibram mengundurkan diri, tepat setelah tahu tentang rencana pernikahan kita," Jason menjelaskan.
"Kenapa?" Lirih Wulan.
"Kamu nggak mungkin nggak tahu jawabannya kan?" Tanya Jason, mata lelaki itu beralih menatap ke tempat lain.
__ADS_1
"Dia cemburu" Jason menekankan kata itu dan menatap lurus mata istrinya.
"Awalnya Rayyan protes tentang pengunduran diri guru kesayangannya itu, tapi untungnya anak itu bisa mengerti. Dan sepertinya sudah saatnya dia bersekolah formal layaknya anak seusianya yang lain" jelas Jason.
Wulan masih terdiam, dia hanya tidak mengerti kenapa Ibram sepicik itu. Mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaannya.
Sementara Wulan tahu Rayyan begitu menyukai Ibram.
"Ya sudah, jangan dipikirkan soal itu. Aku berangkat dulu ya," kata Jason lagi sambil menarik kedua sudut di bibirnya.
"Iya mas, kamu hati-hati jangan pulang terlambat," jawab Wulan meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu.
"Aku nggak akan terlambat, aku usahakan pulang cepat. Kamu siap-siap ya!" Bisik Jason sambil tersenyum penuh arti.
"Siap-siap mau kemana mas?" Tanya Wulan dengan polosnya.
"Siap-siap karena malam ini aku nggak akan biarkan kamu tidur, dan lagi rumah ini anti bocor jadi tidak akan ada gangguan lagi." Bisik Jason di telinga istrinya, menyisakan hembusan nafas di telinga yang berubah memerah itu.
Wajah Wulan memerah Semerah kepiting rebus, dia mengerti apa yang Jason maksudkan.
Ya Tuhan, apakah yang dia pikirkan benar-benar akan terjadi malam ini?
Wulan memejamkan matanya sesaat, kemudian pandangannya mengikuti langkah sang suami yang berlalu.
--
Rayyan tengah asyik bercanda dengan Bi Irah di dapur.
Dua orang perempuan berseragam suster tampak keluar dari kamar khusus tamu.
Wulan belum mengenal mereka, tapi dari yang Jason bilang mungkin kedua suster itulah yang menjaga Andini sejak beberapa hari terakhir ini.
"Selamat pagi nyonya," sapa kedua wanita itu menyapa Wulan.
"Selamat pagi, sus. Oh iya, mari silahkan sarapan dulu," balas Wulan mempersilahkan kedua wanita itu, keduanya menurut dan menuju meja makan.
Wulan menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk Andini.
Sejak kembali ke rumah ini Wulan belum melihat wanita itu.
Bagaimanapun, mulai sekarang Wulan harus bisa menghadapi Andini.
Wulan berharap Andini bisa menerima kehadirannya sebagai istri Jason, karena memang itulah kenyataannya saat ini.
__ADS_1
Sampai kapan mereka akan menghindar dari kenyataan yang ada.
Wulan menghela nafasnya perlahan sebelum melangkah dengan membawa baki berisi sarapan dan segelas jus buah.
"Neng, mau kemana?" Bi Irah tiba-tiba menghalau langkah Wulan dengan kekhawatiran.
"Wulan mau Anter sarapan untuk mbak Andini, bi." Jawabnya.
"Jangan neng, biar bibi aja. Nanti neng Wulan diapa-apain lagi sama nyonya," jelas bi irah, raut kekhawatiran sangat kentara dari wajah keriputnya.
"Bibi nggak usah khawatir, mau sampai kapan Wulan menghindari mbak Andini. Dan mau sampai kapan mbak Andini menyangkal keadaan yang sebenarnya bi. Lebih baik semuanya diluruskan dari sekarang kan?" Ucap Wulan dengan bertekad.
"Tapi neng Wulan kan tahu sendiri, kondisi dan sikap nyonya selama ini seperti apa!" Bi Irah benar-benar tidak setuju.
"Bi, kita nggak akan tahu kalau nggak dicoba kan? Biar Wulan coba bicara baik-baik sama mbak Andini ya! Bibi jangan khawatir, okay?" Wulan meyakinkan bi Irah dengan lembut.
"Ya sudah neng, tapi hati-hati ya!" Kata bi Irah.
Wulan mengangguk kemudian berlalu, menaiki tangga dan masuk ke kamar Andini.
Wanita itu tampak masih tertidur, Wulan mendekat kemudian meletakkan nampan berisi sarapan di meja samping ranjang Andini.
Wulan memandangi wajah yang terlelap itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
Ada rasa kecewa karena selama ini Andini menipunya, rasa jengkel karena sikap yang ia terima dari wanita itu.
Tapi lebih dari itu, Wulan merasa begitu iba dan kasihan dengan kondisi dan perasaan Andini selama ini.
Mungkin wanita itu begitu terluka atas penolakan Jason selama ini terhadapnya, perasaan cinta yang terabaikan dan salah berlabuh selama bertahun-tahun.
Entah apa yang membuat Jason begitu membenci Andini, apa hanya karena wanita yang merupakan kakak iparnya itu mencintainya.
Mungkin itu memang salah, pengkhianatan terhadap abangnya sendiri mungkin memang melukai Jason.
Tapi haruskan Jason semarah dan Setega itu bersikap kasar terhadap Andini selama ini?
Wulan meraih selimut yang melorot menampilkan kaki Andini yang memutih layu, kemudian membetulkan selimut itu hingga menutupi hingga ke dada Andini.
Andini menggeliat sebentar, kemudian perlahan membuka kedua matanya.
Matanya yang masih terasa mengantuk tiba-tiba membeliak lebar manakala melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Kamu? Mau apa kamu kesini?" Ucap Andini dengan tajam.
__ADS_1
💖💖💖