My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 93


__ADS_3

Cahaya pagi masuk melalui celah jendela yang tertutupi tirai berwarna putih menjuntai hingga ke lantai.


Wulan mengerjap, kemudian berusaha bangkit dari posisinya.


Jason masih terlelap di sampingnya, pemandangan indah yang ingin selalu dia lihat sepanjang hidupnya.


Wulan tersenyum, kemudian menarik selimut menutupi hingga dadanya. Entah hilang kemana pakaiannya.


Kamar itu terlihat sedikit berantakan, tapi selalu membuatnya tersipu setiap kali mengingat kejadian yang membuat semuanya seberantakan ini.


Kelopak bunga mawar masih berserakan di mana-mana, sisa-sisa keharuman lilin aroma terapi yang menenangkan masih tercium di hidungnya.


Wulan meraih bathrobe yang semalam dia kenakan sebelum Jason menerkamnya (macan kaleee).


Mengenakannya lagi, dan berjalan menuju kamar mandi dengan perlahan.


Rasa perih itu masih sangat terasa membuat bibirnya meringis menahan rasa itu.


Jason terbangun saat merasakan Wulan tidak berada di sampingnya lagi.


Terdengar suara shower dan gemericik air mengalir dari dalam kamar mandi.


Benar saja, beberapa saat kemudian istrinya yang cantik itu keluar dengan rambut yang basah.


Wajahnya begitu segar, dengan senyuman lembut menghiasi bibirnya yang tipis.


"Sudah bangun mas?" Tanyanya sambil menuju kearah Jason.


"Iya, kamu udah mandi duluan? Kenapa nggak ngajak-ngajak?" Tanya Jason.


"Idih, masa mandi aja pakai barengan!" Wulan mencebik.


"Memangnya kenapa, nggak mau?" Goda Jason sambil bangkit dan melingkarkan kedua tangannya di perut wulan.


"Enggak," jawab Wulan sambil menjulurkan lidahnya.


Membuat Jason gemas dan mulai menggelitik perut istrinya, Wulan terkikik geli dan terus meminta ampun.


"Iya, iya, ampun mas, ampun!"


"Udah sekarang mas mandi aja dulu, keburu siang. Nanti kita kesiangan pulangnya," sambung Wulan.

__ADS_1


"Pulang? Siapa bilang kita pulang? Oh iya, aku lupa bilang sama kamu, setelah ini kita langsung pergi bulan madu," ucap Jason dengan santai tapi cukup membuat Wulan mendelik terkejut.


"Bulan madu? Langsung hari ini? Kok kamu nggak bilang, aku kan belum siap-siap!" Protes Wulan.


"Kamu nggak perlu siap-siap, semua sudah diatur sama indah, kita tinggal berangkat," Jason benar-benar mengucapkan dengan ringan tanpa beban. Kemudian lelaki itu melenggang santai menuju kamar mandi.


Lagi-lagi Wulan mendelik terkejut sambil mengikuti langkah suaminya dengan tatapan matanya yang tajam, semua segampang itu diputuskan sendiri oleh Jason. Bahkan tanpa memberitahu sebelumnya. Ah, Wulan sedikit kesal.


***


"Selamat pagi bi Irah," sapa kedua wanita berpakaian perawat lengkap serba putih.


"Eh, selamat pagi suster Ana, suster Lisa, mari sarapan dulu," jawab bi Irah sambil meletakkan sayur dan lauk pauk di meja makan.


Di dapur Bu Siti tengah membantu membereskan dapur dan mencuci alat masak yang kotor. Meski bi irah berulang kali melarang, tapi wanita paruh baya yang usianya tidak terpaut jauh dengan Bi Irah itu tetap bersikeras. Beralasan kalau sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti itu dirumah, tidak bisa berdiam diri begitu saja.


Sementara Wahyuni sedang berada di kamar Rayyan, semalam sepulang dari acara di hotel Rayyan meminta Wahyuni untuk menemaninya tidur dikamar miliknya.


Bocah itu sudah akrab dengan adik sang bunda yang ceria dan konyol itu. Ya, gadis yang banyak bicara itu selalu bisa membuatnya tertawa.


Rayyan senang karena merasa memiliki seorang teman di rumah ini.


Kedua suster itu tengah sarapan sebelum memulai tugasnya, sementara bi Irah tengah menyiapkan nampan berisi nasi dan lauk serta segelas jus untuk Andini.


Wanita itu melangkah perlahan sambil membawa baki di tangannya.


Kemudian membuka perlahan daun pintu yang tidak terkunci sempurna.


"Selamat pagi nyo...aaaahhhhhhhhh!" Bi irah menjerit dengan keras.


'Prangggg'


Baki yang sedianya berada di tangannya telah jatuh dengan isi yang berhambur di lantai.


Sementara wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai sambil menutup bibirnya, matanya membulat sempurna dengan alis mengerut. Rasanya tubuhnya membeku.


Semua orang terkejut kemudian meninggalkan apa yang tengah mereka kerjakan demi bergegas menuju sumber suara di tempat bi Irah berada.


"Astaghfirullahaladzim," ucap pak Slamet perlahan.


Lelaki yang sejatinya tengah duduk di teras itu tadi berlari bergegas dan mendapati pemandangan yang membuat lututnya lemas.

__ADS_1


Disusul oleh sang istri dan kedua suster yang meninggalkan piring sarapannya di bawah.


"Ada apa bi?" Tanya Bu Siti menghambur masuk.


"Innalilahi," ucapnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Kedua suster yang sedianya merawat dan menjaga Andini sama terkejutnya namun seketika langsung memeriksa kondisi Andini yang terbujur kaku dengan kondisi yang mengenaskan itu.


"Lhoh, ada apa Bu?" Wahyuni tampak menggandeng Rayyan dari arah luar kamar tersebut.


Bu Siti langsung menghadang kedua bocah itu sebelum mencapai kamar dan menghalaunya untuk kembali ke kamar Rayyan lagi, dengan isyarat bahwa terjadi sesuatu yang buruk, Wahyuni mengangguk mengerti kemudian membimbing kembali Rayyan untuk kembali ke kamarnya.


Sementara itu...


Jason dan Wulan tengah berada di pesawat dalam perjalanan menuju Bali.


Semua sudah diatur oleh indah sebelumnya.


"Mas, apa nggak apa-apa kita langsung pergi begini tanpa pamitan dulu sama Rayyan? Aku juga belum bilang sama ibu dan bapak," tanya Wulan saat duduk disamping suaminya.


"Memangnya kalau kita pamit sama Rayyan apa kamu berani jamin dia bakalan ngasih ijin kita buat pergi?" Jason balik bertanya, yang tentu saja keduanya sudah tahu jawabannya.


Ya, bocah itu memang sedang dalam fase begitu manja dengan bunda barunya.


"Kalau ibu dan bapak, mereka pasti sudah tahu, kamu tenang aja ya lagian kita pergi juga cuma satu Minggu," terang Jason.


"Oh iya, satu lagi, selama disana kita nggak perlu pakai handphone, aku nggak mau di ganggu siapapun, aku mau menghabiskan waktu berdua sama kamu tanpa ada gangguan, okay sayang!" Kata Jason sambil mengelus rambut Wulan yang tergerai.


"Tapi mas, kalau ada sesuatu yang penting gimana?" Wulan sedikit ragu.


"Semua pasti aman, urusan pekerjaan sudah aku pasrahkan semua ke indah. Soal Rayyan, tenang ada bi Irah dan lagi keluarga kamu kan juga ada, pasti Rayyan nggak akan kesepian," jelas Jason membuat Wulan sekali lagi mengangguk pasrah.


Entah mengapa perasaannya terasa tidak nyaman saat ini.


💖💖💖


maaf baru bisa update ya, ada kesibukan yang harus diselesaikan di tempat lain.hehe..


btw, SELAMAT TAHUN BARU SEMUANYA 🥳🥳


Semoga tahun ini semakin baik dibanding tahun sebelumnya.

__ADS_1


dan semoga pandemi ini segera berakhir ya.


__ADS_2