
Wulan memainkan jari-jari kakinya yang telanjang menelusup diantara pasir-pasir pantai.
Wajahnya yang cantik dihiasi senyuman, Surai hitamnya beterbangan dipermainkan angin pantai yang semilir.
Cahaya matahari yang telah naik sedikit menyengat di kulit.
Jason mengamati wajah ceria istrinya, baginya pemandangan wajah ayu alami Wulan jauh lebih indah di banding pemandangan pantai di hadapannya.
"Tempatnya bagus ya mas, meskipun rumahku di kampung dekat dengan pantai tapi tidak sebagus di sini," Wulan melirik sekilas ke arah suaminya kemudian menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Kamu suka?" Tanya Jason, Wulan mengangguk.
Jason menghalau sinar matahari yang mulai terasa panas di kulit dengan kedua tangannya.
"Kita kembali ke hotel yuk, udah panas," ajak Jason.
"Yah, ngapain balik mas, lagi asyik lihat pantai juga," ucap Wulan sedikit memajukan bibirnya.
"Dari kamar kita kan langsung dapet view pantai sayang, ayolah," Jason menggandeng tangan istrinya yang masih ogah-ogahan beranjak.
Jason menyeringai, misi utamanya mengajak sang istri ke tempat ini adalah untuk berbulan madu, menghabiskan waktu berdua sebanyak mungkin bersama Wulan, berharap pulang membawa hadiah calon adik untuk Rayyan.
Lagi-lagi lelaki itu tersenyum sendiri.
"Mas kenapa senyum-senyum, ada yang lucu?" Wulan heran mengamati ekspresi suaminya.
"Kamu mau punya anak berapa, sayang?" Tanya Jason tanpa menjawab pertanyaan Wulan sebelumnya.
"Anak? Emm..aku sih terserah kamu mas" jawab Wulan.
"Aku mau punya anak sepuluh, jadi kita harus rajin bikinnya sayang, jangan malas-malasan, ayo," kata Jason diiringi tawa membuat Wulan mendelik.
"Kebanyakan mas, mana sanggup," Wulan memukul perlahan lengan suaminya.
"Tapi aku sanggup bikinnya, makanya ayo cepetan," ucap Jason tergelak.
Wulan setengah berlari dalam gandengan tangan Jason.
Keduanya tampak begitu bahagia bercanda sepanjang menyusuri bibir pantai untuk kembali ke hotel.
__ADS_1
Saat tiba-tiba dari arah berlawanan tampak dua orang berpakaian setelan jas formal berwarna gelap setengah berlari menuju ke arah wulan dan Jason.
Dengan penampilan semacam itu jelas menarik perhatian pengunjung lain, bagaimanapun setelan jas terlihat mencolok dan aneh diantara orang-orang yang bersantai di tepi pantai.
Bahkan beberapa turis asing berlalu kesana-kemari hanya berpakaian bikini.
Jason mengernyitkan dahi ketika menyadari dua orang yang menyita perhatian mata itu menghampirinya.
"Tuan, maaf kami mengganggu waktu privat anda tapi ada kabar yang harus kami sampaikan," ucap salah seorang yang berpakaian serba hitam tersebut.
"Ada apa? Memangnya sepenting apa sampai Herman menyuruh kalian kemari?" Kesal Jason.
Dia benci, kenapa selalu saja ada gangguan disaat-saat dirinya ingin berdua saja dengan Wulan.
"Nyonya Andini meninggal dunia tuan," terang seorang yang lain.
"APA??!!"
Serempak tanpa perlu aba-aba, Wulan dan Jason terkejut mendengar berita yang baru saja mereka dengar.
---
Sementara itu di tempat lain, di sebuah lembaga permasyarakatan, di sebuah ruangan khusus untuk menjenguk para narapidana seorang lelaki dengan setelan jas rapi tampak menunggu seseorang.
"Selamat siang pak Bramoro," sapa lelaki ber jas abu-abu.
"Siang pak Ilham, ada keperluan apa? Apa ada perkembangan tentang permohonan pemotongan masa tahanan untuk istri saya?" Tanyanya dengan raut harap-harap cemas.
Lelaki berjas abu-abu yang ternyata adalah pengacara keluarga Andini tersebut tampak sedikit memajukan kursi yang tengah didudukinya.
Tangannya tampak membetulkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Soal itu masih belum bisa saya pastikan, tapi itu tergantung dengan sikap Bu Sarah selama berada di dalam tahanan, jika beliau bisa bersikap baik mungkin saja bisa mendapatkan remisi, atau mungkin jika pengadilan merasa ada faktor-faktor lainnya yang bisa menjadi bahan pertimbangan," jawab si lelaki berjas.
"Lalu?" Tanya bramoro.
Sang pengacara tampak berdehem sebelum akhirnya mengatakan tujuannya yang sesungguhnya.
"Ada kabar buruk yang harus saya sampaikan pak, putri anda, nona Andini meninggal dunia pagi tadi akibat over dosis," ucap sang pengacara pelan namun pasti.
__ADS_1
"APA?? tidak mungkin... Andin...,"
Bramoro begitu terkejut mendengar apa yang baru saja pengacaranya katakan.
Putri satu-satunya Andini telah pergi meninggalkan dirinya.
Satu-satunya alasan dan kekuatan bagi dirinya untuk kuat menerima hukuman, kini telah pergi selama-lamanya.
Tubuh paruh baya yang kurus itu mulai terasa bergetar dan lemas, namun mendadak darah seolah tidak mengaliri kepalanya lagi.
Tiba-tiba jantungnya terasa diremas begitu kuat, sakit dan menyesakkan.
Lelaki paruh baya itu mulai lunglai dan ambruk akibat serangan di dadanya yang begitu menyakitkan. Sebuah serangan jantung.
"Pak, pak, bangun pak, bapak kenapa?"
Samar-samar suara itu terasa semakin menjauh dari pendengarannya, begitu jauh.
Badan yang dulunya begitu gagah itu kini lemas dan kehilangan kekuatannya.
Ide-ide dan pikiran kotor yang menjerumuskannya kedalam lembah kenistaan dengan pembunuhan menantunya secara berencana yang didalanginya kini membawa dirinya kepada kehancuran yang lebih mengerikan.
Tubuh itu ambruk, kesadarannya dan jiwanya telah hilang menyusul sang putri yang lebih dulu pergi.
Putri kesayangan yang membuatnya memanjakan dan salah didikan.
Tak berbeda jauh,
Di sebuah lembaga pemasyarakatan khusus wanita, seorang perempuan paruh baya yang rambutnya mulai dihiasi uban tampak menangis meraung, entah berapa kali perempuan itu tak sadarkan diri.
Dan setiap kali dia mendapatkan kesadarannya kembali saat itu pula dia kembali histeris.
Kabar kematian sang putri mencabik hatinya sebagai seorang ibu, ditambah kabar bahwa suami tercintanya yang telah lama tidak dijumpainya menyusul sang anak ke alam baka sesaat setelah mendengar kabar tersebut.
Kini dirinya tinggal sendiri, hidupnya terasa tidak lagi bermakna.
Ingin sekali diriny menyusul Andini dan bramoro.
Rasanya hidupnya terasa begitu sia-sia.
__ADS_1
"Mama akan balas orang-orang yang sudah membuat kamu menderita Andin sayang, mama bersumpah akan menghancurkan Jason dan seluruh keluarganya," teriak Sarah diantara kesedihan dan keputusasaan yang mendera.
💖💖💖