
Wulan bersikeras untuk menunggu Rayyan di bawah. Meski Jason telah berpesan sebelum berangkat ke kantor untuk tidak keluar dari kamar dan melakukan apapun. Bahkan suaminya itu telah memerintahkan Bi Irah untuk selalu menjaga dan melayani Wulan.
Jika tidak penting, tentu Jason tidak akan meninggalkan istrinya. Hanya saja dirinya berjanji untuk tidak akan lama, karena memang bagaimanapun kehadirannya di kantor sangat dibutuhkan.
"Neng, neng Wulan tunggu diatas aja ya?! Nanti tuan marah sama bibi kalau tahu neng Wulan turun begini," ucap bi Irah memohon sambil memegangi tangan nyonya mudanya itu yang tengah bersusah payah menuruni anak tangga.
"Wulan gak papa, bi. Cuma pengen nunggu Rayyan di bawah kok, nggak ngapa-ngapain. Wulan kangen sama Rayyan."
"Iya, neng. Bibi tahu, tapi tuan sudah pesen sama bibi, buat jagain neng Wulan. Kan neng Wulan sendiri juga denger tadi, neng Wulan harus banyak istirahat, jangn kemana-mana."
"Tapi Wulan bosen bi, di kamar terus."
Rasanya berdebat dengan Wulan tidak akan menang kali ini bagi bi Irah. Sebetulnya bi Irah cukup maklum mengetahui wulan merindukan Rayyan. Karena bagaimanapun mereka tidak pernah berjauhan lagi semenjak Wulan resmi menyandang status sebagai ibu sambungnya.
Tapi kondisi Wulan yang masih lemah dan butuh istirahat yang cukup membuat Bi Irah gundah, terlebih Jason sudah menitipkan istri tercintanya itu pada dirinya. Jika terjadi sesuatu, maka pasti bi Irah yang paling disalahkan nanti.
"Ya sudah, neng Wulan duduk di disitu, bibi ambil kursi rodanya sebentar, tapi janji neng Wulan jangan melakukan apapun. Cukup duduk nunggu den Rayyan di situ," ucap bi Irah sambil memapah tubuh Wulan yang menuruni tangga menuju sofa ruang keluarga.
"Iya bibi, makasih." Wulan tersenyum sambil menyurukkan kepalanya pada bahu Bi Irah. Bi Irah pun tersenyum, karena memang selama ini Wulan selalu baik dan tidak pernah memperlakukan dirinya layaknya pembantu, namun sebagai seorang keluarga.
Wulan menunggu di sofa sambil mengelus perutnya dengan sayang. Sesuatu di dalam perutnya yang sedikit membuncit itu menjadi sumber kebahagiaan baginya dan Jason.
Bi Irah datang membawa kursi roda yang Wulan gunakan tepat disamping wanita itu duduk. Kemudian dengan hati-hati membantu Wulan duduk pada kursi roda itu.
"Neng Wulan tunggu disini, bibi siapin makan siang sebentar. Seharusnya neng Wulan makan siang dulu, gak perlu nungguin den rayyan, kan neng Wulan harus minum obat."
"Nggak bi, Wulan mau makan siang bareng sama Rayyan, mungkin sebentar lagi pulang."
Bi Irah menggelengkan kepalanya, "ya sudah, neng Wulan tunggu di sini, bibi ke dapur dulu."
Wulan mengangguk sambil tersenyum, sesekali melirik jam yang berdetak teratur di dinding. Ini sudah lewat waktu makan siang. Namun Rayyan dan Sarah belum terlihat batang hidungnya.
Jason bilang padanya, bahwa Sarah meminta ijin untuk membawa Rayyan ziarah ke makam Andini sepulng sekolah. Tapi ini sudah terlalu lama kalau hanya sekedar berziarah sepulang sekolah.
__ADS_1
Ada kegelisahan di hati wanita itu, tapi rasanya itu sebuah kekhawatiran yang tak beralasan. Bukankah Rayyan pergi bersama neneknya.
Hampir tiga puluh menit berlalu, akhirnya Wulan mendengar derap langkah kaki kecil dari arah luar. Dengan senyum mengembang diwajahnya, Wulan membalik kursi rodanya.
Benar saja, bocah kecil dengan seragam cerah itu tampak masuk dengan riang. Matanya yang bulat jernih menghiasi wajahnya yang putih dan chubby, rambutnya yang lurus halus tergerai pada bagian dahi.
Tas ransel kecil bergambari dinosaurus menempel di punggungnya. Wulan hendak melajukan kursi rodanya menyambut malaikat kecil kesayangannya yang teramat dirindukannya itu.
"Ray, sudah pulang nak?" Sapa Wulan dengan senyum manis.
"Udah," jawab bocah itu sambil berjalan melewatinya. Tidak ada pelukan hangat, cium tangan dan kecupan di pipi seperti biasanya.
"Ray, ganti baju dulu, terus kita makan siang sama-sama ya? Bunda tungguin disini ya, sayang."
"Gak mau, aku udah makan sama Oma, yuk Oma kita ke kamar aku." Langkah kaki kecil itu menjauh, menaiki anak tangga diikuti oleh wanita paruh baya dengan rambut yang telah beruban itu.
Hati Wulan mendadak seperti diremas, rasa sedih tiba-tiba menyeruak begitu saja dari dalam dadanya. Kenapa Rayyan-nya berubah? Ataukah hanya dirinya yang terlalu sensitif karena perubahan hormon di masa kehamilannya kini?
Entahlah, yang jelas Wulan begitu sedih dibuatnya.
"Sayang, kamu kok disini? Aku kan udah bilang, kamu istirahat aja di kamar, kalau butuh apa-apa bilang sama bi Irah." Suara Jason membuyarkan lamunannya, bahkan Wulan sampai tidak menyadari sejak kapan Jason berada di sana.
"Nggak apa-apa mas, aku bosen di kamar terus," elaknya.
"Kamu udah makan? Udah minum obat?" Tanya Jason sambil melonggarkan dasi dan meletakkan tas kerja di sofa.
Wulan hanya menggeleng, membuat Jason berdecak dengan air muka yang berubah keruh, "lhoh, kenapa?"
"Bi ..., Bi iraaah!" Teriak Jason dengan suara membahana.
Yang dipanggil segera tergopoh-gopoh mendekat, melihat wajah sang tuan yang tidak sedang dalam kondisi baik, hati yang pembantu dipenuhi perasaan was-was.
"Ya tuan?!"
__ADS_1
"Bibi ngapain aja? Saya kan sudah bilang, jaga Wulan baik-baik. Kenapa jam segini sampai belum makan, belum minum obat juga! Saya kan udah bilang, layani semua kebutuhan Wulan." Nada suara Jason meninggi, bi Irah hanya menunduk dan mengangguk, benar apa yang dia duga sebelumnya. Ini akan menjadi masalah, dan dirinyalah yang pasti disalahkan.
"Maaf, tuan."
"Mas, bukan salah Bi Irah, aku bosen dikamar, mas. Lagian aku emang sengaja nunggu Rayyan buat makan siang sama-sama, tapi ternyata Rayyan udah makan di luar sama Omanya."
Jason berdecak kesal, "sekarang Rayyan dimana?"
"Baru aja pulang mas, mungkin lagi istirahat di kamarnya, udah biarin lah." Wulan mengibaskan tangan, seolah semua baik-baik saja, meski sebenarnya hatinya tidak begitu.
"Ya sudah, sekarang kamu makan dulu, trus minum obat. Aku mau mandi dulu sebentar, gerah," ucap Jason sambil mengelus pundak sang istri.
"Aku tungguin, mas. Kita makan siang sama-sama," jawab Wulan.
Jason tampak berpikir sejenak, "yaudah, kalau gitu tunggu sebentar, aku gak akan lama." Wulan hanya mengangguk.
Bi Irah yang sedari tadi berdiri menunggu kemarahan tuannya reda, akhirnya bernafas lega. Wanita bertubuh gempal itu berlalu menuju dapur, menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Menyajikan makan siang untuk majikannya.
Wulan masih terduduk sambil menatap ke arah anak tangga, berharap Rayyan segera turun dan menemuinya. Bercerita tentang banyak hal seperti biasanya. Namun sesaat kemudian sosok yang muncul justru Sarah.
"Tante, Rayyan gak turun?" Tanya Wulan saat perempuan tua itu mencapai lantai bawah.
Sarah menggeleng sambil tersenyum tipis, "Wulan, kamu yang sabar ya. Jangan diambil hati sikap Rayyan tadi, dia masih anak-anak."
"....."
"Tante harap kamu bisa maklum, dan beri sedikit waktu untuk Rayyan mengerti. Jadi untuk sekarang ini Tante sarankan kamu fokus ke kehamilan kamu, biar Tante yang urus Rayyan. Jason pasti juga setuju tentang hal ini, yang terpenting adalah kesehatan kamu dan calon bayi kalian." Sarah mengucapkan itu dengan penuh perhatian, meski nyatanya hatinya berharap sebaliknya terjadi pada diri Wulan maupun bayi dalam kandungannya. Dasar musang berbulu ayam.
"Iya, Tante, tapi ...,"
"Udah, kamu percaya sama Tante, okay?" Ucap Sarah sambil kemudian menuju dapur, menyiapkan susu coklat seperti yang Rayyan minta.
Ucapan Sarah memang ada benarnya, tapi Wulan tidak sanggup jika harus terus-menerus seperti ini dengan Rayyan. Wulan tidak ingin ada jarak diantara mereka. Lagi-lagi dirinya dalam dilema, harus bagaimana? Sementara tidak bisa dipungkiri bahwa keadaannya memang masih begitu lemah dan butuh banyak istirahat.
__ADS_1
*****