My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 91


__ADS_3

Merasa seseorang menyebut namanya, lelaki itu menoleh.


Matanya memicing memastikan wajah di hadapannya. Dia terlalu mabuk untuk mengenali dengan cepat sosok wanita yang berdiri tepat di depannya.


"Kakak ngapain di sini? Sama siapa?" Tanya Bianca sambil matanya menatap sekeliling.


Sekali lagi Ibram menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan rasa pusing kemudian menatap wajah di depannya itu sekali lagi.


Lelaki itu menyipitkan matanya, wajah yang kabur itu mulai sedikit terlihat.


"Bianca?" Sebutnya dengan tersenyum tipis.


Wajah Ibram yang putih bersih, berubah begitu merah akibat terlalu banyak meminum alkohol itu.


"Boleh aku duduk disini kak?" Tanya Bianca, ya setidaknya dia menemukan teman daripada sendirian.


Ibram hanya mengangguk, kemudian Bianca mengangkat tangannya, memesan minuman pada pelayan.


Tidak berapa lama, pelayang datang membawa cocktail pesanan Bianca.


Perempuan itu mulai meneguknya, sesekali menatap Ibram yang terlihat kacau.


"Kak Arya kenapa? Ada masalah?" Bianca menelisik apa yang sebenarnya menimpa anak dari sahabat mamanya itu.


"Wulan, kenapa dia lebih memilih Jason dibanding denganku. Apa kurangnya aku? Aku bisa buat dia lebih bahagia, aku bisa menuruti apapun keinginannya, apapun! Tapi kenapa dia memilih lelaki itu?"


Ibram meracau, mengungkapkan semua yang dirasakannya.


Sesekali menangis kemudian tertawa. Pedih.


Lelaki itu menumpahkan semuanya pada Bianca. Sementara Bianca tidak menyangka sama sekali bahwa ibram mencintai Wulan.


Perempuan itu berdecih dalam hati, apa istimewanya gadis kampung itu sampai semua orang mencintainya.


Sebuah kekalahan lagi menghimpit hatinya, Bianca meneguk habis minuman di gelasnya, kemudian memesan lagi dua gelas sekaligus.


Sementara Ibram terus mengoceh memanggil nama Wulan, gelas dihadapannya telah kosong. Entah gelas yang keberapa.


Ibram mengangkat tangannya hendak memesan lagi, tapi ditahan oleh Bianca. Ibram sudah terlalu mabuk.


"Lebih baik kakak pulang." Ucap gadis itu.


"Kakak bawa sopir?" Tanya Bianca lagi, tentu dengan kondisi seperti ini Ibram tidak akan bisa pulang sendiri. Dasar bodoh.


Ibram menggeleng, sisa-sisa kesadarannya masih berfungsi meski kepalanya terasa sangat berat.


"Kalau gitu aku Anter pulang, biar mobil kakak kita tinggal disini dulu. Besok baru ambil, okay," kata Bianca sambil memapah tubuh Ibram yang sesekali limbung.


Lelaki itu masih bisa berdiri dan berjalan, hanya saja tidak lagi bisa tegak dan lurus. Seperti hatinya yang tidak lagi bisa berpikiran lurus.


Bianca sudah sedikit mabuk, tapi masih bisa mengendalikan kesadarannya secara penuh.


Tiga gelas cocktails tidak berpengaruh padanya.


"Kak Arya tinggal dimana?" Tanya Bianca sambil duduk di balik kemudi.


Ibram sama sekali tidak menjawab, lelaki itu terus menyebut nama Wulan.


Tidak peduli tentang apapun kecuali cintanya pada Wulan.

__ADS_1


Pikirannya kacau, buntu, dadanya sesak ditambah kepalanya pening berpendar.


Bianca berdecak sebal, dia mendorong tubuh Ibram, membalikkan tubuh lelaki itu kemudian merogoh saku celana Ibram, mencari tahu dimana Ibram tinggal dengan melihat isi dompetnya.


Sebuah ktp bertuliskan alamat lamanya di kota sebelah, kota yang sama dari tempat mereka tinggal.


Kemudian membuka kembali tumpukan kartu yang terselip di sana.


Gotcha!! Sebuah kartu nama Ibram lengkap dengan alamat apartemennya saat ini.


Tunggu sebentar, alamat itu terasa tidak asing bagi Bianca.


Ahh, tempat yang sama dengan apartemen Wulan.


Tanpa menunggu lama, Bianca langsung tancap gas menuju apartemen lelaki itu.


Lebih cepat lebih baik tentu saja, melihat bagaimana kondisi Ibram yang mengenaskan.


"Wulan, aku mencintai kamu" sesekali Ibram terus meracau menyebut nama Wulan.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku begini"


Lelaki itu tampak menyedihkan dan terlihat konyol Dimata Bianca. Mereka berdua sama-sama sakit hati atas pernikahan Jason dan Wulan. Tapi setidaknya dia lebih rasional dan tidak berlebihan seperti Ibram.


Tapi tentu semua itu berbeda, Ibram begini karena cintanya yang besar terhadap Wulan, sementara Bianca sakit hati karena sebuah ambisi dan rasa iri.


Bianca memapah tubuh Ibram dengan susah payah, membawanya masuk ke dalam apartemen milik lelaki oriental itu.


Kemudian menjatuhkan tubuh Ibram ke atas ranjang empuk miliknya.


Karena bobot tubuh Ibram yang berat membuat Bianca ikut limbung dan ambruk menimpa tubuh Ibram.


Bianca mengerjap, nafasnya naik turun kelelahan membawa tubuh Ibram yang jelas lebih besar dibanding tubuhnya.


Perempuan itu bangkit menghalau tangan Ibram, saat hendak beranjak tangan Ibram mencekal lengannya.


Membawa kembali tubunya jatuh kedalam pelukan Ibram.


"Kak, lepasin! Kak Arya ngapain sih!" Pekik Bianca mendapati perlakuan Ibram padanya.


Bukannya melepaskan, Ibram justru membalik tubuhnya yang limbung.


Menghimpit tubuh Bianca yang kini berada di bawahnya.


"Jangan pergi, aku kurang apa Wulan?" Racau Ibram menatap wajah Bianca.


Nafasnya menyapu wajah Bianca yang mendadak merah padam.


Dengan bau alkohol yang memuakkan keluar dari bibir tipis lelaki bernama lengkap Arya Bramantyo Darmawan itu.


"Kak Arya apa-apaan sih? Minggir kak, aku mau pulang!" Jerit Bianca tertahan.


Ibram seolah buta, buta mata buta hati buta pikiran.


Dia tidak peduli apa yang diucapkan Bianca, dengan kasar Ibram mencium bibir Bianca.


Bianca yang terkejut kemudian mendorong kuat dada Ibram, Ibram terhuyung ke belakang tapi tidak cukup kuat untuk membuat tubuh lelaki yang gelap mata itu menyingkir.


"Kamu sudah membuat aku jatuh cinta, dan kamubyang sudah membuat aku patah hati. Aku nggak akan biarin kamu kemana-mana. Apalagi pergi ke tempat lelaki busuk yang menikahi kamu" Ibram terus mengoceh dengan amarah.

__ADS_1


"Kak Arya udah gila ya!!" Pekik Bianca sambil memukuli dada bidang Ibram.


Ibram semakin gelap, setan menguasai pikirannya.


Bahkan dia tidak peduli dengan gadis yang meronta dihadapannya yang membuat hasrat birahinya muncul lebih kuat,gadis itu terus memberontak, gadis yang sedari tadi dia kira itu adalah Wulan.


Dengan satu tangan Ibram mengunci kedua tangan Bianca ke atas, bibirnya terus ******* bibir Bianca dengan kasar. Membuat gadis itu menangis.


Sementara satu tangannya tampak melucuti pakaian Bianca, menyingkap mini dress yang Bianca kenakan.


Kemudian dengan cepat melepas ikat pinggang yang dan celananya.


Bianca terus tergugu, badannya menggigil ketakutan menghadapi Ibram yang terlihat buas di hadapannya.


Sisi lain ibram yang tidak pernah Bianca bayangkan sebelumnya.


Sekuat tenaga dia meronta dan mengiba, tapi apa daya Ibram lebih kuat dibanding dirinya.


Dengan buas lelaki itu memperkosanya, mengoyak kegadisannya menyakiti tubuh dan juga hatinya. Perih.


Ibram terus bergerak maju mundur diatas tubuh Bianca, matanya berkabut melesakkan miliknya kedalam tubuh gadis itu, gadis yang sedari tadi dikiranya adalan wulan, gadis lain yang tidak tahu apa-apa dan harus menerima perlakuan menjijikan dan mengerikan seperti ini dari Ibram.


Ibram menghentak sambil menyebut nama Wulan, sementara Bianca terus menangisi nasibnya, perempuan itu menangis merasakan sakit di sekujur badannya, sakit di dalam hatinya.


Rasa benci dan amarah keluar bersama airmata yang tak hentinya mengalir.


Sesaat kemudian Ibram menggeram sambil menengadah wajahnya.


Merasai puncak dari aksi bejatnya, tubuhnya kemudian ambruk disamping tubuh Bianca yang bergetar ketakutan sekaligus marah.


Gadis itu meraung, menangisi nasib buruk yang baru saja menimpanya.


Dia memang bukan gadis yang baik, pergaulannya juga bebas. Tapi menjaga keperawanannya adalah sebuah prinsip yang tidak pernah dia langgar selama ini. Karena itu adalah kebanggaannya.


Tapi kini lelaki yang dia kenal sebagai lelaki baik itu telah merampas semuanya dari dirinya, lelaki bejat itu mencuri kebanggaan miliknya dengan paksa.


Bianca terus menangis, tubuhnya begitu sakit.


Membuatnya bersusah-payah untuk bangun, gadis itu memunguti bajunya yang sudah berserakan.


Meremas baju itu dengan kuat sambil terus tergugu menangis, bahunya tersentak naik turun.


Dia merasakan tubuhnya benar-benar kotor saat ini.


Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia menatap tajam penuh amarah pada tubuh Ibram yang tergeletak dan terlelap di atas ranjang. Ingin sekali rasanya gadis itu membunuhnya.


Author notes:


Hari ini update 7 bab sekaligus ya...


cerita ini sudah hampir menuju akhir..tinggal beberapa bab lagi.


maksud hati pengen update sekalian semua sampai tamat, apa daya gatel juga pengen post yg udah jadi duluan.


dan ini lagi on process menyelesaikan nya..


mohon bersabar ditunggu .dan trimakasih karena sudah setia mendukung.


💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2