My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
Eps. 41


__ADS_3

"huufftt" Wulan membanting tubuhnya yang letih ke atas ranjang empuk itu.


Seharian pikirannya dibuat kalang kabut oleh hal-hal yang tidak terduga.


Dia bersyukur setidaknya hari ini berakhir dengan baik.


Tanpa ada bencana seperti yang ditakutinya.


Jason pamit pulang setelah mengantarkannya sampai depan pintu apartemen.


Memastikannya masuk kedalam dan tidak berlama-lama diluar bersama Ibram.


Wulan membenahi letak bantalnya, ranjang itu terlalu nyaman.


Ranjang yang sama yang dulu pernah ditempati tuannya.


Gadis itu memeluk guling dengan erat, guling yang sama yang mungkin pernah dipeluk oleh Jason.


Kepingan kejadian tadi berputar di matanya, gadis itu terpejam mengingat kembali betapa hal manis terjadi antara dirinya dan Jason.


Ahh, dia tidak tahu harus bagaimana sekarang?


Kenapa mencinta serumit ini, membuat dirinya labil oleh perasaannya sendiri.


Bahkan tindakannya, reaksi tubuhnya saat bersama Jason mengkhianati tekad kuat yang mati-matian dia tanamkan dalam pikirannya.


Semua seolah menguap begitu saja, dan lihatlah sekarang gadis itu terjebak semakin dalam dan sulit untuk keluar.


Drrtt...drrtt... Ponselnya tiba-tiba bergetar, Wulan meraihnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata sebuah pesan singkat.


'selamat tidur, semoga mimpi indah'


Sebuah pesan singkat dari tuannya, tuan yang bukan hanya menjadi raja di rumah tempat dia bekerja, tapi juga yang merajai hatinya.


Gadis itu menimbang-nimbang ponselnya, haruskah dia menjawabnya?


Baru saja akal sehat dan perasaannya berperang, dan godaan ini muncul lagi.

__ADS_1


Drrt...drrtt... Satu buah pesan baru.


'kenapa cuma dibaca? Kalau tidak dibalas aku telepon ya?!!'


'iya tuan' balasnya.


'kamu sedang apa? Kenapa belum tidur?'


'saya sudah mau tidur tuan'


'Emm baiklah, selamat tidur semoga mimpi indah'


'terimakasih tuan, tapi saya nggak mau mimpiin mbak indah' Wulan terkikik sendiri menulis balasannya, sebuah lelucon murahan yang garing.


'kalau begitu, selamat tidur semoga mimpi Jason' balas Jason sambil terkekeh sendiri.


1 menit...


5 menit...


15 menit...


Wulan tidak membalas pesannya lagi, membuat Jason menunggu sambil terus memandangi layar ponselnya.


Jason sedikit gusar, haruskah dia menelepon?


Berulang kali Jason berdecak kesal menanti.


'sudah tidur?'


'belum tuan'


'kenapa tidak dibalas?'


'kata tuan saya suruh bermimpi?'


'iya, lalu'

__ADS_1


'sekarang saya sedang bermimpi'


'maksudnya'


'bermimpi yang tidak mungkin jadi nyata'


'kenapa?'


'maaf tuan'


'maaf untuk apa?'


Jason benar-benar tidak mengerti atas sikap Wulan yang berubah-ubah, kenapa gadis itu seperti buku tebal penuh tulisan namun tidak terbaca, tidak sedikitpun dia pahami isinya. Apakah wanita selalu seperti ini menjadi makhluk yang sulit untuk dipahami.


Tapi... Bukankah gadis itu tidak menolak sentuhannya tadi? Apa itu artinya gadis itu merasakan sesuatu yang sama?


Wulan tidak lagi membalas pesan itu, hatinya berada dalam dilema yang dia ciptakan sendiri.


Tindakannya sudah setengah jalan, dengan bodohnya gadis itu menunjukan perasaan yang susah payah dia tutupi. Ya, menutupi perasaan demi menjaga hati wanita lain yang tentu lebih berhak atas lelaki yang membuat hatinya berdenyut hanya dengan memikirkannya.


"Hmm, sekarang bagaimana? Apa aku serakah jika mencintai dia? Aaahhhh" gadis itu mengacak rambutnya gusar.


Malam merambat semakin cepat, tempat itu begitu sunyi. Wulan memutar tubuhnya berulang kali, bukan ranjang itu yang tidak nyaman, tapi sungguh hatinya yang gelisah. Gadis itu kadang tersenyum, kadang mengutuki dirinya sendiri, menertawakan hidupnya sendiri yang dipermainkan takdir.


Tanpa dia tahu, di tempat lain lelaki yang namanya selalu dia lafalkan dalam hatinya pun tetap terjaga dengan perasaan yang sama.


***


Pagi ini, kali pertama bagi Wulan tidak tergesa-gesa dikejar rutinitas hariannya untuk mempersiapkan kebutuhan rayyan.


Gadis itu menuju dapur, menyeduh secangkir teh melati yang aroma wanginya mengelitik indera penciumannya.


Menyiapkan setangkup roti tawar dengan selai coklat untuk sekedar mengganjal perutnya.


Hari ini akan menjadi hari yang panjang dan berat, tentu saja berada dalam posisinya saat ini benar-benar perlu mental yang kuat. Mental untuk bersandiwara menghadapi Bianca.


Dia berharap Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doanya kali ini, semoga hari ini berlalu dengan baik dan cepat.

__ADS_1


__ADS_2