
"permisi nyonya, ini kursi roda nyonya" ucap Wulan sembari mendorong kursi roda tersebut di samping ranjang tepat dimana Andini tengah duduk bersandar.
Wajah Andini benar-benar memerah, seperti siap untuk meledak.
Tangannya dengan sigap mencengkeram tangan Wulan yang masih menempel di pegangan kursi roda di dekatnya, memaksa gadis itu terduduk di tepian ranjang.
"Ada apa nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Wulan sambil tersenyum.
'PLAAAAKKKK'
Sebuah tamparan keras mendarat dipipinya, meninggalkan rasa panas dan perih yang teramat sangat.
Gadis itu memegangi pipinya sambil menatap Andini tidak mengerti.
"Nyo--"
"Diaaaammmm!!!! Aku sudah pernah memperingatkan kamu, tapi kamu tidak mau mendengarkan??" Teriak Andini sambil mencengkeram kembali lengan Wulan.
"Nyonya, saya--"
"Kamu perempuan murahan, masih berani-beraninya menggoda jasonku! Jason cuma milikku! Kamu tak ubahnya *******, penggoda lelaki! Dasar perempuan sialan! Tidak tahu diri!!" Hardik Andini dengan kalap.
Wulan merasakan dadanya mendadak sesak, sakit sekali.
Airmata gadis itu mulai meleleh, sakit sekali.
Bukan hanya pipinya yang sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit.
Dia tak dapat berkata apapun, mungkin benar apa yang diucapkan Andini, Dia tidak tahu diri.
Wulan hendak bangkit menjauh, tapi lengan kurus Andini mencengkeram begitu kuat. Bahkan sangat kuat untuk ukuran seorang wanita selemah Andini.
Seolah kemarahan benar-benar memberi kekuatan yang lebih.
Jari-jari kurus dan runcing milik Andini kini mencengkeram kedua pipi Wulan, menekannya dengan kuat.
"Wajahmu ini begitu polos, tapi hatimu seperti iblis menjijikkan!! Kau mau mengambil suamiku haa?? Kau pikir aku tidak mendengar percakapan kalian tadi haa??!!" Teriak Andini semakin murka.
__ADS_1
"Maafkan saya nyonya" lirih Wulan diantara Isak tangisnya.
Hanya itu yang mampu dia ucapkan, Wulan tidak bisa dan mungkin tidak mau melawan.
Hatinya membenarkan semua ucapan Andini, dia mungkin memang menjijikkan telah berani mencintai Jason, bahkan membiarkan dirinya larut terlalu dalam dengan hubungan tanpa status dengan Jason selama ini.
Membiarkan Jason memeluknya bahkan menciumnya. Membiarkan Jason mencintainya.
Wulan memejamkan matanya, air matanya mengalir tanpa bisa dia tahan, penyesalan tergambar jelas dari wajahnya.
"Maaf???!! Kamu memang harus meminta maaf bahkan memohon ampun padaku!! Perempuan menjijikkan dan kurang ajar! Kamu bahkan sudah tidak punya harga diri!!!" Serang Andini bertubi-tubi.
Andini menyakitinya, menyakiti lengan bahkan wajahnya.
Tapi itu tidak seberapa dibanding hatinya yang begitu sakit menerima semua ucapan Andini, yang bahkan tidak mampu dia sangkal.
"Saya minta maaf, saya tidak bermaksud menyakiti hati nyonya. Saya tidak bermaksud begitu" cicit Wulan diantara derai airmatanya.
"Tidak bermaksud??!!! Dasar perempuan munafik!!! Apa yang kamu harapkan dengan mendekati jasonku hahh??!!! Mau menjadi nyonya besar kamu hah??!!" Andini semakin mengeratkan kuku jarinya menyakiti pergelangan Wulan.
"Dengar, lebih baik kamu pergi menjauh sebelum kamu menghancurkan semuanya! Menghilanglah secepatnya, sejauh mungkin dari jason!" Ucap Andini kini dengan suara yang lirih namun tetap tegas.
"Oh, dan satu lagi. Perempuan murahan seperti kamu bahkan tidak pantas menjadi pengasuh anakku, jadi menjauhlah darinya" gertak Andini, benar-benar menghujam hati Wulan.
Wulan bergegas bangkit dan berlari keluar, menuju kamarnya sendiri.
Lagi-lagi tubuhnya merosot setelah menutup pintu kamarnya.
Gadis itu duduk memeluk lututnya, bahunya tersentak naik turun, airmata kian membanjiri wajahnya.
Semua perkataan Andini benar-benar membuat hatinya sakit, sekaligus membuatnya sadar diri.
Tidak seharusnya semua ini terjadi, cinta macam apa yang membuatnya menjadi perusak hubungan orang lain.
Lama Wulan terdiam dalam posisi itu, pikirannya mengelana.
Apa yang sebaiknya dia perbuat saat ini untuk memperbaiki keadaan.
__ADS_1
Mungkin kedatangannya dirumah inilah yang semakin memperkeruh hubungan Jason dan Andini.
Wulan menggeleng, tidak seharusnya dia berada di rumah ini lebih lama.
Ucapan Andini ada benarnya, lebih baik dia pergi dari rumah ini secepatnya.
Gadis itu berdiri, mengusap airmatanya dan bergegas membuka lemari.
Dengan pikiran yang berlarian dalam keputus asaan, Wulan mengemasi semua pakaiannya, menjejalkannya ke dalam tas besar miliknya.
Sesaat gadis itu termenung menatap cermin kecil diatas mejanya.
Menatap pantulan wajahnya yang sayu, dengan kedua mata yang kian membengkak akibat menangis.
'kamu tidak seharusnya disini Wulan, ini bukan tempatmu. Lupakan Jason' lirihnya pada dirinya sendiri.
Gadis itu mengambil secarik kertas, kemudian menulis sesuatu.
Hanya itu cara satu-satunya berpamitan.
Dia tidak mau dan mungjin tidak mampu untuk bertemu dan mengucapkan kata perpisahannya pada Jason langsung, membayangkan perpisahannya dengan Rayyan dengan cara seperti ini saja membuat hati Wulan teriris. Dia terlanjur menyayangi bocah kecil itu.
Wulan bertekad untuk pergi tanpa memberitahu siapapun.
Ini semua dia lakukan untuk kebaikan semua orang.
Gadis itu menatap jam di dinding kamarnya.
Jam menunjukan pukul 10 malam, dengan mengendap-endap Wulan keluar mengecek pos satpam, seperti biasa pak satpam berbaring sambil mendengarkan radio kecil, sebuah topi dibuat menutupi wajahnya.
Wulan berjinjit, mengendap-endap. Sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara.
Gadis itu perlahan membuka gerbang yang belum dikunci oleh pak satpam dengan sangat hati-hati.
Kemudian mempercepat langkahnya saat dirinya sudah berhasil keluar tanpa diketahui siapapun.
πππ yaaa, Wulan kabur gaes π₯Ίπππ
__ADS_1