My Beloved Baby Sitter

My Beloved Baby Sitter
part. 05


__ADS_3

Kondisi Wulan mulai membaik, waktu empat hari terasa begitu lama hanya dihabiskan dengan berbaring.


Rasa bosan menyerangnya, kerinduan pada Rayyan pun tak terbendung lagi.


"Mas, aku mau pulang," rengeknya pada sang suami.


"Kamu jangan gitu dong sayang, kamu harus dengerin apa kata dokter,"


"Tapi aku bosan mas, dan...aku kangen sama Ray," tertunduk dengan wajah muram.


Jason menghela nafas, kemudian menggenggam jemari istrinya.


"Kita tunggu dokter Anggun visit, nanti kita konsultasi bagaimana sebaiknya," jawab Jason akhirnya, membuat Wulan lega.


***


"Ray, dimakan dong sayang sarapannya," Sarah mengamati wajah bocah kecil yang cemberut sambil mengaduk sereal dalam mangkuk di hadapannya.


Bocah itu tak bergeming, wajahnya muram dan tampak tidak berselera.


"Mau Oma suapi?" Tawar Sarah. Dan lagi-lagi bocah itu menggeleng.


Bocah kecil itu rindu terhadap ayah dan bundanya, tapi sekaligus merajuk karena mereka pergi tanpa pamit dan meninggalkan dirinya.


Terlebih kata-kata Sarah tempo hari cukup mempengaruhi batinnya.


Apa benar ayah dan bundanya pergi berlibur tanpa ingin membawanya bersama mereka? Tapi kenapa?


Apa benar karena ada adik bayi yang bahkan belum lahir itu yang telah menggeser tempatnya di hati sang ayah dan bunda.


Tidak, Rayyan tidak mau membenci ayah dan bunda yang sudah selalu menyayanginya selama ini.


Tak apa bila kali ini mereka pergi tanpa membawanya, Rayyan tidak ingin membenci mereka.


Toh jika nanti mereka pulang, Rayyan bisa kembali menghabiskan waktu bersama ayah dan bundanya bukan?


"Ray, udah siang yuk Oma Anter ke sekolah,"


Sarah meraih tubuh cucunya untuk digendong dalam pelukannya, tapi bocah itu memilih merosot dari kursi tempat dirinya duduk dan melangkahkan kaki kecilnya tanpa berkata apapun.


Sarah kemudian meraih tangan mungil Rayyan dan menggandengnya.

__ADS_1


"Rayyan..." Panggil Wulan dari ambang pintu, wanita itu duduk di sebuah kursi roda, dan Jason setia mendorong di belakangnya.


"Bunda," teriak Rayyan melepas genggaman tangannya dari Sarah, secepat mungkin berlari hendak menghambur memeluk bundanya.


"Bunda kemana? Kok Ray diajakin?" Bocah kecil itu mulai merajuk.


"Bunda ada keperluan mendadak kemarin, Ray. Jadi gak sempet ajak Ray." Jawab Wulan sambil mengecup puncak kepala bocah kesayangannya itu.


"Tapi kok lama?" Tanya Rayyan mengerucutkan bibirnya.


"Ehhmm, lama ya? Maafin bunda ya sayang!"Wulan mengelus rambut lelaki kecil itu, "Ray mau berangkat sekolah ya?"


"Iya, bunda anterin dong." Rayyan meraih tangan wulan memaksa wanita yang nampak payah itu untuk ikut bangun.


"Ray, hari ini Ray berangkat sama pak amat aja ya?" Tolak Jason dengan halus.


"Tapi Ray mau sama bunda! Ayo bunda, anterin!" Bocah itu mulai merajuk.


"Jangan Ray, sekarang bunda masih capek, dedek bayinya nanti juga kasihan kalau bundanya kecapekan, sekarang Ray berangkat sama pak Amat dulu ya, lain waktu sama bunda," jelas Jason.


"Nggak mau, maunya sama Bunda aja." Bocah kecil itu mulai menjerit dan menghentak-hentakkan kaki kecilnya.


"Kamu apa-apaan sih, kondisi kayak begini kok mau Anter Rayyan ke sekolah, kamu harus banyak istirahat. Kasihan anak kita," ucap Jason sambil menahan Wulan supaya tidak bangkit.


"Tapi mas, kasihan Rayyan."


"Biar Rayyan berangkat sama pak amat, atau diantar Bi Irah, yang paling penting sekarang adalah kamu harus banyak-banyak istirahat demi anak yang ada di dalam perut kamu."


"Ayo bunda, ayo anterin ke sekolah." Rayyan masih terus merengek memegangi jemari tangan Wulan.


"I-iya, sayang...tapi...,"


"Rayyan!! Kalau ayah bilang jangan sekarang, itu artinya jangan sekarang. Kondisi bunda kamu lagi kurang sehat, kasihan adik bayi yang ada diperut bunda kamu kalau sampai bunda kecapekan. Kamu kan sudah besar, harus lebih ngerti dong sekarang!" Suara Jason meninggi, membuat bocah di hadapannya itu terbelalak terkejut sekaligus takut. Seumur-umur belum pernah Jason membentak dirinya, tapi sekarang itu terjadi karena seorang bayi di perut bundanya.


Rayyan yang mendengar ucapan Jason yang seseolah mementingkan adik bayi yang bahkan belum lahir itu menjadi kecewa dan marah terhadap kedua orangtuanya. Ternyata apa yang Sarah katakan selama ini adalah benar, dan kini kenyataan itu terbukti di depan matanya sendiri.


Rayyan yang kecewa, marah sekaligus sedih itu langsung berlari menerobos keluar menuju halaman. Langkah kakinya yang cepat membuat tas ransel kecil di punggungnya berayun-ayun.


"Ray, tunggu nak...," Suara Wulan memanggil bocah itu.


"Mas, kamu apa-apaan sih? Kan gak perlu sekeras itu juga, kasihan Rayyan, mas."

__ADS_1


Jason meraup wajahnya kasar, menyesali apa yang baru saja dia katakan pada keponakan tersayangnya tersebut. Bukan maksud Jason membuat si kecil Rayyan sedih, tapi pikirannya yang kalut dan bingung akhir-akhir ini karena kondisi Wulan membuat emosinya naik turun.


"Aku susul Rayyan," ucap Jason cepat dan hendak melangkah.


"Gak usah jas, biar Tante yang susul, kamu jaga istri kamu, kondisinya masih lemah begini kan? Rayyan biar Tante yang urus, dia masih kecil," kata Sarah yang sedari tadi diam dan melihat pertunjukkan yang sangat menghibur di matanya.


Jason tak ingin menjawab, hanya mengangguk menanggapi ucapan Sarah. Mungkin ada benarnya, terlebih Rayyan pasti masih terluka oleh ucapannya.


Sarah bergegas keluar mencari cucunya. Matanya mengawasi halaman yang luas itu. Saat kemudian melihat si kecil Rayyan duduk memeluk lutut di bawah pohon palem dekat kolam ikan, wajahnya tertunduk, dia benamkan menelungkup pada lututnya. Bahu kecil itu bergetar, naik turun menahan sesak di dada.


"Ray...," Panggil Sarah dengan lembut.


Tangan keriputnya mengelus perlahan rambut Rayyan. Membuat bocah itu mendongak menatapnya. Nafasnya tersedu, airmata membasahi pipinya. Hidungnya yang memerah tersumbat ingus.


"Jangan nangis, sayang...mau Oma Anter ke sekolah?" Tawar Sarah, namun bocah itu menggeleng cepat. Hatinya kecewa, harapan berangkat ke sekolah diantar oleh bunda yang berhari-hari dirindukannya musnah begitu saja, oleh bentakan sang ayah. Apa salahnya jika dia ingin juga diperhatikan seperti dulu, apa susahnya jika Wulan mengantarnya ke sekolah kali ini saja? Kenapa ayahnya begitu murka hanya karena keinginan kecilnya itu. Hati dan otak kecilnya tidak mengerti apa kesalahan yang telah dia perbuat, hingga membuat sang ayah begitu marah.


"Kalau gitu, gimana kalau kita jalan-jalan aja? Rayhay gak perlu sekolah hari ini. Kita jalan-jalan trus main ke time zone, mau?" Tawar Sarah membuat bocah itu menatapnya dengan pandangan yang sedikit berubah.


Anak kecil tetaplah anak kecil, jika mendengar sesuatu yang menarik hatinya akan dengan cepat mengalihkan kesedihan yang tengah dirasakan. Membayangkan permainan game yang lama tidak dia datangi karena kesibukan Jason membuatnya sedikit terhibur.


"Mau?" Ulang Sarah.


Rayyan mengangguk, " mau Oma, tapi nanti kalau ayah marah gimana? Soalnya Ray gak sekolah, tapi main."


"Ayah gak perlu tahu, yang penting Rayyan gak usah bilang. Toh ayah Jason memang marah sama kamu kan sekarang, jadi biarin aja gak usah perduli soal ayah."


Rayyan kecil terlihat berpikir sejenak, benar juga apa kata neneknya itu, ayahnya saja tidak perduli padanya. Jadi apa pedulinya pada orang yang telah melupakannya itu.


"Iya, Oma."


"Okay, Ray tunggu sini, Oma ambil tas dulu ya. Ketinggalan di dalam."


Rayyan lagi-lagi mengangguk.


Saat hendak menuju meja makan, tempat dimana tas yang tadi dia persiapkan untuk mengantar Rayyan tertinggal, Sarah berpapasan dengan Jason yang hendak mengambil air untuk Wulan.


"Jas, Rayyan biar Tante yang antar sekolah, mungkin nanti kami pulang telat, Tante mau ajak Rayyan ke makam ibunya sepulang sekolah."


"Hemm," Jason hanya berdehem kecil dan mengangguk sebagai jawaban. Lelaki itu masih enggan beramah-tamah dengan mertua mendiang kakaknya tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2