
'BLAAMM'
Herman membanting pintu mobilnya, lelaki itu mengendurkan dasinya sembari masuk ke kediamannya.
Rambutnya masih tersisir rapi ke belakang meski kepenatan terukir jelas di wajahnya.
"Sayang, sudah pulang?" Seorang wanita menyambut kedatangannya.
"Hemm, kamu juga sudah di rumah?" Jawabnya.
"Iya, lembur setiap hari bisa bikin stres" sahut wanita itu sambil meraih jas dari tangan suaminya.
"Kamu sudah makan?" Tanyanya lagi.
"Jangankan makan ndah, aku saja nggak sempat istirahat. Bosmu itu bikin aku kerja keras seharian ini" sahutnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia bosmu juga kan?" Jawab indah sambil tertawa kecil.
"Jason sudah sedikit berubah ndah, dan aku senang akan hal itu" ucapnya sambil membanting tubuhnya yang penat ke sofa.
"Iya, dia mulai peduli lagi terhadap sesuatu selain pekerjaan. Aku juga senang hatinya tidak sedingin seperti sebelumnya" jawab indah sambil mengambil duduk disamping Herman.
"Aku lumayan terkejut dia jatuh cinta pada Wulan, tapi memang Wulan itu gadis lugu yang baik" indah kembali menerawang.
"Ya, dan terlalu lugu sampai berpikir bahwa Jason dan Andini adalah suami istri" Herman menggeleng lagi sambil tersenyum.
"Ahh, apa itu sebabnya Wulan kabur?" Tanya indah dengan mata membulat, semuanya menjadi masuk akal sekarang, semua yang Jason ceritakan tentang sikap Wulan sebelumnya.
__ADS_1
"Eheemm" angguk Herman membenarkan.
"Jadi, sekarang Wulan sudah ketemu?" Tanya indah lagi.
"Belum, tapi setidaknya kita sudah tahu posisinya dimana" Herman menghela nafas kecil.
***
"Nduk, sebenarnya ada apa to? Ibu perhatikan sejak tiga hari kamu pulang kerumah wajah kamu itu kaya orang lagi banyak pikiran" seorang wanita paruh baya yang tengah duduk sambil mengupas bawang menatap putrinya yang memotong sayur dengan setengah melamun.
"A--ahhh, nggak apa-apa kok Bu" jawabnya cepat sambil menggeleng kuat.
"Ibu ini ibu kamu Wulan, ibu bisa tahu anak-anak ibu sedang kenapa-kenapa, ibu bisa ngerasain" kata ibunya lagi.
Memang benar, ibu tetaplah ibu. Perasaan seorang ibu sangat kuat menyangkut buah hatinya.
Tapi Wulan tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada ibunya untuk saat ini. Entah apa yang akan ibu pikirkan, jika tahu yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya harus keluar dari rumah majikannya.
"Nggak ada apa-apa Bu, Wulan cuma kepikiran mau kerja apa setelah ini?" Jawab Wulan asal.
"Nduk, kalau memang kamu ngerasa nggak cocok kerja di tempat majikan kamu yang sebelumnya, kenapa kamu nggak minta pindah majikan saja, kenapa malah pulang?" Tanya ibunya bingung, benar karena Wulan baru bekerja beberapa bulan saja.
"Bu, kan Wulan kangen sama ibu, sama bapak, sama Yuni. Memangnya Wulan nggak boleh pulang?" Jawab Wulan sambil berpura-pura merajuk.
"Iya ibu tahu, lha tapi ini Sekarang kamu bilang kamu bingung to mau kerja apa lagi?"
SKAKMAT
__ADS_1
"Nduk, sebenarnya apa to yang bikin kamu keluar dari pekerjaanmu? Kamu cuma bilang nggak cocok, nggak cocok kenapa? Cerita sama ibu, ibu pengen tahu e" desak ibunya yang diliputi rasa penasaran.
"Nggak cocoknya itu karena apa? Nduk, yang namanya cari kerja itu nggak gampang, dan yang namanya kerja itu ya pasti ada nggak enaknya, tapi kita harus jadi orang yang bertanggung jawab sama pekerjaan kita"
Ibu, andai bisa dengan mudah untuk dijelaskan. Tentu berkeluh kesah dan mengadu di pangkuan ibu adalah hal yang paling menentramkan bagi Wulan.
Tapi tidak semudah itu, ini terlalu rumit untuk dikatakan. Bisa jadi ibunya akan murka atas sikap anaknya yang jauh dari etika hanya karena cinta.
Wulan tertunduk dan mendesah perlahan, berkutat menekuri sayuran di hadapannya.
Bukan karena terlalu sibuk, hanya tak ingin ibunya melihat semua masalah berat dari matanya.
Benar kata orang, mata adalah jendela.
Ibunya mengernyitkan dahi, menanti jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir mungil anak gadisnya.
Hatinya tahu, ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang tengah ditutup rapat oleh Wulannya yang kini telah menjelma menjadi dewasa.
"Bu, mbak, diluar ada tamu" Wahyuni si adik kesayangan datang tergesa-gesa dari arah luar menuju dapur.
Kedua wanita itu lantas menengok ke arah gadis remaja yang setengah berlari.
"Siapa??" Tanya sang ibu memastikan.
"Ndak tahu Bu, katanya nyari mbak Wulan" ujar si gadis menatap sang kakak.
"Nyariin embak?" Wulan mengernyit kemudian bangkit dari duduknya.
__ADS_1
💖💖💖
maafkeun author ya, updatenya terlambat!!