
"BRAAKKK!!!"
Jason mendorong pintu kamar Andini hingga terbuka secara paksa.
Membuat Andini yang tengah duduk bersandar pada ranjangnya terjengkit kaget.
"Jas??" Sebut Andini ketika melihat Jason berdiri dengan nafas terengah-engah di ambang pintu.
Ada sebersit kerinduan di mata Andini setiap kali melihat wajah lelaki itu.
Begitupun kali ini, meski Andini tahu ada sesuatu yang tampaknya buruk hingga membuat Jason Sudi untuk menghampirinya di kamar.
"Kamu bilang apa pada Wulan, ndin??!" Teriak Jason sambil menyeret masuk kakinya yang masih terluka.
Matanya menatap tajam, air mukanya begitu gelap.
Rahangnya terkatup begitu kuat dengan gigi bergemeretak di dalam sana.
Andini tercekat, menerka apa yang sedang Jason katakan ini berhubungan dengan si pengasuh kampungan itu.
"Aku tanya, APA YANG SUDAH KAMU KATAKAN PADA WULAN?? JAWAB!!!" teriak Jason tanpa ditahan lagi, sebelah tangannya yang masih terbungkus perban menggebrak meja disamping Andini.
Membuat cairan berwarna merah menembus keluar dari perban berwarna putih tersebut.
"Jas, aku--" Andini tercekat, airmatanya membentuk buliran menganak sungai dipipinya.
Sesaat wanita itu menarik nafas kasar mengumpulkan satu-satunya keberanian yang tersisa dari dirinya. Kemudian menghapus jejak airmata dipipinya dengan kedua punggung tangan.
"Ya, aku bilang kalau kamu suami aku, aku bilang kalau dia tidak pantas untuk kamu. Karena kamu cuma milik aku jas, cuma milik aku!!!" Teriak Andini dengan tatapan menantang.
__ADS_1
"Dia cuma perempuan murahan yang nggak tahu diri jas, perempuan kampungan yang nggak pantas untuk kamu!!" Teriak Andini lagi, kali ini dengan kemarahan sekaligus keputus asaan.
"KURANG AJAR KAMU NDIN!!!" sekali lagi Jason menggebrak meja, dan lagi-lagi darah segar mengucur lebih deras dari sebelumnya.
Luka di tangannya yang belum kering, kini terbuka lagi.
Sama seperti hatinya, luka bertahun-tahun dia simpan kini seperti kembali menganga.
"Kenapa jas? Hahh Kenapa?? Perempuan itu memang tidak pantas untuk kamu, dia cuma jal*ng murahan, gadis kampung menjijikkan, penggoda lelaki yang kucint--"
"PLAAAKKKK"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Andini yang cekung.
Meninggalkan rasa panas sekaligus perih dan menyakitkan hingga ke relung hati wanita ringkih itu.
Menghancurkan sisa-sisa hatinya yang berkeping menjadi abu.
"Jas--" lirihnya sambil meraba pipinya yang memerah, matanya menatap dalam raut wajah lelaki yang selalu merajai hatinya selama bertahun-tahun itu.
Jason menghembuskan nafas dengan keras, membanting tangannya ke udara.
Ini kali pertama baginya melukai fisik seorang wanita, kali pertama lelaki itu melanggar prinsip yang dibangunnya.
Tapi apa daya, Andini sudah benar-benar keterlaluan.
Sangat keterlaluan.
"Dengar ndin, gara-gara kamu sekarang Wulan pergi!! Apa kurang cukup kamu menghancurkan hidupku selama ini ndin?? Apa masih kurang puas setelah kamu merenggut abangku, dan sekarang kamu mau memisahkan aku dari orang yang aku cintai????!!" Teriak Jason hingga guratan nadi di seluruh lehernya menegang.
__ADS_1
Mata lelaki itu dipenuhi cairan panas yang luruh tanpa permisi.
Kekecewaan, kemarahan dan kebencian memenuhi rongga dadanya yang naik turun tak beraturan.
Semua perasaan itu seolah menggumpal dan bercokol begitu lama terasa meledak bersama amarahnya yang tidak terbendung lagi.
"Aku melakukan semua ini karena aku cinta kamu, aku selalu mencintai kamu jas, baik dulu ataupun sekarang! Tapi kenapa kamu sama sekali tidak mau mengerti? Lihat cinta aku sedikit saja jas" ucap Andini menepuk-nepuk dadanya penuh keputus asaan.
Wanita itu menangkupkan kedua tangan kurusnya menutupi wajahnya, sesekali mengacak rambut panjangnya yang kusut dan berantakan disela lolongan tangis pilunya.
"Cukup ndin! Persetan Dengan cinta kamu itu karena sampai kapanpun aku nggak akan pernah membalas cinta kamu! Justru semua tingkah dan ulah kamu selama ini membuat aku semakin jijik dan muak!" Umpat Jason sambil menuding wanita itu dengan telunjuknya.
"Satu-satunya alasan kamu masih ada disini itu semua cuma karena Rayyan. Tapi aku bersumpah ndin, itu tidak akan lama lagi, camkan itu baik-baik!!" Jason menyeret langkah kakinya bergegas keluar, meninggalkan Andini dalam kubangan frustasi yang diciptakannya sendiri.
"PRANNGG!!!"
Andini melempar seluruh isi meja disamping tempat tidurnya.
Mengacak-acak semua yang terjangkau oleh tangannya, dia meratapi semua penderitaan akibat ulahnya sendiri.
"Aaahhhh, jasss" lolong wanita rapuh itu dalam tangisan pilu, tubuhnya merosot ambruk meringkuk.
"Sialan..sialan..sialaaaan!!!" Umpatnya sambil memukuli kakinya yang mati rasa.
Semuanya sia-sia, pengorbanan dan penderitaan yang dilewatinya selama ini menguap tidak berarti hanya karena kedatangan perempuan rendahan macam Wulan.
Lebih baik mati daripada melihat Jason bersanding dengan pengasuh sialan itu.
Tangisan kekecewaan dan terluka Andini memenuhi ruangan itu hingga menyisakan suara parau memilukan.
__ADS_1
💖💖💖😁🙏