My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 09 Game Center


__ADS_3

Berjalan ke elevator, kami segera menaiki nya. Mia, adikku segera memencet tombol yang menunjukkan angka 3 di samping pintu elevator. Sesaat Mia selesai memencet tombol, pintu elevator segera tertutup, kemudian elevator bergetar kecil, sebelum akhir nya aku merasakan kalau elevator bergerak naik.


"Untuk bangunan yang cukup terawat, kondisi elevator di sini cukup memprihatinkan." Getaran kecil dari elevator bukanlah hal yang normal. Bisa di katakan kalau getaran sebelum nya menunjukkan kalau elevator ini tidak di rawat dengan benar.


"Wajar jika elevator ini tidak terawat. Semua uang perawatan fasilitas mall di korupsi oleh pemilik dari mall ini. Alasan mengapa mall ini sepi, karena sebentar lagi mall ini akan di tutup. karena pemilik dari mall ini terlilit banyak utang dan terpaksa menjual mall ini. " Natasha mengatakan informasi penting yang tidak di ketahui media manapun. Dari mana ia mendapatkan informasi ini? Seakan tahu yang aku pikirkan, Natasha menjawab pertanyaan yang ada di kepalaku. "Pemilik dari mall ini adalah teman ayah ku."


Saat cakap-cakap ringan kami selesai, elevator bergetar sedikit seperti sebelum nya, hingga benar-benar berhenti bergerak naik. Setelah itu pintu elevator terbuka. Kami akhir nya sampai di lantai tiga.


Keluar dari elevator, kami pergi ke gamecenter, yang jarak nya tidak jauh dari elevator.


Saat kami sampai di gamecenter, Mia langsung bergerak cepat, pergi ke kasir, membeli kartu untuk mengoperasikan mesin, setelah itu ia kembali ke kami.


Biar aku jelaskan bagaimana cara kerja mesin game di gamecenter ini. Pengoperasian mesin di sini menggunakan kartu seperti kartu ATM yang di gesekkan di tempat yang sudah di sediakan. Guna nya kartu adalah untuk menyimpan point yang di gunakan untuk membayar biaya pengoperasian mesin. Point yang di gunakan untuk mengoprasikan mesin beragam, tapi sebagian besar adalah 100 point, dan kartu yang di beli oleh Mia menyimpan 25.000 point. Jadi kami bisa main sebanyak 250 kali di gamecenter ini.


Saat Mia kembali dari membeli kartu, ia menarik tangan kami berdua ke salah satu mesin game.


"Ayo kita main game ini! Game ini ada mode co-op nya."


Game yang Mia maksud adalah game FPS. Ada empat buah pistol mainan yang terhubung dengan kabel, cara memainkan nya, kami hanya perlu mengarahkan pistol kelayar dan menarik pelatuk dari pistol mainan itu. Dengan begitu, karakter di dalam game akan menembak mengikuti pelatuk yang kami tekan.


Aku dan Natasha mengikuti Mia yang mengambil pistol mainan, setelah ia mengesekkan kartu sebanyak tiga kali di tempat gesekan kartu.


Segera setelah Mia menggesekkan kartu nya, permainan pun di mulai. Dengan serentak kami bertiga mengarahkan pistol mainan kami ke arah layar.


Aku melihat musuh di layar, mengarahkan ke arah yang di tuju, aku menekan pelatuk di pistol mainan ku. Hah...? Ada delay tiga detik saat aku menekan pelatuk dengan karakter ku yang menembak musuh, aku melirik ke layar milik Natasha dan Mia, setelah itu aku melirik ke arah mereka berdua. Mereka tidak mengalami delay seperti yang aku alami, karakter mereka menembak bersamaan dengan mereka menarik pelatuk di pistol mainan mereka.


"Haaah..." Aku menghela nafas lelah. Baru game pertama, aku sudah kehilangan mood untuk lanjut bermain.


Terlepas dari delay yang mengganggu, aku terus bermain... Hingga akhir nya, delay yang mengganggu ini akhirnya menunjukkan kerugian nya. Ada musuh yang melakukan serangan kejutan, aku memencet pelatuk pistol mainan, tapi karena delay, musuh itu tidak tertembak, dan malah berhasil menembak ku di kepala, membuat kematian instan untuk karakter yang ku gunakan.


"Sialan!" Cemooh ku, sembari mengembalikkan pistol mainan di tempat semula dengan kasar sampai menimbulkan suara nyaring.


"Kalau kalah jangan emosi Mira." Adikku menasihati ku dengan senyum mengejek.


"Ya, ya..." Aku membalas ejekkan nya dengan sikap tak acuh, kemudian pergi meninggalkan Natasha dan Mia yang tengah asik bermain.


Tidak begitu jauh aku berjalan, aku menemukan tempat peristirahatan, yang berupa kursi panjang. Di kursi panjang itu sudah ada seseorang yang duduk dengan menyandarkan punggung nya di sandaran, kepala nya mendongak ke atas, dengan wajah nya yang di tutupi dengan topi. Seperti nya ia sedang tertidur. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu orang itu, tapi kaki ku pegal karena berdiri saat bermain game sebelum nya, aku pun memutuskan untuk mengabaikan orang itu dan duduk di kursi panjang, tentu saja agak jauh dari orang yang tertidur itu.


"Emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Kau harus bersikap tenang, menganalisis setiap kejadian. Dengan begitu kekurangan yang seharus nya merugikan, bisa kau buat menjadi kartu andalan mu."


"Eh...?"


Saat aku duduk di bangku, orang yang tertidur di sebelah ku tiba-tiba berbicara. Aku tidak tahu dengan siapa ia berbicara, tapi dari perkataan nya, aku rasa ia berbicara pada ku.


Aku mengeluarkan suara kaget saat tiba-tiba di ajak berbicara, tapi orang itu mengabaikan ku dan terus melanjut kan perkataan nya.


"Kau sudah bersikap tenang saat mengetahui ada delay yang terjadi saat kau menggunakan pistol mu. Tapi langkah selanjut nya yang salah! Kau malah bersikap bodoh dan tak acuh terhadap kendala itu. Kau menganggap itu hanya permainan sehingga membuat mu tidak menganalisis situasi."


"Ummm... Kau melihat ku bermain?"


"Ya. Aku melihat nya."


"Begitu ya... Boleh aku bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Silahkan."


"Mengapa suara mu begitu serak?"


Aku tidak terganggu dengan nya yang tiba-tiba sok menggurui ku walaupun ia orang asing, aku malah bersyukur ia mengasih ku saran. Tapi aku tidak bisa menganggap perkataan nya sesuatu yang serius di karenakan suara nya yang begitu aneh.


"Ehem... Ya. Aku memang lagi demam. Karena itu suara ku serak."


"Begitu ya...."


"..."


"..."


Kejadian yang sama seperti Natasha terulang kembali. Percakapan kami terhenti dan suasana menjadi canggung. Apa yang bisa di harapkan dari ku yang begitu tidak pandai berbicara ke orang asing?


Mungkin tidak tahan dengan suasana canggung yang terjadi, dia membenarkan posisi nya, mengambil topi yang menutupi wajah nya kemudian memasang nya di kepala nya dengan benar.


"Bagaimana adik kecil, ingin melihat ku bermain?"


"Tidak perlu."


Karena wajah nya sekarang tidak tertutup, aku dapat melihat wajah nya. Ia adalah seorang pria berwajah androgini, rambut hitam nya yang panjang di ikat agar muat dengan topi nya, memberikan kesan kalau dia adalah seorang gadis yang berpakaian seperti pria. Tapi aku bisa mengetahui kalau dia adalah seorang pria dari bentuk tubuh nya, dan suaranya yang besar. Dari wajah nya yang nampak muda, aku bisa tahu kalau umur nya kurang lebih sama seperti ku.


Walaupun dari wajah nya tidak menunjukkan tanda-tanda orang bejat, aku masih harus hati-hati. Dengan penampilan ku yang seperti anak kecil, aku akan mengikuti saran dari Mia dan orang tua ku untuk tidak ikut dengan orang asing. Lagipula di jaman sekarang banyak penculik anak yang masih di bawah umur. Atau begitulah yang ku baca di berbagai media.


"Ah. Jangan-jangan kau berpikir aku adalah orang jahat? Tenang saja aku tidak akan melakukan apapun pada mu." Semua penjahat rata-rata akan mengatakan hal itu. Pikir ku sembari mengabaikan orang asing yang terus berbicara pada ku.


"Baiklah kalau kau tidak mau ikut, kau bisa melihat ku bermain dari sini."


"Aaah... Aku kalah..." Aku mendengar suara kecewa Natasha dari jauh.


"Sialan!" Beberapa detik kemudian aku mendengar suara kesal Mia.


Seperti nya mereka sudah selesai. Aku melirik ke tempat Natasha dan Mia bermain, tapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dari tempat mereka bermain, malahan mereka terfokus ke layar tempat orang asing yang sebelum nya duduk bersama ku.


"Gila! Dia berhasil sampai ke stage tiga dalam waktu sesingkat ini."


"Eeeeh... Bagaimana bisa..."


Seperti nya mereka berdua benar-benar melupakan ku dan terfokus ke permainan orang asing itu.


Karena penasaran, aku pun memutuskan mendatangi mereka.


"Hahaha... Aku bisa membaca pergerakan kalian!"


Saat aku tiba di tempat permainan, aku melihat orang asing itu menembaki musuh di layar sebelum mereka benar-benar muncul. Dia benar-benar bisa memprediksi dimana musuh akan muncul, bahkan ia berhasil melewati tempat aku gagal sebelum nya!


Natasha dan Mia tidak sadar aku datang, mereka terlalu terfokus ke layar... Beberapa menit kemudian... Orang asing itu berhasil menyelesaikan semua stage yang tersedia.


Natasha dan Mia melihat orang itu dengan tatapan tidak percaya. Bahkan tanpa ku sadari, sudah banyak orang yang datang untuk melihat orang asing itu bermain! Harus ku akui, kemampuan nya memprediksi pergerakan lawan sangat hebat, bahkan aku tidak bisa melepaskan pandangan ku dari layar.


Saat ia berhasil menyelesaikan semua stage beberapa orang yang menyaksikan bertepuk tangan untuk nya. Ia dengan malu-malu mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah kau mempelajari sesuatu dari permainan ku?" Melihat ku ada di salah satu kerumunan orang, dia bertanya dengan senyum sombong di wajah nya.


Yang merespon pertanyaan nya bukan aku, tapi adikku Mia. "Ya. Kau sangat hebat! Apakah kau sering memainkan game ini? Kau bahkan bisa menebak di mana keluar nya musuh!"


"Tidak. Aku hanya melihat kalian bertiga main dari jauh."


"He-hebat... Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Nama ku Mia, yang cebol ini kakak ku Mira, dan ini teman kakak ku Natasha."


"Aku Alex."


"Alex... Kapan-kapan bisa kita main game sama-sama?"


Hah...? Mengapa adikku tiba-tiba begitu bersemangat untuk mengajak orang asing yang baru ia temui untuk jalan berdua? Jangan-jangan...


"Boleh saja... Kalau boleh tahu, ini jam berapa?"


"Jam setengah dua belas." Jawab ku.


"Gawat, aku terlambat! Maaf, aku harus pergi!"


"Ah. Tunggu... Setidak nya bisa kau berikan IG mu.." Sebelum adikku bisa meminta insta nya, orang asing bernama Alex itu sudah pergi.


"Mengapa kau tiba-tiba mengajak nya jalan seperti itu?" Tanya ku.


"Eeeh... Kapan lagi aku bisa bertemu orang tampan seperti dia."


Sudah ku duga... Adikku berusaha untuk mendekati nya.


"Hahaha... Tidak ada gunanya berdiam di sini terus, ayo kita pergi berkeliling." Natasha tertawa masam saat mendengar jawaban adikku. Ia kemudian mengusulkan untuk melanjutkan berkeliling.


Karena adikku juga sudah puas melihat orang asing itu bermain, kami pun memutuskan untuk mengikuti saran Natasha.


***


"Haaaah... Capek..."


Itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut ku saat kami sampai di depan rumah ku. Hari sudah sore, jam di smartphone ku menunjukkan pukul 17:00. Kami berkeliling mall seharian. Saat di mall kami banyak membeli makanan, pakaian, alat kosmetik, dan aksesoris. Alhasil dari semua itu adalah, habis nya uang saku ku yang sudah ku tabung dari tiga bulan yang lalu. Ada perasaan menyesal aku menghabiskan uang itu, tapi rasanya tidak buruk menghabiskan waktu bersama Mia dan Natasha. Walaupun imbas nya tenaga dan uang ku benar-benar terkuras habis.


"Sampai bertemu besok Natasha." Kata ku kepada Natasha yang repot-repot mengantar ku dan Mia pulang sampai depan rumah.


"Ya. Sampai ketemu besok."


Setelah mengucapkan salam perpisahan untuk hari ini, aku melihat Natasha yang berjalan keluar komplek perumahan. Aku terus melihat nya, hingga sosok nya tidak terlihat lagi.


Saat Natasha sudah pergi, aku masuk kedalam rumah. Ngomong-ngomong Mia langsung masuk kedalam rumah sesaat kami sampai di depan rumah.


"Ah. Mira, ada paket yang di tujukan untuk mu. Pengirim nya dari akademi sihir." Kata Adikku sesaat aku memasuki rumah.


"Okay. Dimana kau menaruh paket nya?"


"Di kamar."


Pergi ke kamar ku di lantai dua, aku melihat sebuah kotak sesaat aku memasuki kamar. Aku membuka segel kotak itu, dan melihat isi dalam nya.

__ADS_1


Di dalam kotak ada tiga seragam, sebuah ransel dan beberapa alat tulis.


__ADS_2