My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 36 Rekonsiliasi di Kantin


__ADS_3

Kriiing!!


"Kita sambung pada pertemuan selanjutnya."


Bel tanda akhirnya pelajaran ketiga berbunyi. Guru yang mengajar pun mengakihiri pelajarannya, mengambil barang-barangnya di atas meja, kemudian ia keluar dari kelas.


Sesaat guru yang mengajar keluar, suasana canggung langsung memenuhi ruangan. Semua orang masih sungkan untuk mengobrol satu sama lain setelah kejadian kemarin di ruang perawatan.


Sebagai info, sudah satu hari terlewati semenjak perlakuan jahat ku pada Raihan. Semua orang dari tadi pagi rasanya sering menatap ku pada hari ini. Tapi tatapan yang mereka berikan bukan tatapan kebencian, melainkan tatapan cangggung, mereka seakan ingin mengajakku bicara, tapi tidak tahu apa yang ingin mereka bicarakan. Kami seperti orang asing yang secara kebetulan duduk sebangku di tempat umum.


Aku sebagai orang yang menyebabkan semua situasi ini, mengambil inisiatif untuk pergi dari kelas, menghilangkan situasi canggung ini.


Beranjak dari tempat dudukku, aku berjalan ke pintu kelas.


Saat ini jam dua belas tepat, waktu istirahat. Jika pada situasi biasa, salah seorang dari kami akan mengusulkan untuk pergi ke kantin, atau yang biasa kami lakukan pada beberapa minggu terakhir ini mengajak ke lapangan untuk melatih Raihan. Tapi karena situasi rumit di antara kami, tidak ada yang mengusulkan hal itu pada hari ini.


Saat aku berada di luar kelas, berjalan menyusuri koridor, aku mendengar langkah kecil dari belakang ku.


"Mira, kau pergi ke kantin?" Orang yang mendatangi ku dari kelas bertanya saat ia sudah sampai di samping ku. Yang bertanya adalah seorang gadis berambut pirang, Natasha Twilight.


"Kemana lagi aku akan pergi saat jam segini." Jawab ku.


"Boleh aku ikut?"


"Ya."


Kami berdua berjalan berdampingan menyusuri koridor.


"Apakah kau tidak marah pada mereka?" Tanya Natasha saat kami sampai di tangga yang membawa kami ke lantai satu.


Nampaknya ia ingin menanyakan itu semenjak kami berjalan bersama, terbukti dari ia yang sering curi pandang saat kami jalan bersama.


Tanpa perlu di beri spesifikasi khususpun, aku tahu siapa yang dimaksud 'mereka' oleh Natasha. Yang ia maksud adalah teman-teman sekelasku yang berlaku kasar pada ku kemarin.


"Tidak juga. Dari pada marah, bisa dikatakan aku kecewa pada mereka? Aku pikir mereka adalah orang cerdas, yang lebih mementingkan logika dari pada perasaan, tapi rupanya aku terlalu tinggi menilai mereka. Dan juga, aku yang salah kemarin, jadi hanya buang-buang tenaga saja jika aku menyimpan emosi pada mereka." Jawab ku.

__ADS_1


Itu benar. Aku tidak marah pada mereka. Yang ada hanya perasaan kecewa. Aku tidak menyangka kalau mereka akan lebih mementingkan ego dan perasaan mereka ketimbang pemikiran logis dan realistis. Tapi aku tidak bisa terus menerus menyimpan perasaan kecewa itu. Karena jika di lihat dari sudut pandang mereka, jelas akulah yang bertindak kelewat batas kemarin.


Yah... Apapun itu, aku menerima fakta kalau akulah yang salah. Jadi tidak ada gunanya menyimpan perasaan negatif terus kepada mereka.


Jika situasinya sedikit membaik, mungkin aku akan kembali berbicara pada mereka, seakan-akan kejadian kemarin tidak pernah terjadi.


Berjalan menuruni tangga hingga sampai ke aula utama, kami berdua berjalan menuju koridor yang megarahkan kami ke kantin, tidak waktu lama saat kami berjalan menyusuri koridor tersebut, kami berdua pun sampai di kantin.


Kantin sama seperti biasa, dipenuhi dengan murid-murid yang mengisi perut mereka setelah menghabiskan waktu setengah hari belajar dikelas.


Pergi ke tempat biasa untuk mengambil piring, mengantri untuk mendapatkan makanan, setelah dapat, kami berdua pergi ke meja makan yang kosong.


Makanan yang ku ambil adalah salad buah untuk pencuci mulut, lalu untuk hidangan utama ada roti dengan sosis daging. Untuk minuman sendiri aku memilih jus brokoli.


Natasha mengambil sup untuk hidangan utama, sama seperti ku ia memilih salad buah untuk pencuci mulut, dan green tea untuk minuman.


Kami berdua menyantap makanan tanpa banyak berkata-kata. Aku mengapresiasi sikap Natasha yang seperti itu. Ia tahu kalau aku tidak banyak bicara saat aku menyantap makanan, karena itu ia lebih banyak diam dari pada memaksakan untuk mencari topik pembicaraan.


Saat kami menghabiskan setengah dari makanan kami, kami kedatangan tamu yang tidak terduga.


"Permisi~~" Tempat duduk di samping ku yang masih kosong segera di ambil oleh orang lain.


Lalu ada satu orang lagi yang duduk di seberang meja, di samping orang yang duduk pertama.


"Kenapa kalian kesini?" Tanya Natasha dengan wajah skeptis.


"Untuk makan tentu saja." Jawab orang yang berada di seberang meja.


Yang datang adalah ketiga teman sekelasku, siapa lagi kalau bukan Alexandria yang duduk di samping kiri ku, lalu ada Dani dan Raihan yang duduk di seberang meja.


"Tidak... Maksud pertanyaan ku adalah..." Natasha ingin memastikan maksud dari pertanyaannya, tapi ia segera menghentikannya, tidak ingin membuat suasana menjadi canggung lagi.


Aku bisa tahu maksud pertanyaan dari Natasha. "Kenapa kalian kesini? Bukankah kalian masih menganggap Mira sebagai musuh?" Mungkin itulah yang hendak dia tanyakan.


Nampaknya bukan hanya aku yang mengerti maksud dari pertanyaan Natasha, salah satu dari teman sekelasku, Alexandria lebih tepatnya, mulai menempelkan kepalanya di atas meja. Mungkin ia bermaksud membungkuk tapi karena masalah posisi tubuh, ia tidak bisa melakukan itu, memilih untuk menempelkan kepalanya di atas meja, bermaksud merendahkan dirinya.

__ADS_1


"Maaf Mira." Katanya dengan suara yang di penuhi dengan penyesalan. "Kami berlaku jahat padamu, padahal kami tahu kaulah yang paling banyak berusaha dalam membantu Raihan, tapi kami malah..."


"Tidak perlu di perbesar," Kataku saat Dani dan Raihan mengikuti langkah Alexandria, menempelkan kepala mereka di atas meja. "Lagipula aku juga salah, melukai Raihan dan menimbulkan perpecahan dalam kelas."


Mereka bertiga mengangkat kepala mereka. "Ternyata kau lebih stoic dari yang ku kira." Kata Dani dengan nada sarkas.


"Yah, sifat ku dari awal memang begitu. Jadi maaf kalau kita sering tidak se-frekuensi." Ucap ku sebelum akhirnya melanjutkan menyantap makanan ku.


"A-Anu... Mira..." Raihan membuka mulutnya, berbicara pada ku dengan suara bergetar. "Maaf atas perkataan ku kemarin."


Aku mengunyah makanan yang ada di dalam mulut ku, menelannya, sebelum aku menjawab permintaan maaf Raihan. "Sudah ku bilang bukan? Tidak perlu di perbesar. Aku juga salah kemarin."


"Be-Begitu... Terima kasih Mira, telah membantu ku."


"Sekarang! Masalah telah selesai dengan cara damai!" Alexandria berkata dengan nada yang berbanding terbalik dengan sebelumnya, ia berbicara di penuhi dengan nada semangat dan ekspresi bahagia di wajahnya. "Setelah mengetahui masalah pada sihir Raihan, kita harus memikirkan rencana selanjutnya untuk benar-benar menyelesaikan masalah Raihan." Sambung Alexandria sebelum akhirnya ia melihat kearah ku.


Semua orang mengikuti mata Alexandria, melihat kearah ku dengan mata penuh harap.


Serius...? Setelah berbuat jahat pada ku, meminta maaf dengan ringannya, mereka masih meminta ku untuk memikirkan rencana lebih lanjut? Melihat perilaku mereka saat ini membuat ku berpikir mereka meminta maaf padaku hanya untuk mengambil keuntungan dari ku.


Tidak salah jika aku berpikir seperti itu saat ini.


Tapi tidak bisa di pungkiri, kalau akulah yang memulai semua rencana ini, jadi jelas mereka berpikir kalau aku juga telah memikirkan rencana final dari masalah Raihan.


Aku menghela nafas panjang sesaat aku menelan makanan ku. Memberikan jawaban untuk mereka.


"Tidak ada. Tidak ada lagi yang harus kita lakukan."


"Eeeeh...." Alexandria berkata dengan nada kecewa.


"Serius...? Setelah mendengar penjelasan ku kemarin kalian masih tidak tahu masalah utamanya? Masalah utama yang kita hadapi adalah kepala keluarga Adaka. Dialah sumber masalah dari ketidak sempurnaan sihir transformasi milik Raihan."


"Kalau begitu bagaimana kita harus menyelesaikan hal itu... Tunggu, jangan bilang..."


"Sepertinya kau sudah menduganya, Dani. Langkah selanjutnya benar-benar bergantung pada Raihan."

__ADS_1


__ADS_2