
Perbuatan ku yang menyerang Raihan sampai ia terluka parah tidak hanya mengagetkan Raihan dan Dani, tapi juga Alexandria dan Natasha.
Aku memang mengatakan pada Natasha dan Alexandria kalau aku akan berkelahi dengan Raihan pada saat sesi latihan selanjutnya. Aku juga memberitahu alasan ku untuk melakukan hal ini.
Alasan yang ku beritahu kepada mereka tidak lain adalah hasil hipotesa ku terhadap kondisi perubahan Raihan yang tidak biasa. Aku mencatat, saat Raihan menunjukkan perubahan yang tidak biasa itu, saat itu ia tengah melawan android, dan saat itu ia tengah di desak untuk membantu oleh Alexandria.
Jika di lihat dari dua situasi tersebut, dan juga jika mengingat bagaimana sifat Raihan, aku sampai pada suatu kesimpulan. Saat itu Raihan dalam kondisi yang benar-benar tertekan.
Itu benar. Menurut hipotesa ku, alasan Raihan menunjukkan perubahan yang tidak biasa karena ia dalam kondisi yang benar-benar tertekan.
Saat di cafe, sesaat Dani pergi, aku memberitahu Alexandria dan Natasha ingin melakukan suatu percobaan terhadap Raihan. Aku memberitahu mereka hipotesa mengenai kondisi perubahan Raihan hingga wujud perubahannya menjadi tidak biasa, setelah menjelaskan itu aku meminta bantuan mereka untuk menahan Dani sementara aku melawan Raihan untuk membuat mentalnya tertekan.
Sebagai sahabat Raihan, Dani mungkin akan menentang keras rencana ku ini. Dan jika aku tidak memberitahunya ia pasti akan kesal, dan segera menghentikan ku sebelum aku bisa mendesak Raihan untuk melakukan perubahan. Karena itu aku perlu bantuan Alexandria dan Natasha untuk membantu ku menahan Dani.
Aku memang memberitahu Alexandria dan Natasha semua hal itu. Tapi mereka sama sekali tidak menyangka kalau aku akan menyerang Raihan hingga melukainya dengan serius. Atas alasan inilah mereka terkejut saat melihat tombak api ku menusuk Raihan tepat di bagian vital.
Sehenarnya aku tidak menusuk bagian vital, aku melesetkan tusukan ku sedikit dari bagian vital. Tapi jika di lihat dari sudut pandang orang ketiga, jelas sekali kalau tombakku menusuk di bagian Vital.
"Apa yang kau lakukan pada sahabat ku brengsec!?" Dani yang berada di luar barrier berteriak kepadaku dengan wajah dipenuhi dengan emosi gelap.
"Kau tidak mendengarkan ku? Aku sudah muak melatihnya. Selama tiga minggu terakhir, dia sama sekali tidak menunjukkan perkembangan. Untuk membayar waktuku yang terbuang, aku ingin memberikan dia pelajaran." Kataku dengan ketus kepada Dani.
Mendengar perkataan ku, Dani semakin emosi. Aku melirik sebentar melihat kearah Raihan, ekspresi wajahnya menunjukkan wajah kesakitkan, tapi bukan hanya ekspresi kesakitan yang ada di wajahnya, tapi juga ekspresi sedih, marah, dan kecewa bercampur satu sama lain.
"Keparat kau..." Kata Dani mengutukku. Ia segera mengaktifkan sihirnya, membuat batang besar berukuran 15 meter, dengan batang itu ia segera mencambuk barrier yang ku buat. Tapi percuma, karena bahan yang ku gunakan untuk Barrier ku begitu keras dan bahkan memiliki sifat menahan getaran. Batang yang digunakan Dani untuk menyerang Barrier ku pun terpantul layaknya memukul benda elastis.
"Sial! Kenapa benda ini begitu keras!?" Kata Dani sembari terus menyerang Barrier ku.
Alexandria dan Natasha yang harusnya menghentikan Dani tidak bergerak sedikit pun. Mereka berdua kebingungan harus melakukan apa.
Bam! Bam! Bam!
Dani tidak menyerah untuk menyerang Barrier ku. Ia terus menggunakan batangnya, memukul Barrier ku. Tapi tentu saja itu tidak berguna. Suara bising pun dapat terdengar, suara yang di hasilkan oleh batang Dani yang terus memukul barrier ku.
Mengabaikan perbuatan tidak berguna yang di lakukan Dani. Aku menghadap Raihan sekali lagi.
"Apakah kau berubah pikiran sekarang?" Tanya ku.
Raihan tidak menjawab, aku menambahkan minyak ke api, dengan memprovokasi Raihan. "Ah... Benar juga, Dani pernah menceritakan pada ku. Kalau keluarga Adaka adalah keluarga yang dipenuhi oleh penyihir berbakat. Bahkan kedua kakak mu dapat menggunakan sihir saat masa kanak-kanak. Tapi... Apakah itu benar?"
Dani dan Raihan terkejut mendengar provokasi ku. Di antara mereka berdua, Dani yang paling terkejut. Ia tidak menduga kalau aku akan mengatakan cerita yang ia ceritakan pada hari sabtu kemarin tepat di depan Raihan itu sendiri. Ia tidak bisa berkata-kata, karena perjanjian kemarin adalah untuk tidak mengatakan ceritanya kepada orang asing, jadi apa yang kulakukan sekarang sama sekali tidak melanggar perjanjian. Karena pada dasarnya aku tidak menceritakan ceritanya pada orang asing, tapi pada sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Aku mengabaikan wajah terkejut Dani yang dapat kulihat dari ujung mata ku, aku menatap tajam kearah Raihan. Menunjukkan senyum paling jahat yang bisa ku buat di wajah ku. "Sekali lagi aku bertanya... Apakah itu benar Raihan? Kalau keluarga mu selalu melahirkan penyihir yang berbakat? Aku rasa itu tidak bisa dipercaya, melihat betapa tidak bergunanya dirimu."
"Mira! Aku pikir kau sudah berlebihan!" Alexandria yang harusnya berjanji untuk membantu ku, akhirnya memutuskan untuk membatalkan perjanjian yang ia buat dengan ku karena menganggap aku sudah terlalu berlebihan. Tanpa di minta oleh Dani pun ia segera menyerang Barrier ku, membantunya.
"Cih!" Tanpa sadar aku mendecakkan lidah ku.
Memang benar Barrier ku sangat kuat. Tapi bukan berarti kalau Barrier ku tidak bisa hancur. Jika mereka terus menyerang Barrier ku secara terus menerus seperti itu, dalam prakiraan waktu beberapa menit, suatu saat Barrier ku akan hancur.
"Natasha, bantu aku!" Teriak ku pada Natasha yang terdiam membeku di tempatnya.
Mendengar teriakan ku Natasha tersentak kaget, wajahnya bimbang. Ia bingung harus menuruti perintah ku atau tidak.
"Kau utang budi padaku Natasha. Sekarang saatnya untuk menolong ku!" Teriakku padanya.
"Eh... Uh... I-Iya." Dengan perasaan berat hati, Natasha mau tidak mau menolong ku. Ia dengan menggunakan sihir darahnya menciptakan rantai darah yang segera menahan Alexandria yang tidak sempat untuk menghindari rantai darah Natasha.
Tidak selesai sampai disitu, Natasha juga menggunakan rantai darahnya, berusaha untuk menangkap Dani. Tapi Dani segera menghindar, dengan wajah di penuhi amarah ia melihat kearah Natasha, melemparkan kata-kata kasar kepadanya.
"Ban***t kau! Kau membela orang jahat seperti dia!?"
"Ma-maaf... Aku berutang budi padanya."
"Jangan lakukan ini Natasha!" Alexandria yang terbaring di tanah dengan tubuh yang terlilit rantai berteriak kepada Natasha. "Jika kau membantunya, kau akan menyesal! Masih ada kesempatan untuk membantu kami!"
"Kau puas sekarang Mira? Memaksa teman mu seperti itu? Melukai teman mu? Kau puas sekarang!?" Teriak Dani kepadaku.
Aku menutup telinga ku, mencegah kata-kata jahat Dani untuk masuk kedalam.
Aku memperbarui Barrier ku, untuk membuatnya kedap udara, suara bising yang sebelumnya mengganggu pun seketika menghilang.
Aku melihat kearah Raihan yang masih tersungkur dengan lubang di dadanya. Karena aku menusuknya dengan tombak api, darah yang harusnya mengucur dari lubang di dadanya tidak keluar sama sekali. Itu dikarenakan darahnya membeku akibat panasnya tombak api. Aku sengaja melakukan hal itu untuk mencegah Raihan agar tidak kehilangan kesadaran.
"Cepatlah gunakan sihirmu." Kataku. "Jika terus seperti ini kau akan terluka parah."
Raihan melihat ku dengan mata yang mulai di penuhi dengan emosi. "Jika kau berharap aku tertangkap oleh pihak berwajib karena melukaimu dengan parah, aku rasa hal itu tidak akan terjadi. Karena jelas, mungkin saja keluarga mu akan membela ku, karena telah menghukum orang lemah seperti mu."
Mendengar perkataan ku itu, mata Raihan sudah di penuhi dengan emosi. Aku tidak tahu emosi apa yang tergambar di matanya itu. Tapi yang jelas, aku pikir sudah saatnya untuk memberikan sedikit dorongan lagi agar ia mau bertransformasi menggunakan sihirnya.
"Haaah... Aku rasa tidak ada gunanya terus berbicara ke orang tidak berguna seperti mu. Activated Number One: Fire Ball!"
Mengaktifkan sihir di nomor urut pertama, yaitu Fire Ball. Bola api berdiameter tiga meter, segera tercipta di depan telapak tangan ku. Aku segera melesatkan bola api itu kearah Raihan.
__ADS_1
"magic set. Transformation Magic!"
Di saat bersamaan bola api ciptaan ku melesat dengan kecepatan tinggi kearahnya, dia segera meneriakkan mantra sihirnya, seketika mengaktifkan sihirnya.
Akhirnya! Akhirnya ia mengaktifkan sihirnya!
Volume tubuh Raihan membesar seketika, tanduk berwarna hitam tumbuh di kepalanya, sebuah ekor lembu tumbuh di bagian belakang tubuhnya, yang mengejutkannya adalah luka yang ada didadanya sembuh seketika.
"Aaaaaakh... Moooo!"
Saat Raihan berubah sepenuhnya menjadi lembu. Ia segera menyeruduk bola api yang ku tembakkan padanya. Bola api itu melambung tinggi ke atas layaknya bola sepak yang di tanduk oleh pemain sepak bola professional.
Secara teori tidak mungkin ia bisa melakukan hal itu. Yang diseruduknya adalah bola api! Bola api! Bola api yang ukurannya berdiameter tiga meter dan memiliki panas yang kira-kira mencapai 250 derajat celcius!
Tidak mungkin seekor banteng yang besarnya hanya lima kali lipat banteng normal bisa melakukan itu.... Tunggu... Lima kali lipat...? Kalau tidak salah Alexandria mengatakan....
Memastikan suatu hal, aku menghilangkan fungsi kedap suara dari Barrier ku. Seketika aku menghilangkan fungsi itu, suara bising langsung menyambar ketelinga ku.
Aku mengabaikan hal itu, aku segera berteriak dengan sekencang mungkin kepada Alexandria.
"Alexandria! Apakah ukuran perubahan Raihan sama seperti perubahannya saat melawan android!?"
"Tentu saja tidak sama dasar bodoh! Ukurannya lebih besar dari saat itu! Saat melawan android, Raihan hanya memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari banteng normal!" Teriak Alexandria dengan panik kedapaku.
Jadi begitu ya...
Aku melihat kearah Raihan, ia bersiap-siap menyerudukku, dengan menggosok-gosokkan telapak kaki belakangnya ketanah beberapa kali sambil mengarahkan tanduknya yang besar dan memiliki ujung tajam kearah ku.
Dari sini hipotesa ku benar. Alasan mengapa perubahan wujud Raihan yang tidak biasa itu ada hubungannya dengan kondisi mentalnya. Dan mengapa sekarang ukuran tubuhnya lebih besar, jawabannya simple, saat ini seluruh emosi yang di pendamnya sejak lama sudah tidak dapat terbendung lagi. Membuat sel mutasinya memproses emosi itu dan merubah Raihan menjadi lebih ganas.
Tapi aku sudah menduga semua hal itu. Tidak ada yang berubah. Yang harus kulakukan adalah membuatnya tidak sadarkan diri.
Mau sekuat apapun Raihan, ia tidak mungkin bisa menghancurkan Barrier ku. Barrier ku yang terbuat dari benda yang lebih keras dari baja, lebih tipis dari kertas, lebih ringan dari bulu, dan memiliki fungsi penghantar energi dengan baik, lalu dapat menyerap getaran. Barrier yang ku buat saat ini lumayan besar, sehingga bahan material dari benda itu sangat tipis.
Benda yang sangat tipis itu saja mampu menahan serangan Dani secara beruntun, apalagi benda yang sangat tipis itu ku buat lebih tebal. Sudah jelas jawabannya aku dapat menciptakan Barrier yang hampir mustahil untuk di hancurkan.
Lalu... Apa benda yang begitu kuat itu... Benda apa yang ada di dunia ini yang memiliki sifat yang seperti itu...
Benda itu kenyataannya ada di dekat kita. Ada di lapisan tipis dari Graphit, ujung pensil yang selalu kita gunakan. Itu benar. Benda itu bernama....
"Activated Number Nine: Barrier Graphine!"
__ADS_1
Itu benar. Benda itu bernama Graphine.