My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 32 Mencari Informasi


__ADS_3

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sudah dua minggu berlalu semenjak kami memutuskan untuk membantu Raihan.


Dalam kurun waktu itu, kami di waktu kosong ataupun istirahat, melakukan percobaan demi percobaan dengan sihir Raihan. Selama waktu dua minggu ini, aku benar-benar memutar otakku untuk mencari jawaban mengenai keanehan yang terjadi saat Raihan menggunakan sihirnya sewaktu melawan Android beberapa minggu yang lalu.


Tidak banyak hipotesa yang bisa kubuat dari hasil percobaan itu. Setidaknya aku mendapatkan beberapa yang mungkin salah satunya memberikan jawaban yang pasti atas masalah itu. Selagi aku memikirkan hal itu, kawan-kawan sekelasku yang lain juga berusaha membantu Raihan dalam mengatasi masalahnya, yaitu mengendalikan energi sihirnya. Walaupun aku mengatakan kawan-kawan, yang benar-benar membantu Raihan dalam mengendalikan energi sihirnya hanyalah Alexandria, yang secara hasil waktu praktek dia adalah yang terbaik kedua setelah ku.


Untuk latihan mengendalikan energi sihir yang Alexandria ajarkan kepada Raihan sama seperti yang diajarkan oleh guru Robert, yaitu menggunakan sihir dasar sebagai media.


Tapi latihan yang kami lakukan kepada Raihan seperti tidak membuahkan hasil. Karena dalam waktu dua minggu ini, ia sama sekali tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Mentok-mentok hanya berhasil membuat bola air. Yah, itu bisa kami wajarkan, karena baru dua minggu ia latihan seperti ini, tentu saja ia tidak akan menunjukkan perkembangan yang berati. Jika pada kasus sebelumnya, dimana ia tidak bisa menciptakan bola air dikarenakan kesalahan saat input Particle Carlania, saat ini Raihan telah mengatasi masalah itu, ia dapat menciptakan bola air dengan baik. Untuk tahap selanjutnya, nampaknya ia kesusahan, dimana ia tidak bisa mengendalikan bola air saat di lesatkan ke udara. Tahap selanjutnya, tentu saja masuk pada permasalahan inti, yaitu mengendalikan energi sihir.


"Kita istirahat sebentar." Kata Alexandria kepada Raihan yang telah kelelahan. Keringatnya memenuhi dahinya dan nafasnya sudah tersengal-sengal. Pembelajaran mengendalikan energi sihir bisa lebih melelahkan daripada berlari seratus meter sebanyak 5 kali putaran. Jadi wajar kalau dia kelelahan.


Hari ini hari Rabu, jam pelajaran ketiga. Bisa dikatakan ini adalah jam khusus untuk kelas A, melakukan pelajaran mandiri. Jadi kami memiliki banyak waktu sampai kelas siang untuk melatih Raihan. Jangka waktu ia latihan adalah 15 menit, lalu istirahat selama 5 menit. Siklus itu kami ulang saat melatih Raihan, selama satu jam waktu pelatihan.


"Bagaimana?" Tanya ku pada Alexandria yang berjalan mendekati ku saat waktu peristirahatan.

__ADS_1


"Sejujurnya aku senang dalam waktu tiga hari pertama kita melatihnya. Dalam kurun waktu itu ia telah bisa membuat bola air dengan sempurna. Tapi setelahnya..."


"Tidak ada perkembangan?"


"Mmm.." Angguk Alexandria atas pertanyaan ku dengan wajah kecewa.


Kenapa Raihan begitu buruk dalam mengendalikan energi sihir? Semakin kami melatihnya semakin banyak misteri yang kami jumpai. Pasti ada sesuatu yang kulewatkan disini, sesuatu yang begitu krusial... Sesuatu yang menjadi akar permasalahan kami.


***


Beberapa hari kemudian, di hari sabtu. Di sebuah kafe.


Setelah berpikir selama beberapa hari terakhir, aku menemukan jawaban yang hilang dari masalah Raihan. Aku tidak mengetahui apapun tentang keluarganya.


Yang kutahu hanyalah, layaknya semua keluarga penyihir kelas atas, keluarga Raihan memiliki peraturan yang ketat dalam keluarga mereka. Tapi itu adalah masalah umum yang dapat di temui di keluarga penyihir kelas atas lainnya, untuk masalah keluarga Raihan sendiri, aku beranggapan kalau ia memiliki masalah khusus dalam keluarganya.

__ADS_1


Atas alasan itu aku ingin menggali informasi lebih lanjut mengenai hubungan Raihan dengan keluarganya, bagaimana motto keluarganya, dan juga bagaimana keluarga Raihan memperlakukan dirinya. Tapi karena tidak mungkinnya aku menanyai hal yang begitu krusial itu kepada Raihan, aku pun memilih untuk bertanya ke orang yang mengenal Raihan begitu lama. Itu benar. Hanya ada satu orang yang dekat dengannya, yaitu Dani. Sahabat Raihan.


"Sebenarnya... Aku tidak ingin membahas mengenai keluarga Raihan tanpa seizinnya. Tapi jika ini memang penting untuk latihan sihirnya, aku akan memberitahu kalian, selama kalian bisa menyimpan rahasia ini dari siapapun."


Pelayan cafe membawakan kami hidangan yang kami pesan. Aku memesan shortcake dengan minuman coklat panas, Natasha memesan muffin cake dengan capuccino, Alexandria memesan pancake dengan kopi hitam, lalu Dani memesan makanan berat yaitu pasta dengan jus buah manga. Masing-masing dari kami menyantap makanan kami sesuap, setelah itu barulah Dani berbicara mengenai syarat agar ia memberikan informasi tentang keluarga Raihan. Untung syarat yang diberikan Dani tidak terlalu berat, hanya menginstruksikan kami untuk tidak menceritakan apapun yang kami bicarakan ini kepada siapapun.


Kami setuju dengan syarat Dani. Ia memakan pastanya beberapa suap, mencuci mulutnya dengan jus mangga sebelum akhirnya ia berbicara mengenai keluarga Raihan.


"Keluarga Adaka, adalah keluarga kelas atas dalam dunia persihiran di negara ini. Dalam kurun waktu puluhan tahun, semenjak keluarga itu terbentuk, keluarga Adaka telah melahirkan banyak penyihir berbakat. Salah satu contohnya ayah Raihan, yang mantan pejabat tinggi negara, dan bakat itu sekarang diturunkan kepada dua kakak Raihan. Yang sedari kecil dapat menggunakan sihir yang di wariskan. Mereka juga mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Kakak pertamanya mendapatkan posisi di pemerintahan, kakak keduanya menjadi peneliti di bidang teknologi...."


Dani menambahkan penjelasannya, keluar Adaka memiliki motto 'kekuatan.' artinya, keluarga Adaka menjunjung tinggi kekuatan yang mereka miliki, tidak mentolerir orang lemah dalam keluarga mereka. Sejak kecil, Raihan telah dilatih oleh keluarganya dengan keras untuk memoles Raihan menjadi seorang pria yang sesuai dengan motto itu. Seharusnya latihan anak laki-laki keluarga Adaka hanya berfokus pada latihan fisik, dan latihan mental saat masih kanak-kanak, untuk sihir sendiri seharusnya di pelajari sewaktu anak laki-laki keluarga Adaka menginjak usia remaja.


Tapi semenjak kakak Raihan, anak yang berbakat dengan sihir, dan telah menguasai sihir semenjak usia yang masih belia, merubah sistem pelatihan keluarga Adaka ini. Ayah Raihan, melihat Raihan memiliki bakat yang sama seperti kakaknya dalam bidang sihir. Karena itu sewaktu masih kecil, Raihan telah di latih dengan cara berbeda seperti anak-anak dari generasi sebelumnya. Ia sudah di latih cara menggunakan sihir sewaktu masih kanak-kanak, ayah Raihan juga tidak luput dari melatih fisik dan mental Raihan. Tapi ada batasan yang dapat di raih seorang anak kecil, Raihan kecil tidak bisa mengikuti semua pelatihan itu. Pelatihan keras yang harusnya memberikan hasil positif, malah memberikan hasil negatif untuk Raihan.


"Seperti yang kalian duga. Raihan yang tidak bisa mengikuti semua pelatihan itu, sering sakit-sakitan. Di tambah dirinya yang tidak bisa menggunakan sihir sewaktu kecil, membuatnya sering dijadikan bahan perbandingan dengan kedua kakaknya. Hal ini membuat Raihan memiliki kondisi yang buruk, baik secara fisik maupun mental."

__ADS_1


Sebenarnya Raihan memiliki bakat yang tidak kalah hebat dari kedua kakaknya. Tapi karena didikan yang salah dari orang tuanya, ia tidak bisa mengembangkan bakatnya itu. Di tambah orang tua Raihan yang mengharapkan Raihan menjadi seseorang yang sama seperti kedua kakaknya, semakin membuat bakat Raihan semakin terpendam.


"Terima kasih traktirannya Mira. Ingat, jangan ceritakan hal yang telah ku beritahu kepada orang lain." Dani telah menghabiskan makanannya, ia juga telah menceritakan mengenai keluarga Raihan, membuatnya tidak ada alasan lain untuk berdiam diri di cafe ini bersama ketiga gadis. Danipun beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar cafe, meninggalkan aku, Natasha dan Alexandria.


__ADS_2