
"Aku tidak terima... Munch... Munch... Munch..."
"Sluuuurp... Setuju... Jelas kita di curangi... Sluuurp...."
Saat ini murid kelas A berada di kantin sekolah, setengah jam lebih terlewati semenjak kami kalah dalam permainan rebut bendera, saat ini pukul sepuluh tepat, pelajaran praktek sihir yang di rencanakan mengambil waktu tiga kali mata pelajaran berakhir lebih cepat dari rencana awal. Karena itu kami pun mendapat waktu istirahat lebih cepat dari jadwal.
Pelajaran praktek sihir sendiri selesai tiga puluh menit yang lalu. Guru Robert tidak mendengarkan protes kami, ia bahkan tidak repot-repot menjelaskan mengapa bisa kami kalah, yang ia lakukan hanya melemparkan sebuah device kepada kami dan menyuruh kami untuk membersihkan diri di kamar mandi akademi.
Mengejutkan nya, akademi ini memiliki kamar mandi di kelas kami, lebih tepat nya di ruang ganti yang tersembunyi di balik kulkas di kelas kami. Kamar mandi yang di sediakan hanya cukup untuk satu orang di masing-masing ruang ganti. Karena itu, aku, Natasha, dan Alexandria bergantian menggunakan kamar mandi itu untuk membersihkan diri, membuat kami menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk selesai mandi dan berganti pakaian ke seragam kami.
Karena menghabiskan banyak tenaga akibat pertandingan intens yang kami lakukan sebelum nya, perut kami keroncongan, kami memutuskan untuk pergi kekantin.
Dan sampailah kami ke waktu sekarang...
Alexandria dengan wajah cemberut mengeluhkan kekalahan kami sembari mengunyah makanan nya dengan kasar.
Keluhan itu di sambung oleh Dani yang dengan kasar menghisap teh es nya sembari menuduh Guru Robert telah mencurangi kami.
"Glup... Ah. Aku setuju dengan itu... Dan juga dia tidak becus jadi operator Drone! Dia menunjukkan peta kepada kita hanya di lima menit pertama! Setelah itu... Saaaamaaaa sekali tidak ada lagi ia menunjukkan peta pada kita!" Alexandria menelan makanan nya, sebelum akhir nya mengeluarkan uneg-uneg di kepala nya melalui mulut nya, mengoceh dengan cepat di sertai wajah kesal kepada kami semua yang duduk semeja dengan nya.
"Apakah perlu?" Tanya ku dengan tenang.
"Hah?"
"Apakah perlu menunjukkan peta lagi pada kita? Tim yang ada di arena hanya dua. Dan juga masing-masing dari kita sedang bertarung. Dari dua situasi ini aku tidak menemukan alasan perlu nya pak Robert menunjukkan peta pada kita."
"...."
"...."
Dani dan Alexandria terdiam mendengar alasan logis dari ku. Tapi mereka masih tidak mau menerima kekalahan, akhirnya mereka sekali lagi melontarkan alasan tidak logis, dengan menyalahkan orang lain.
"Ini salah Pak Robert! Kenapa dia tidak memberitahu peraturan dari awal!" Teriak Alexandria. "Dan juga ini salah mu Raihan! Coba kau bantu aku dari awal, kita pasti tidak akan kalah!" Sambung nya sambil menunjuk Raihan yang duduk di seberang nya.
Raihan yang dari tadi diam menyantap makanan nya, tersentak kaget saat di tunjuk oleh Alexandria, ia menundukkan kepala nya dengan wajah sedih sekaligus malu. Ia sadar akan kesalahan nya karena itu ia tidak marah saat di jadikan lampiasan kekesalan oleh Alexandria.
Dani yang duduk di samping Raihan berbanding terbalik dengan nya, ia tidak terima kawan nya di jadikan samsak kekesalan oleh Alexandria. Dengan wajah terganggu, alis nya sedikit mengkerut, Dani pun membalas perkataan Alexandria dengan suara di penuhi kekesalan.
"Tidak! ini salah mu! Coba saja gerak mu bisa lebih cepat saat merebut bendera, kita pasti tidak akan kalah!"
"Haaaah...? Kau menyalahkan ku... Kalau di ingat lagi, ini salah mu Dani! Coba saja kau bisa bersabar dan bergerak dengan mengendap-endap, dan tidak dengan sok jago membuat pohon besar itu! Kita pasti tidak akan kalah!" Kalau di ingat-ingat lagi, awal kekacauan dari pergerakan kami memang berawal dari keputusan Dani untuk menarik perhatian musuh.
Dani juga sepenuh nya sadar akan hal itu, wajah nya sempat tertekan saat Alexandria membawa point itu ke depan wajah nya, tapi mungkin karena harga diri nya, dan tidak ingin di salahkan sepenuh nya oleh Alexandria, dia pun membalas perkataan Alexandria dengan nada tinggi di penuhi dengan amarah.
"Asal kau tahu ya... Jika aku tidak melakukan itu, kita tidak akan pernah tahu kalau musuh memiliki jumlah lebih dari lima! Justru berkat akulah kita mengetahui jumlah musuh!"
Dani benar. Alasan itu cukup logis, tapi Alexandria tidak terima alasan itu. Ia memutar otak nya lagi, mencari hal yang dapat di salahkan dari kawan setim nya.
"Tidak... Jelas sekali kau salah langkah di situ! Dan juga kau sok memerintahkan kami pergi ke markas musuh dengan informasi yang begitu sedikit! Karena kaulah aku dan Raihan terjebak melawan empat Android sekaligus!"
"Lalu kau mau saja menuruti perintah ku!? Dan untuk hal melawan empat android sekaligus, aku juga sama dengan kalian!"
"Ka-kawan sebaik nya kita hentikan pertengkaran ini..." Melihat Alexandria yang ingin membalas perkataan Dani lagi, dan mungkin akan membuat suasana menjadi lebih buruk, Natasha yang duduk di samping Alexandria menahan nya, menengahi situasi.
__ADS_1
"Dan kau juga salah di sini Natasha," Entah kenapa Alexandria malah memindahkan sasaran nya ke Natasha. "Coba saja kau dan Mira tidak memutuskan membantu Dani, kita pasti tidak kecolongan!"
"Kau menyalahkan ku!? Lagipula tidak ada yang tahu kenapa kita bisa kecolongan! Dan kau menyalahkan ku sekarang!?"
"Alexandria benar... Coba kau atau Mira tinggal di markas untuk jaga bendera, kita tidak mungkin kalah." Bahkan Dani pun ikut menyalahkan Natasha.
"Eeeeh... Sekarang kau malah ikut menyalahkan ku!? Aku tidak salah di sini! Kalian berdualah yang salah di sini! Kalian semua bergerak terlalu gegabah, kalian bahkan tidak mau repot-repot berdiskusi saat awal pertandingan!"
"Yang mengusulkan hal itu Mira! Dialah yang salah!" Dani dan Alexandria secara bersamaan menunjuk ku.
"...." Aku tidak menanggapi mereka, melanjutkan menyantap makanan ku dengan tenang. Seperti hari pertama, aku memilih untuk diam sambil menyantap makanan ku. Alhasil, saat mereka berdebat seperti ini, aku hendak selesai menghabiskan makanan ku. Saat mereka menyalahkan ku, aku sudah pada suapan terakhir.
Selesai meyantap makanan ku, aku meminum jus buah ku.
Dani dan Alexandria yang menyaksikan ku seperti itu makin naik pitam. Dengan wajah merah seperti tomat di sertai raut wajah yang seram layak nya iblis yang baru keluar dari neraka, mereka berteriak pada ku.
"Katakan sesuatu!"
"Tanpa kalian beritahu pun, aku sudah tahu dimana kesalahan ku. Tapi tidak ada gunanya melihat kesalahan itu sekarang, yang harus kita lakukan sekarang adalah berusaha untuk tidak membiarkan kesalahan yang sama terulang sekali lagi... Dan jika kalian masih punya otak untuk mencari kesalahan orang lain, lebih baik otak itu kalian gunakan untuk melihat kesalahan kalian sendiri. Dengan begitu, kalian bisa mengevaluasi kesalahan kalian dan memikirkan cara untuk memperbaiki nya di masa depan."
"...."
"...."
"...."
"...."
"Maaf... Kalian pasti tahu, aku sangat menjunjung motto keluarga ku. Jadi aku sangat kesal atas kekalahan ini."
"Aku juga minta maaf. Aku tahu aku bertindak gegabah dan tidak mendiskusikan rencana bersama kalian sebelum nya." Sambung Dani.
Raihan pun juga ikut meminta maaf. "Aku juga. Andai saja aku lebih baik dalam mengendalikan sihir ku, aku pasti tidak akan kehilangan kendali."
"Bagus kalau kalian sadar akan kesalahan masing-masing. Kesalahan bukanlah akhir, tapi itu adalah awal untuk menjadi lebih baik lagi." Kata ku kepada mereka dengan senyum kecil.
Dengan suasana yang membaik, mereka berempat pun dapat meyambung menyantap makanan mereka dengan tenang.
Setelah semua orang selesai menyantap makanan nya, aku mengeluarkan device yang di berikan oleh Guru Robert kepada kami dari kantung ku.
Saat guru Robert mengabaikan protes kami dan melemparkan Device ini, Alexandria yang menangkap device ini, lalu membuang nya sebelum akhir nya aku memungut device ini, Alexandria pada saat itu terus saja memprotes ke Guru Robert, benar-benar tidak peduli dengan Device ini.
Tapi tidak mungkin guru Robert memberikan Device ini tanpa alasan yang jelas. Karena itu aku terus menyimpan Device ini.
Aku memeriksa device ini dari berbagai sisi, sampai aku menemukan sesuatu yang nampak seperti sebuah tombol di samping device ini. Memencet tombol itu, device yang ku pegang mengeluarkan cahaya sebelum akhir nya cahaya itu berubah menjadi sebuah hologram, yang menampilkan gambar android yang aku, Dani dan Natasha lawan.
Nampak nya gambar itu membuat teman sekelas ku penasaran, kami berlima pun dengan seksama memperhatikan gambar itu.
Walaupun gambar itu hanya menunjukkan sebuah android yang tidak bergerak, aku tahu kalau yang ku saksikan saat ini bukanlah gambar statis, gambar yang ku lihat saat ini adalah gambar gerak! Hal ini terbukti saat gambar itu menunjukkan sebuah daun yang melayang tertiup angin melewati android yang tersungkur itu.
"Sebuah Video?" Gumam Natasha.
"Untuk apa Pak Robert menunjukkan ini?" Kata Dani kebingungan.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu pasti alasan dari guru robert menunjukkan gambar ini, atau lebih tepat nya video ini. Video yang kami lihat sama sekali tidak mengeluarkan suara, di tambah video yang kami lihat hanya menunjukkan sebuah android yang diam terbaring di tanah, membuat kami mengira kalau yang kami lihat hanyalah sebuah gambar bukanlah video.
Selama lebih dari tiga puluh detik, video hanya menunjukkan gambar yang sama, sebelum akhir nya video itu menunjukkan perubahan.
"Ada yang datang!" Kata Raihan.
"Tidak mungkin..." Kata Natasha dengan kaget.
Yang datang mendekati android yang terbaring di lantai adalah android yang sama dengan yang terbaring itu. Penampilan, tinggi badan, dan wajah nya benar-benar sama! Itu artinya...
"Doppleganger..." Guman ku dengan nada datar
Itu benar. Yang datang mendekati android yang tidak sadarkan diri itu adalah doppleganger nya sendiri.
"Benar juga, kau mengatakan batas maksimal tiruan yang bisa di buat adalah empat orang, yang jadi pertanyaan di sini adalah: Apakah mungkin, untuk mengendalikan doppleganger dalam keadaan tidak sadar?" Tanya Natasha pada ku.
"Tentu saja tidak. Semua sihir akan otomatis tidak aktif jika pengguna tidak sadarkan diri."
Sama seperti Raihan yang akan kembali ke wujud manusia nya saat ia pingsan, itu menandakan sihir transformation nya secara otomatis tidak aktif. Sihir Doppleganger pun juga seperti itu. Jika pengguna tidak sadarkan diri, sihir otomatis akan batal, tiruan yang tersisa akan hancur. Ini adalah pengetahuan umum. Kalau begitu... Bagaimana bisa tiruan dari lawan kami masih belum hancur.
Apakah mungkin semua lawan kami adalah tiruan...? Tapi itu juga tidak mungkin, buktinya ia tidak hancur saat ku nonaktifkan. Menonaktifkan android sama seperti membunuh manusia, jika memang tiruan yang kami lawan adalah tiruan ia akan menghilang sesaat aku menonaktifkan nya.
Saat kebingungan kami sampai pada puncak nya, video yang kami lihat memberikan jawaban atas kebingungan kami.
Tiruan android itu mengaktifkan android yang terbaring di tanah. Android yang sudah aktif itu pun Berdiri tegak layak nya tidak terjadi apa-apa. Saat ia berdiri inilah, semua kebingungan kami terjawab.
Ia membuka rambut biru yang menutupi kepala nya, ini bukan kiasan, android itu secara harfiah membuka rambut biru yang menutupi kepala nya. Mengungkapkan apa yang tersembunyi di balik rambut biru nya itu. Ada sebuah jaring di atas kepala android itu, membuka nya sama seperti rambut biru nya, jaring itu menyibak rambut panjang berwarna hitam pekat yang segera berkibar tertiup angin.
Jadi sedari awal yang kami lawan bukanlah Android berambut biru bernama Epsilon, tapi android berambut hitam panjang yang bernama Alpha, ia menggunakan wig untuk menyamar. Postur tubuh nya yang sama dengan android bernama epsilon benar-benar menipu kami. Kalau begitu android yang mirip alpha yang di tahan oleh Dani saat sampai di markas mereka adalah Epsilon! Dan dari awal mereka memang menguasai sihir tingkat dasar dengan baik!
Dari awal jarak pisah mereka memang bukanlah 7 meter, mereka sengaja untuk tidak berpisah dengan jarak seperti itu untuk menipu kami dan membuat kami berspekulasi kalau mereka tidak menguasai sihir tingkat dasar layak nya manusia pada umum nya.
"Pantas saja android di depan pintu tidak banyak bergerak. Dia fokus mengendalikan tiruan nya!" Kata Alexandria dengan kesal.
Semua jadi jelas sekarang...
Video tidak berhenti sampai di situ, video terus berlanjut menunjukkan android bernama Alpha di sertai dengan tiruan Epsilon pergi ke markas kami. Dengan peta yang telah di beritahu, dan tidak ada penjaga di sana, jelas sekali mengapa ia bisa dengan mudah menemukan markas kami dan merebut bendera dari sana.
"Apakah kalian tidak menyediakan jebakan di markas?" Tanya Dani.
"Kau pikir kami akan sebodoh itu?" Balas Natasha dengan bertanya balik.
Sudah tentu kami menyiapkan jebakan di markas, kami tidak bodoh sampai-sampai membiarkan markas yang tidak ada orang itu kosong tanpa adanya jebakan. Saat kedua android itu sampai ke markas kami, tiruan epsilon tanpa ragu sedikit pun masuk ke markas kami.
Saat kamera mengikuti di belakang tiruan epsilon yang masuk ke markas kami, video menunjukkan tiruan epsilon yang secara brutal mengaktifkan semua jebakan membuat nya tidak dapat bertahan kurang dari satu menit. Aku melirik sebentar ke wajah kawan-kawan ku, aku bisa melihat mereka mengeluarkan ekspresi ngeri saat mengetahui seberapa brutal nya jebakan yang aku dan Natasha siapkan. Tapi semua itu percuma, jebakan kami benar-benar tidak berguna sekarang.
Saat semua jebakan sudah aktif, Alpha pun masuk ke markas kami. Mengambil bendera tiruan yang aku ciptakan, menginspeksi bendera itu satu persatu dengan teliti, Alpha tahu kalau tidak ada bendera asli di markas kami. Ia mengitari markas kami sebentar hingga akhirnya ia menemukan ruang bawah tanah tempat kami menyimpan bendera yang asli. Karena terlalu yakin dengan jebakan sebelum nya dan tipuan bendera yang aku dan Natasha buat, kami berdua sampai lengah tidak menambahkan jebakan di ruang bawah tanah. Alhasil bendera kami pun dengan mudah di ambil oleh android bernama Alpha itu.
Setelah melihat video ini, kami tidak bisa mengeluh lagi. Kami tidak bisa beralasan lagi. Kekalahan ini benar-benar murni kesalahan kami.
Kurang informasi musuh, bertindak gegabah, di tipu oleh taktik musuh, kurang informasi mengenai kawan sendiri, dan terlalu percaya diri akan diri sendiri dan kurang nya diskusi. Jika di urutkan, memang banyak kesalahan kami, yang akhirnya memberikan efek domino, menyebabkan kekalahan kami yang begitu pahit.
"Haaah... Kita benar-benar kalah telak..." Kata ku setelah menghela nafas panjang.
__ADS_1