My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 65 Babak pertama Turnamen Part VI : Melawan Reiko Kagami Part I


__ADS_3

Aku berdiri di tengah Arena, didepan ku sudah ada lawan ku. Seorang gadis berambut hitam panjang, yang tersenyum sombong saat melihat ku. Gadis yang ku lawan adalah, salah seorang yang ku waspadai pada turnamen kali ini, murid dari kelas B, sekaligus ketua dari kelasnya, Reiko Kagami.


Aku melihat gadis berambut hitam itu, Reiko Kagami, dari ujung kaki sampai ujung kepala, dengan tatapan menginspeksi.


"Hmm...?"


Mataku segera tertuju pada pergelangan tangan kirinya. Ia menggunakan sebuah gelang berwarna perak, terdapat lampu LED berwarna hijau yang menyala-nyala di gelangnya.


Walaupun baru pertama kali melihatnya, aku segera bisa menebak fungsi dari gelang yang digunakannya itu.


"Pertandingan dimulai!"


Saat pembawa acara mengucapkan hal itu, diikuti dengan suara lonceng yang dipukul, lalu disertai dengan sorakan penonton, gadis yang menjadi lawan ku, segera menjulurkan tangan kirinya.


"Saksikanlah! Sihir hebat milikku!" Ucap Reiko, dengan nada sombong lagi meremehkan. "Magic Set-"


"Magic Set. Bubble!"


Belum selesai Reiko merapalkan mantranya, memasukkan program pada Partikel Carlania, aku sudah selesai memasukkan program terlebih dahulu, merapalkan mantra pengaktifan sihir.


Merespon dari program yang ku masukkan, Partikel Carlania yang telah ku kumpulkan di telapak tangan ku merespon, menciptakan balon air berukuran kecil dalam jumlah banyak.


Balon air berukuran kecil itu sudah kucampurkan dengan cairan asam, yang akan berbahaya apabila terkena kulit. Buih-buih kecil dapat terlihat didalam balon air transparan yang kuciptakan.


Balon-balon yang kuciptakan segera melesat kearah Reiko dengan kecepatan 10 meter perdetik.


"Apa!?" Reiko menjerit, dengan ekspresi terkejut. Terlepas dari itu, ia segera menghindari lintasan dari balon-balon air yang melesat kearahnya.


"Itu curang! Aku belum mengaktifkan sihir-"

__ADS_1


"Magic Set. Fireball!"


Saat Reiko berteriak memperotes aksiku yang menghentikannya untuk mengaktifkan sihir. Aku mengabaikannya, mengaktifkan sihir lain. Kali ini aku menciptakan bola api berukuran sama dengan balon air yang ku ciptakan. Dengan kecepatan yang sama pula, bola api itu melesat kearah Reiko.


"Tunggu biarkan aku-"


Saat Reiko ingin melanjutkan protesnya, perkataannya terpotong untuk yang ketiga kalinya. Hal ini dikarenakan serangan proyektil ku yang berupa bola api kecil dalam jumlah banyak melesat kearahnya, menyebabkannya tidak sempat untuk menyelesaikan perkataannya.


"Kyaaa!"


Reiko menjerit. Menghindari lintasan bola api ku dengan panik.


Karena kali ini yang kuciptakan adalah api, hawa panas yang terpancar dari api itu membuatnya panik. Walaupun dalam ukuran kecil, tapi jumlah yang ku tembakkan cukup banyak. Kurang lebih ada dua puluh buah. Mungkin karena inilah, Reiko bisa merasakan hawa panas dari bola api yang ku tembakkan padanya.


"Aaaakh! Sekarang aku kesal! Aku akan- tunggu! Biarkan aku selesai bicara!"


"Magic set. Stone Sphere!"


Sebenarnya waktu untuk mengaktifkan setiap sihir itu sama. Tidak peduli apapun sihirnya. Hal ini juga berlaku untuk sihir Summoning milik Reiko.


Hanya saja, Reiko memiliki kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk, yang dihasilkan dari sifat sombongnya.


Sehari sebelum turnamen ini berlangsung, aku memeriksa beberapa video Reiko yang mendemonstrasikan sihir pemanggilannya. Dari setiap video yang ku tonton, aku menemukan suatu pola.


Reiko Kagami, memiliki kebiasaan sebelum mengaktifkan sihir untuk selalu berceloteh, menyombongkan dirinya sebelum ia mengaktifkan sihirnya.


Semua lawan yang Reiko lawan, mungkin karena penasaran dengan sihir Summoning miliknya atau mungkin juga karena ada alasan lain, selalu membiarkan Reiko menyelesaikan celotehannya... Entah apa yang mereka pikirkan... Padahal kalau Reiko sudah mengaktifkan sihirnya, akan sulit untuk menemukan celah, satu-satunya celah yang dapat dieksploitasi dari Reiko adalah sifat sombongnya yang melahirkan kebiasaan buruknya sebelum ia mengaktifkan sihirnya.


"Magic Set. Waterfall!"

__ADS_1


"Hiiih!"


Aku tidak membiarkan Reiko untuk merapalkan mantranya. Aku menggunakan partikel Carlania untuk menciptakan air setinggi 5 meter diatas tanah, air yang kuciptakan berjumlah banyak. Mengikuti hukum gravitasi, air yang kuciptakan segera jatuh ketanah, menyembur dengan deras layaknya air terjun.


Reiko, menghindari dengan melompat kesamping, menghindari air terjun buatan yang kuciptakan. Ia menjerit dengan wajah panik saat menghindar.


"Waterfall! Waterfall! Waterfall! Waterfall! Waterfall! Waterfall!"


Wuush! Wuush! Wuush! Wuush! Wuush! Wuush! Wuush! Wuush!


Aku mengaktifkan sihir air dengan beruntun. Air terjun yang kuciptakan terus jatuh dari atas langit, mengejar Reiko yang dari tadi terus menghindar dengan putus asa. Tanah arena mulai berubah warna dikarenakan sudah bercampur air, genangan air dimana-mana, karena air yang ku buat lumayan banyak. Sekitar 70 liter.


Uugh... Nampaknya dampak dari multitasking saat mengobati Dani sebelumnya baru terasa. Stamina ku mulai habis, juga kepala ku mulai mengalami migrain karena terus mengaktifkan sihir secara beruntun.


"Huuft..." Aku menghela nafas dengan bisu, mengistirahatkan otakku, aku berhenti menggunakan sihir untuk sementara.


"Aaakh... Saatnya aku menyerang! Saksikanlah sihirku-"


"Magic set. Stone Bullet!"


"Hiiih!"


Aku menciptakan sebuah batu tajam yang berbentuk layaknya peluru. Karena ukurannya yang kecil, batu kecil yang berbentuk peluru itu melesat dengan tinggi, yaitu 300 meter perjam.


Untungnya, Reiko juga mengalami evolusi, membuatnya dapat menghindari batu runcing yang kutembakkan kearahnya. Tapi nampaknya ia tidak menghindari serangan ku dengan bersih, terdapat goresan di pipinya. Dan goresan itu cukup parah, darah dalam jumlah besar bercucuran dari luka di pipinya.


Wajah sombong Reiko seketika berubah, ia memegang pipinya yang luka, melihat darah yang tertempel ditelapak tangannya dengan ekspresi horor. Tentu saja air mukanya berubah drastis. Wajahnya pucat pasi.


Mungkin karena sudah terdesak, Reiko meninggalkan semua ocehan sombongnya, dengan cepat, ia mengaktfkan sihir kebanggannya.

__ADS_1


"Magic Set. Summon: Lion, Panther and Tiger!"


__ADS_2