My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 81 Konfrontasi dengan kelas B


__ADS_3

Hans Krüger sampai ke distrik industri sebelum anggota kelas A datang, menandakan kalau lari Hans sangatlah cepat, sayangnya sesaat ia sampai sana, ia tidak melihat kelompok Kahraman yang pergi meninggalkan pabrik, membuatnya kehilangan informasi penting.


Ia saat ini berada di atap sebuah gedung, 20 meter dari markas kelas C. Hans melihat, seseorang berjalan bolak-balik di depan pabrik, layaknya orang linglung, ia menggosok-gosok kepalanya dengan kedua tangannya, membuat rambutnya acak-acakan. Nampak sekali ia gusar, dan kesal. Entah apa yang ada dipikirannya sampai-sampai ia pada fase seperti ini.


Orang itu adalah Michael. Hans awalnya bingung mengapa Michael seperti itu, tetapi kebingungannya itu segera menghilang. Ia tidak peduli pada Michael, apapun yang terjadi pada Michael, itu bukanlah urusan Hans. Saat ini tugasnya hanya mengawasi markas kelas C.


"Hmmm?"


Hans kemudian melihat, dari arah barat laut, berjarak 24 meter dari gedung pabrik yang menjadi markas kelas C, dua orang berlari ke arah pabrik itu dengan kecepatan tinggi. Dua orang. Satu laki-laki dan satu perempuan.


"Mereka anggota kelas A." Gumam Hans, saat melihat kedua orang yang berlari itu.


Orang yang dilihat oleh Hans, adalah Alexandria dan Dani. Mereka saat ini, ditugaskan oleh Mira untuk mengintai markas kelas C, sama seperti Hans, tujuan mereka adalah mencari informasi.


Alexandria dan Dani, berhenti di salah satu gedung, bersembunyi di baliknya, gedung itu berjarak 10 meter dari markas kelas C. Masih nampak Michael yang terus mondar-mandir dengan wajah gusarnya.


"Sepertinya aku akan melihat pertarungan anggota kelas C dan kelas A. Mungkin ini bisa menjadi kesempatan untuk menyerang balik kedua kelas ini." Pikir Hans.


Sayangnya... Pertarungan antara kelas A dan kelas C tidak pernah terjadi.

__ADS_1


***


Aku dan Raihan berlari, menapaki jalanan aspal yang sudah terbengkalai, berwarna hitam yang telah memudar, sehingga warna hitam itu kini menjadi warna abu-abu. Retakan besar dan kecil, semakin memperburuk pemandangan jalanan aspal yang kami berdua jelajahi ini. Langkah demi langkah kami buat dengan kecepatan tinggi. Terus berlari menuju dugaan titik pertemuan dengan kelas B.


Sekitar 50 meter kami terus berlari, di ujung pandangan kami, kami melihat titik kecil yang makin waktu berlalu, titik itu makin membesar, mengungkapkan wujud sebenarnya dari titik itu. Titik itu adalah manusia, sekumpulan manusia yang berjumlah kurang dari lima orang, lebih tepatnya berjumlah empat orang. Di barisan paling depan, ada Ema, yang memimpin kelompok orang yang terdiri dari empat orang itu termasuk dirinya.


Aku mengumpulkan energi sihir ku, sambil berlari, bersiap-siap menembakkan serangan pertama.


Tanpa kata-kata, tanpa peringatan, tanpa salam dan tanpa sapa. Aku menembakkan sihir ku saat jarak sudah dekat, sekitar lima belas meter, sihir yang kutembakkan berupa bola api sejumlah orang yang kulihat, empat buah, masing-masing bola api berdiameter satu meter.


"Magic Set. Fire ball!"


"Magic set. Water ball!"


Bola api dan bola air saling beradu. Kedua elemen yang bertolak belakang itu, saling bertengkar menentukan siapa pemenangnya. Nampaknya suhu dari kedua elemen yang saling bertolak belakang itu menyebabkan serangan kami menghasilkan hasil imbang. Sesaat kedua elemen itu bertemu, ledakan besar terjadi.


Ini dikarenakan air yang Ema tembakkan menjadi overheat membuat reaksi, hingga menyebabkan ledakan. Air yang meledak itu menyebar, layaknya sebuah gelembung yang pecah, untung saja volume air tidak terlalu besar sehingga sebaran air itu tidak terlalu jauh jangakuannya.


"Ema Knežević."

__ADS_1


"Mira Fantasia."


Sesaat kami bertukar serangan, barulah kata sapa keluar dari mulut kami.


"Aku tidak menduga akan bertemu dengan kamu secepat ini, Ema Knežević." Ucapku sembari tersenyum senang.


"Apakah kau memiliki urusan dengan ku?" Tanyanya, dengan wajah skeptis.


"Tentu saja. Aku memiliki urusan dengan mu." Jawab ku.


"Sayangnya aku tidak." Balas Ema, singkat.


"Kau yakin Ema Knežević? Mungkin setelah mendengar hal ini, kau akan sedikit tertarik dengan ku."


"...."


Ema terdiam. Tidak merespon. Aku melanjutkan perkataan ku.


"Posisi ku dikelas saat ini sama seperti mu.... Dari sini kau paham?"

__ADS_1


"..... Perubahan rencana... Aku akan mengurus gadis kecil itu." Ema terdiam sejenak, kemudian ia mendeklarasikan untuk meladeni ku, sambil menunjukku dengan wajah serius.


Umpan yang ku lemparkan digigit oleh Ema, membuat rencanaku berjalan sesuai prediksi ku.


__ADS_2