
Instruktur dari kelas A, Jhon Jiménez, pergi ke ruang medis, ia melakukan hal ini untuk melihat kondisi muridnya yang kalah pada turnamen sebelumnya.
Saat sampai diruang medis, Jhon terkejut bukan main, saat melihat gadis kecil yang dibawa paling belakangan sudah sadarkan diri, mengalahkan kawan lelakinya yang dibawa lebih awal keruang medis ini.
"Ka-Kau sudah sadar?" Tanya Jhon, dengan ekspresi aneh di wajahnya.
"Anda tidak perlu khawatir. Walaupun nampak parah, rupanya lukanya tidak parah sama sekali. Dengan teknologi nano-bot, kami berhasil menyembuhkan lukanya jauh lebih cepat." Jawab petugas medis terhadap keterkejutan instruktur kelas A.
"Untuk yang satunya, luka di otaknya cukup parah. Tapi karena sel mutasinya, ia dapat lebih cepat sembuh. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai ia betul-betul sadarkan diri." Tambah petugas medis, yang melihat tatapan instruktur kelas A, yang menatap kearah Raihan yang masih terbaring tidak sadarkan diri diatas kasurnya.
"Begitu ya... Terimakasih banyak karena telah merawat mereka." Ucap Jhon, kepada petugas medis.
"Bukan apa-apa. Sudah menjadi tugas kami untuk menyembuhkan mereka... Kalau begitu, kami pamit undur diri." Setelah mengatakan hal ini, petugas medis segera meninggalkan ruangan, memberikan kesempatan untuk instruktur dan muridnya untuk saling bertukar pikiran.
"Ternyata mereka bisa membaca suasana." Kata Mira, sembari menaikkan bantalan kasurnya, agar ia bisa duduk sembari bersender di atas kasurnya.
"Apakah kau sengaja kalah pada pertandingan sebelumnya?" Tanya Jhon dengan curiga kepada Mira, setelah melihat sifat santai dari gadis kecil itu.
"Kalau iya, memangnya kenapa?" Jawab Mira balik.
"Haaah... Pantas saja kepala sekolah tertarik padamu..." Gumam Jhon setelah menghela nafas panjang.
"Hmmm? Instruktur bilang apa barusan?" Karena Jhon bergumam dengan suara pelan, Mira tidak dapat mendengar perkataannya dengan jelas.
"Bukan apa-apa... Tidak usah dipikirkan."
"Ngomong-ngomong instruktur... Aku memiliki pertanyaan." Menurut Mira, Jhon tidak memiliki niat untuk menjawab pertanyaannya. Karena itu, ia segera mengalihkan topik, dengan langsung melontarkan pertanyaan ke Jhon.
"Pertanyaan? Aku akan berusaha untuk menjawab pertanyaan itu sesuai dengan pengetahuan ku. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah kau tahu pencetus sihir summoning? Menurut Reiko Kagami, orang itu berasal dari negeri matahari terbit yang dulu hancur."
"..... Bukankah kau bisa mencari hal itu melalui internet?"
"Jika ada di internet, aku tidak akan repot-repot menanyakan hal ini." Ucap Mira dengan ekspresi jengkel. "Setidaknya bergunalah sedikit..." Gumam Mira dengan suara nyaring, membuat Jhon dapat mendengar gumamannya.
__ADS_1
Tentu saja, Mira sengaja melakukan hal ini. Menurutnya, selama ini Jhon tidak melakukan kontribusi apapun sebagai instruktur. Bahkan segala informasi penting, Mira yang harus susah payah mencari itu semua tanpa dibantu oleh instrukturnya.
"Haaah... Baiklah, akan ku jawab. Pencetus dari sihir Summoning adalah Ryuto Kagami. Yah, dari marganya sudah jelas kalau dia adalah moyang dari Reiko Kagami."
"Tidak pernah dengar. Jika ada orang sehebat itu, harusnya ada catatan mengenai orang itu kan? Bahkan saat aku mencari informasi mengenai sihir summoning, tidak ada sedikitpun namanya disebutkan."
"Hmm.... Masyarakat luas mungkin lebih mengenalnya dengan nama samarannya... Kalau tidak salah, nama samarannya, Kaito Satou?"
"Hah... Kaito Satou? Serius...?"
"Ya. Salah seorang yang mencetuskan teknologi Warp."
Mira terkejut mendengar hal ini, ia segera masuk ke dalam pikirannya, tangannya segera menyentuh dagunya. Memutar otaknya, dengan keras.
"Teknologi Warp... Tunggu kalau tidak salah Reiko mengatakan kalau sihir Summoning melibatkan partikel Graviton dan Partikel Higgs... Aha... Jadi begitu ya..."
Dengan informasi ini, Mira segera mengetahui bagaimana prinsip dari sihir Summoning milik Reiko Kagami. Prinsip sihir Summoningnya sama dengan teknologi Warp yang ada di zaman ini, menggunakan teori yang sama dengan pengembangan teknologi Warp, yaitu teori Einstein-Rosen Bridge sebagai konsep dari sihirnya.
***
Dari perkataan Reiko, sihirnya menggabungkan Partikel Graviton, Partikel Higgs, proses Apoptosin, proses regenerasi sel, juga gelombang suara tertentu untuk membuat sihir Summoning miliknya. Dari informasi ini juga dari informasi yang diberikan oleh instruktur Jhon kalau pencetus sihir Summoning juga ikut terlibat dalam pembuatan teknologi Warp, akupun dapat menebak bagaimana prinsip dari sihir Reiko.
Pertama Partikel Graviton, hal ini berguna untuk mengendalikan gravitasi, dengan partikel ini seseorang mampu membuat gravitasi disekitarnya dapat ditambah dayanya ataupun dikurangi, dengan menggunakan hitungan tertentu seseorang yang bisa mengendalikan partikel ini dapat membuat blackhole mini ditangannya, tetapi tentu saja hal ini berbahaya juga tidak adanya energi yang cukup untuk membuat hal ini, sehingga sangat sulit untuk membuat mini blackhole tanpa menggunakan energi nuklir yang besar.
Seperti yang kujelaskan, dengan perhitungan tertentu, seseorang mampu mrmbuat mini blackhole dengan partikel ini, jika rumus perhitungan itu dirubah, maka untuk membuat lawan dari blackhole tentu saja memungkinkan. Yaitu Whitehole.
Jadi pada dasarnya, hewan panggilan milik Reiko sudah ada disuatu tempat kemudian hewan itu ditarik dengan blackhole yang sudah terhubung dengan whitehole milik Reiko, layaknya sebuah terowongan.
Tetapi hal ini tidak sesederhana kedengarannya, ditengah terowongan yang menghubungkan blackhole dan whitehole itu terdapat gravitasi yang kuat, membuat seakan-akan jalur terowongan itu tertutup. Jika tidak memiliki energi negatif yang cukup, maka tidak akan ada objek yang bisa melewatinya. Karena itu teknologi warp menggunakan daya nuklir yang besar.
Disinilah guna partikel higgs dan proses apoptosin masuk untuk mengatasi masalah ini.
Dengan partikel higgs yang merupakan partikel dasar dari massa suatu benda, Reiko dapat menyusutkan massa hewan panggilannya hingga muat memasuki terowongan yang ia ciptakan dari kedua lubang itu. Lalu proses apoptosin masuk, proses apoptosin yaitu suatu proses dimana sel saling menghancurkan satu sama lain. Proses apoptosin ini menghancurkan sel-sel hewan panggilan dari Reiko hingga sesuai dengan massa bendanya.
Setelah melewati terowongan dengan medan gravitasi yang kuat itu dengan selamat. proses regenerasi sel pun masuk, gunanya, untuk memulihkan sel-sel yang telah hancur itu hingga hewan panggilannya dapat keluar melalui whitehole dengan selamat.
__ADS_1
Karena itulah sewaktu Reiko mengaktifkan mantranya muncul sebuah objek bulat bewarna putih di depannya, rupanya itu adalah mini Whitehole ciptaannya. Ini juga menjelaskan mengapa hewan yang ia panggil nampak lemas setelah keluar dari whitehole itu. Hal ini tentu saja karena sel dalam tubuh hewan itu masih belum pulih sepenuhnya.
Kemudian.... Untuk frekuensi suara tertentu...
Jika dugaan ku benar, gelang yang Reiko kenakan berguna sebagai stabilizer agar Reiko dapat memproses segala sesuatu yang rumit ini diotaknya, sekaligus merubah frekuensi suaranya agar hewan yang ia panggil dapat mengerti maksud dari perkataanya.
Setahuku hewan memiliki penangkapan gelombang suara tertentu untuk berkomukasi satu sama lain. Dengan begini, perkataan Reiko akan di terjemahkan di otak hewan panggilannya sebagai gelombang suara tertentu yang dapat dimengerti oleh hewan panggilannya... Inilah yang menjelaskan mengapa hewan panggilan begitu patuh kepada pemiliknya.
Haaah... Setelah mengetahui semua ini, aku merasa sangat puas.
"Mira... Dari tadi apa yang kau pikirkan?" Tanya Instruktur Jhon yang melihatku berwajah rumit saat memikirkan proses sihir summoning Reiko.
"Pak Jhon, aku mengerti bagaimana konsep sihir summoning milik Reiko."
"O-Oh... Baguslah kalau begitu, lalu apakah kau memiliki cara untuk mengatasinya?"
"Tentu saja ada... Tapi itu terlalu berbahaya, lagipula hal itu sudah tidak diperlukan. Aku hanya perlu memikirkan bagaimana cara melawan hewan panggilannya, dan dari pertandingan ku sebelumnya, aku tahu bagaimana cara melawan semua hewan panggilan milik Reiko."
"Baiklah saudara-saudara sekalian, waktu istirahat telah selesai."
Aku dapat mendengar suara pembawa acara, dari suatu tempat, melirik kepojok ruangan, aku melihat sebuah salon yang tergantung dipojokkan ruangan, dari sini aku dapat mengetahui kalau salon itulah yang mentransmisikan suara dari pembawa acara.
"Nampaknya pertandingan akan segera dimulai." Ucap Instruktur Jhon.
"Pertandingan selanjutnya, akan mempertemukan perwakilan dari kelas B, Ema Knežević dengan perwakilan dari kelas C..."
"Kau tidak ingin keluar, melihat pertandingan ini?" Tanya instruktur Jhon saat mendengarkan pengumuman dari pembawa acara.
"Tidak perlu... Lagipula aku sudah tahu siapa yang akan menang."
Jawab ku, menurunkan sandaran dari kasurku, aku segera berbaring saat sandaran itu sudah kembali ke tingginya semula.
"Aku ingin istirahat. Memakai otakku untuk berbagai macam hal sungguh sangat melelahkan. Aku dari tadi terus memutar otakku sampai kepala ku merasakan migrain, tidak seperti seseorang yang mengaku sebagai instruktur, tapi aku tidak tahu apa yang ia kerjakan saat kami bertanding." Ucapku, sembari menyinggung instruktur kami yang tidak berguna.
"Haaah... Perkataan mu sungguh menyakitkan. Keliatannya kau dan Raihan baik-baik saja. Kalau begitu aku pergi dari sini, lagipula aku masih memiliki tugas."
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu, Instruktur Jhon pergi dari ruangan, meninggalkan aku dengan Raihan di ruang medis. Aku segera memejamkan mataku, mengisi tenagaku dengan tidur.